
Lalu kami bertiga keluar dari kantor dan menuju restoran yang tidak jauh dari kantor mas Fahar.
Uak Jarvis duduk terpisah meja dari kami berdua, kemudian memesan makanan dan minuman.
Karena tidak mau menyinggung perasaan mbak Renta, perihal perkelahiannya dengan Fika tidak kutanya.
Pesanan datang lalu kami makan siang dengan lahap, karena memang sudah lapar.
"Fika dulu teman sekelas Ku waktu SMA dan juga kami sama-sama masuk kuliah negeri yang sama.
Sejak dulu, Fika sangat suka mencari gara-gara dengan siapapun.
Masih ingat Damian kan? pria yang bersama Alex, yang mengaku sebagai saudara tiri pak Fahar.
Aku hanya mengangguk untuk menanggapi Renta, dan dia pun menatapku dengan tatapan yang penuh amarah.
"aku dan Damian sudah pacaran sejak awal perkuliahan, lalu Damian berselingkuh dengan Fika.
Mereka bermain di belakang Ku, dan pada akhirnya aku memorgoki mereka berduaan di sebuah hotel atas informasi dari teman-teman Ku."
Renta tertawa karena melihat ekspresi Ku, karena heran aja. saat itu Renta cerita kalau mantan pacar itu pacaran dengan Alex, saudara tiri mas Fahar.
Sementara Alex adalah penyuka sesama jenis, jadi agak aneh aja cerita dari Renta ini.
"iya Bu, renta tau apa yang ibu pikirkan saat ini. Damian itu biseksual, dan dia sendiri mengatakan itu.
(Biseksualitas berasal dari kata ‘bi’ yang artinya ‘dua’ di mana hal ini merupakan ketertarikan pada lebih dari satu jenis kelamin.)
saya jijik berada diantara mereka berdua, lebih baik jomblo seumur hidup daripada menjadi orang ketiga yang dicintai oleh kaum Luth.
itu sangat menjijikkan dan benar-benar diluar nalar Ku."
"apakah Fika mengetahui Nya?"
"jelas bu, itu juga penyebab Fika dan Damian putus. tapi antara Fika dan Damian itu hampir sama.
Kalau Damian penyuka dua jenis, sementara Fika penyuka pasangan orang lain.
Ibu harus kuat, karena Fika akan terus berjuang untuk mendapatkan pak Fahar."
"apa mas Fahar tidak tahu tentang sifat dari Fika?"
"entahlah bu, Renta tidak tahu menahu tentang itu. karena itulah tadi Renta berteriak untuk membuka aibnya, agar pak Fahar tahu sifat dia yang sebenarnya."
__ADS_1
Bingung untuk menanggapi perkataan dari Renta, apakah ini kabar baik untuk ku atau kabar buruk.
Mas Fahar mengetahui atau tidak mengetahui Nya, itu tidak akan berpengaruh terhadap Ku. karena aku hanya pabrik anak untuk mas Fahar.
"maaf bu, maaf karena Renta sudah membuat ibu tersinggung."
Ucap Renta karena melihat ku menghela napas panjang dan kemudian menunduk, saat ini hanya bisa tersenyum kepadanya untuk membuat nya tidak merasa bersalah.
"ngak ada salah mbak Renta, ngak perlu minta maaf.
mbak Renta....
jangan terlalu keras terhadap Fika, karena dia itu adalah tunangan mas Fahar. takutnya nanti mbak Renta di pecat dari kantor.
Karena setelah anak ini lahir, maka mereka akan menikah. jika anak ini perempuan, maka mas Fahar akan menceraikan Ku.
Tapi jika laki-laki maka mas Fahar akan mempertahankan Marisa, selama saya masih sanggup untuk berbagi suami.
Fika tidak mau punya anak, karena takut tubuhnya akan melar dan tidak sempurna lagi. tugas ku adalah melahirkan anak untuk mas Fahar.
