AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Kisah Ku yang Baru.


__ADS_3

Aku hanya bisa memelukNya, untuk memberikan kekuatan yang baru. kemudian menghapus air matanya.


"kalau rumah itu sudah terjual, baru bisa ibu bayar."


"ngak usah di pikirkan, Anisa masih punya tabungan kok bu.


Ibu tenang ya, ngak perlu kwatir dan tidak perlu buru-buru."


Kemudian kami duduk di ruang tunggu tersebut, kini ibu Margona sudah terlihat jauh lebih tenang.


"kalau boleh tahu, apa pekerjaan mu nak?"


Dengan hati-hati ibu Margona bertanya kepadaKu.


"Anisa itu membuat komik bu, dan itu dibayar sangat mahal.


Komik itu seperti cerita bergambar, dan itu Anisa jual dan mendapatkan uang dari situ."


"oh....


hebat kamu ya nak, oh ya pasti nak Anisa kecapean untuk mengurus semuanya.


Kebetulan ibu tidak ada kerjaan, menantu ibu hanya jual sarapan setiap pagi.


Bisa kah ibu kerja untuk nak Anisa? ibu masih kuat untuk bersih-bersih, mencuci, menyetrika dan masakan ibu enak loh."


"Anisa mau sih bu, tapi apa Nining mengijinkan ibu kerja untuk Anisa?"


"pasti lah nak, sebab sebelumnya ibu juga kerja di rumah neng Lyla. tapi dia sudah dipindahkan ke kota besar, jadi ibu akhirnya nganggur deh."


Capek juga sebenarnya akhirnya aku memperkerjakan ibu Margona di rumah, upah seperti yang diberikan oleh Lyla.


Setengah untuk mencicil hutang nya dan setengah lagi untuk ibu Margona.


Sebenarnya ngak tega untuk melakukan hal itu, tapi ibu Margona tetap memaksa.


Mudah-mudahan saja karyaku yang selanjutnya bisa diadopsi serial film, agar bisa memberikan bonus untuk ibu Margona.


Ibu Margona menyuruhku untuk pulang, dan aku menitipkan uang dua juta untuk Nya.


Untuk sekedar jaga-jaga jika ada kebutuhan, ibu Margona berulang kali menolaknya. setelah aku bilang sebagai gaji pertamanya barulah ibu Margona mau menerimanya.**

__ADS_1


Sesampai di rumah langsung mandi setelah selesai mandi, istri dari tetangga rumah mengetuk pintu Ku dan ternyata memberikan ku makanan yang enak, karena wanita hamil tidak boleh kelaparan.


Katanya karena aku belum masak, iya itu benar. karena subuh tadi aku ke rumah sakit untuk menemani bu Margona.


Enak dan lezat, kenyang dan lanjut menggambar. tidak berapa lama kemudian ada notifikasi pesan dari Handphone.


Ternyata itu adalah informasi uang masuk di rekening bank Ku, dan itu adalah hasil dari adopsi karya ke serial film.


Jumlahnya benar-benar fantastis, dan segera bersiap ke bank untuk memprint buku tabungan.


Ternyata itu nyata semua, setelah selesai mengeceknya di bank, lalu lanjut ke toko pakaian anak-anak yang tidak jauh dari bank ini.


Segala keperluan untuk calon anak ku ini, dan juga hadiah untuk Nining. tidak lupa juga untuk membeli sesuatu untuk anak tetangga yang lucu itu.


Pihak toko membantu Ku untuk mengantar belanjaan ku ke rumah, dan aku menumpang di mobil pickup tersebut.


Sampai di rumah lalu beres-beres dan menata barang-barang tersebut, kemudian keluar rumah untuk memberi hadiah anak perempuan tetangga Ku yang lucu yang bernama Nuri.


Lalu lanjut untuk berkarya di layar komputer ini, sepertinya aku sudah menggambar selama tiga jam.


Tiba-tiba pintu diketuk dan suara kecil nan imut memanggil aunty Anisa.


Ternyata Nuri gadis kecil yang cantik itu membawakan lauk pauk didalam rantang, katanya sebagai ucapan terimakasih karena sudah aku belikan hadiah untuk nya berupa sepatu dan juga tiga pasang pakaian.


Bangun seperti biasanya dan beraktivitas, setelah semua selesai dan aku duduk di kursi kerja ku ini.


Ternyata aku masih memakai cincin di jari manis ku, cincin pemberian mas Fahar waktu itu.


Aku memperhatikan secara seksama, kali aja ada alat pelacak yang tertempel. ternyata tidak ada, cincin itu sudah tidak berbentuk bulat lagi karena aku pukul sekuat tenaga menggunakan tang dan juga palu.


Rendam ke air dan setelah itu memasukkannya ke dalam kotak kecil, dan aku simpan jauh dari jangkauan Ku.


Lalu lanjut untuk menggambar karakter animasi, untuk melanjutkan karya-karya yang sudah di tunggu oleh penggemar setia karyaku.


Ternyata tidak terasa sudah pukul dua belas siang dan saatnya makan siang, setelah makan siang lalu kebelakang untuk sekedar melihat tanaman yang baru aku tanam.


Lagi-lagi aku teringat dengan masa-masa itu, dimana air mata yang selalu membanjiri pipiku.


Handphone, laptop dan jam tangan telah aku jual yang tidak jauh dari persimpangan sekolah ku yang dulu.


Akun di platform yang menerima karya langsung aku update menggunakan data-data ku yang baru.

__ADS_1


Semua aku lakukan untuk menghilangkan jejak Ku, agar tidak terhubung lagi dengan kehidupan pahit yang sudah aku jalani.


Seandainya dulu almarhumah mama bersedia untuk pergi dari rumah konglomerat itu, sudah pasti aku bahagia bersama mama untuk menikmati fee dari platform karya Ku.


Seandainya mama masih hidup dan kami tinggal disini, pasti aku akan jauh lebih bahagia.


hadehhh.....


Ternyata berandai-andai itu mengakibatkan, dan aku putuskan untuk kembali ke ruang kerja Ku.


Begitu duduk aku langsung teringat dengan ibu Margona yang saat ini masih di rumah sakit.


Telpon dariKu langsung dijawab oleh ibu Margona, suaranya terdengar sudah jauh lebih bahagia.


Ternyata menantunya sudah pulih dan besok sudah bisa kembali ke rumah, cucu nya juga sudah dikeluarkan dari inkubator.


Perkembangan kesehatan cucunya sangat luar biasa, di tambah lagi menantu Bu Margona sudah bisa memberikan ASI kepada anaknya.


Berkali-kali ibu Morgana bersyukur dan juga berterimakasih kepada Ku, suara dari bu Margona langsung mengingatkan Ku kepada almarhumah mama.


Menangis bahagia karena aku dapat merasakan kebahagiaan ibu Margona yang luar biasa itu.


Menantu dan cucunya sudah bisa kembali ke rumah nya besok siang.


Sambungan telpon berakhir dan aku lanjut untuk menggambar lagi.


Tanpa terasa sudah hampir pukul empat dan saatnya ke pelatihan ibu-ibu hamil di klinik bidan Salma.


Ternyata hanya ibu-ibu yang ada dan juga bidan Salma serta beberapa perawat perempuan.


Sehingga tidak canggung, maklum lah. saya hamil tanpa didampingi oleh seorang suami.


Satu jam berlalu dan aktivitas senam ibu-ibu hamil selesai, secara pribadi bidan Salma menemui Ku dan kami duduk di lantai senam.


"maaf kalau kiranya saya ikut campur ibu, saya sudah mendengar kisah ibu Anisa dari bu RT.


Kalau ada apa-apa terhadap ibu, langsung telpon saja saya ya.


Tengah malam sekalipun itu, dan saya siap melayani Nya karena itu sudah menjadi sumpahku."


Ucap bidan Salma, ternyata bidan Salma hampir senasib dengan Ku. dulunya bidan Salma ditinggalkan suaminya dalam keadaan hamil.

__ADS_1


Bidan Salma mengatakan demikian sebagai sesama perempuan dan juga sumpahnya sebagai bidan.


__ADS_2