Jika saya mintak cerai, maka mas Fahar akan memberikan kompensasi yang sangat fantastis, seperti kata Fika. kompensasi itu bisa membuat kaya mendadak tanpa harus bekerja."
"tragis sekali bu, kenapa ibu tidak memberontak?"
Perjanjian pranikah itu akan berakhir jika anak ini lahir, dan jika berlanjut maka akan di buat kembali perjanjian."
Kali ini Renta yang menarik napas panjang, dan seketika air matanya mengalir.
"Marisa juga punya cita-cita mbak, ingin di luar negeri.
Bersama teman-teman seangkatan di sekolah, kami berburu beasiswa ke Jepang dan Korea.
Beasiswa ke Jepang sudah Marisa dapatkan, tapi itu gugur karena tidak bisa mengikuti ujian Nasional.
Mudah-mudahan ada sedikit cahaya untuk Ku, dan berharap anak yang aku kandung ini adalah perempuan.
Supaya aku bisa pergi dari sisi mas Fahar, karena saya tidak bisa membedakan cinta atau belas kasihan dari mas Fahar.
Marisa benar-benar bingung membedakan keduanya, seperti diambang batas yang tidak tahu di mana tepi nya.
Itulah kenapa Marisa mengatakan kalau mbak Renta harus bersyukur, karena lebih mengetahui siapa itu Damian."
"maaf bu bukan nya lancang, jika anak ibu ini lahir sebagai perempuan. kemana ibu akan pergi?"
__ADS_1
"kemana aja mbak Renta, aku akan terus melangkah sampai kaki pegal dan lelah. jika sudah lelah maka akan berhenti.
Memulai hal baru dan kelak anak ini yang akan menjadi temanku untuk mengarungi hidup ini bersama."
"ibu ada tabungan?"
"ada mbak, mas Fahar sudah memberikan panjar dua ratus juta setelah memperkosa Marisa.
jika anak lahir sebagai perempuan, maka mas Fahar juga akan memberikan Ku uang untuk bertahan hidup."
"ibu akan menerimanya?"
Benar-benar tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari Renta, sungguh ini benar-benar melukai hatiku dan harga diriku.
Seolah-olah saya menjual tubuhku kepada mas Fahar, untuk mendapatkan sejumlah uang yang banyak.
"masa depan ku sudah hancur mbak, tidak lulus SMK dan hamil seperti ini. apa yang bisa aku perbuat.
Menjadi bahan hinaan, dan juga menjadi beban bagi Ku.
Saya ngak tahu sampai kapan bisa bertahan seperti ini, nanti aja dilihat. sampai dimana aku bisa bertahan mbak."
Renta hanya memelukku tanpa berkata-kata apapun, dia juga ikut menangis.
"ya sudah mbak, tidak perlu di tangisi. hanya perlu untuk menunggu dan menunggu.
Maaf mbak Renta, aku harus pamit pulang. nanti sampaikan aja sama mas Fahar kalau Marisa sudah pulang ke rumah."
"loh, bukannya kita mau ke toko baju anak-anak?"
"ngak perlu mbak, itu tadi hanya alasan untuk menghindari Fika. kalau untuk bersedekah bisa di transfer kok.
Ataupun nanti kami singgah ke pantai asuhan itu, untuk memberikan santunan seperti yang di inginkan oleh almarhumah mama."
Kami berpisah di kafe ini, dan uak Jarvis mengikuti ku dari belakang.
Tidak lupa untuk mengirim pesan kepada mas Fahar, untuk memberitahu nya kalau aku sudah pulang bersama uak Jarvis.
Aku tetap duduk disebelah uak Jarvis, karena bekas tempat duduk Fika tercium aroma parfum yang sangat menyengat dan membuat ku mual.
Setelah singgah ke pantai asuhan, untuk memberikan santunan kepada panti asuhan itu dengan uang cash yang aku terima dari kantor mas Fahar.
Lanjut pulang ke rumah dan terdiam sepanjang perjalanan, dan akhirnya sampai juga di rumah.
__ADS_1