AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Rencana mas Fahar.


__ADS_3

Seketika para karyawan yang berada di ruangan tersebut langsung berdiri menyambut kami bertiga.


Seorang pria yang masih tergolong muda dan berpakaian seperti anak muda umumnya datang menghampiriku.


"mbak Marisa?"


Tanya pria itu kepada Ku dan aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dariNya.


"dugaan saya benar, dibalik karakter animasi yang menggemaskan itu pastilah wanita cantik nan anggun. Persis seperti karakter animasi yang disukai oleh banyak orang."


"uhmm...


biasa aja pak Arman, ingat ya. wanita cantik yang bapak puji ini adalah istri pemilik perusahaan ini, jadi jaga matanya agar jangan jelalatan."


Ucap Renta dengan agak sinis, lalu Pria yang berpakaian ala anak muda langsung mundur secara perlahan.


Sean langsung tersenyum melihat tingkah pria yang berlagak anak Muda itu, lalu kami duduk di meja tepat di tengah ruangan.


"inilah mbak Marisa, Istri dari mas Fahar. dan mbak Marisa ini adalah orang yang ada di balik animasi yang sudah kita persentase kan.


Mbak Marisa ini juga yang membuat ke empat karya yang telah di klaim oleh platform lain, saya mohon kerjasamanya untuk merebut kembali ke empat karya itu menjadi milik kita atas nama Marisa."


tutur Sean dengan lantangnya, dan salah satu perempuan yang berpakaian modis angkat tangan dari ujung sebelah kanan.


"maaf pak Sean, kita sudah melaporkan melalui kuasa hukum perusahaan ini. tapi....


"emangnya apa yang terjadi Indri?"


Sean kembali bertanya kepada wanita cantik itu, tapi Renta yang tiba-tiba menatap Sean.


"ikut campur dari nyonya besar pak Sean, Nyonya masih kaki tangan di group usaha ini."


"benar kata Renta pak Sean, kami tim pengembangan IT desain sudah menyelediki Nya dan inilah daftar orang-orang yang terlibat dan menjadi kaki tangan sang nyonya."


Ujar pak Arman yang berpakaian ala anak muda itu, dan mas Fahar yang tiba di ruangan ini langsung menyambar file dari tangan pak Arman.


"kenapa baru sekarang?"


Pertanyaan dari mas Fahar membuat pak Arman menunduk.

__ADS_1


"anu pak, kami semua yang ada disini takut menghadapi nyonya besar dan komplotannya. dulu waktu almarhum pak Wijaya memimpin, kami leluasa berkarya dan menerima karya dari pihak lain.


Semua terbuka dan berkesempatan untuk berkarya, asalkan tidak menggangu hak lain dan tidak merugikan perusahaan.


Tapi semenjak nyonya besar hadir di perusahaan ini, semua berubah menjadi lebih buruk dan mimpi buruk bagi kami.


Kami semua berharap pak Fahar sebagai pengganti Nya mampu menyelesaikan ini semua termasuk nyonya dari perusahaan ini.


Kami sudah menyelediki Nya dan inilah semua daftar orang-orang yang terlibat, mereka semua adalah petinggi dari perusahaan ini pak.


Kami tidak berdaya pak, kami hanya berusaha membantu bapak untuk bersama-sama memulihkan kembali perusahaan ini sebagaimana dulu saat di pimpin oleh almarhum.


Kalau bisa lebih maju lagi dengan adanya bapak Fahar sebagai pimpinan kami, saya baru bisa bicara seperti ini ketika pak Fahar sudah mengusir nyonya dari perusahaan dan sebagai buktinya akan keterlibatan yang lainnya.


Saya dan tim melakukan penyelidikan, sebagai pelengkap untuk pak Fahar bertindak, Indri...."


Ungkap pak Arman dengan begitu jelas dan Indri membawa satu kardus dan dua rekannya yang membawa kardus juga. ternyata berisi dokumen seperti yang diberikan oleh Renta di ruangan mas Fahar.


"inilah semua bukti yang telah kami kumpulkan pak, kami semua yang ada disini siap bersaksi jika diperlukan."


"benar kata Indri pak, kami semua disini sudah membuat persetujuan bersama kalau kami dalam tim ini mendukung bapak bertindak demi kelangsungan perusahaan ini, semua kami yang ada disini, menggantungkan nasib disini dan dari sinilah sumber nafkah keluarga kami."


Pak Arman membernarkan perkataan Indri dan rekan yang bersama Indri, memberikan bukti dukungan mereka berupaya tandatangan dan identitas para karyawan yang ada dalam ruangan ini.


Tatapan mas Fahar kepada pak Arman dan Indri begitu tajam, tapi kedua orang itu berdiri tegak tanpa goyah dengan tatapan mas Fahar.


"seperti yang pak Arman sampai barusan, kami mengantungkan nasib kami disini pak.


Dari sini juga nafkah keluarga kami berasal, sistem manajemen almarhum begitu luar biasa yang memotivasi kami untuk berkarya dan menghasilkan pundi-pundi uang untuk menafkahi keluarga kami masing-masing.


Bersama-sama kami saling bahu-membahu untuk tujuan bersama yang kami harapkan hasilnya luar biasa.


Kami terpuruk setelah dipimpin oleh nyonya, ibunda pak Fahar sendiri. tapi kami tetap bertahan menunggu pak Fahar menyelesaikan ini semua.


kami yang ada disini berharap besar kepada bapak, karena kami memperoleh nafkah dari sini dan orang-orang di luar sana yang mempunyai harapan akan karya nya yang datang kemari pak.


Kami tidak salah berharap kan pak?"


Mas Fahar menghela napas panjang, setelah mendengar jawaban dari Indri, kini tatapan sudah berubah.

__ADS_1


"baiklah, kita sama-sama berjuang untuk mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik kita.


Saya mau tanya satu hal, dari mana kalian mengetahui kecurangan ini?"


Salah satu rekan Indri yang membantu nya mengangkat dokumen, kini berdiri tepat dihadapan mas Fahar.


"karya the Marisa, moon, dark dan shane. diberikan almarhum pak Wijaya kepada saya sebagai penanggung jawab editor dari pihak luar pak.


Begitu ke empat karya itu naik, langsung diserbu oleh penggemar dan grafik serta penghasilannya sangat luar biasa.


tapi ternyata itu adalah akhir bagi ku menerima karya dari pihak lain atas rekomendasi almarhum.


Hari terus berlalu dan nyonya besar hadir di perusahaan ini, tiba-tiba saja ke empat maha karya itu menghilang dari list rekomendasi.


Ternyata itu adalah kongkalikong dari rekan kami, tapi dia juga tewas seperti tewas nya Bu Vera sekretaris almarhum pak Wijaya.


Semuanya begitu singkat pak, tidak ada yang menduga dan kaki kanan nyonya besar semakin bergeliat di kantor ini."


"apa Istriku menerima konpensasi atas karya Nya?"


Mas bertanya lagi kepada rekan Indri itu, lalu menoleh Ku.


"uang raib seketika, seperti ke empat karya itu menghilang pak.


memang almarhum dan pak Arman sudah menandatangani kontrak Nya, tapi itu di koyak oleh nyonya besar."


Wajah pria itu lemas setelah menjelaskan nya panjang kali lebar dan mas Fahar lagi-lagi menghela napas panjang Nya.


"Renta....


Kumpul semua karyawan yang ada di dalam list ini, saudari Indri dan ke-dua rekan saudari. tolong bantu Renta."


"siap."


Mereka dengan serentak menjawab Nya, lalu langsung bergegas keluar ruangan ini.


"pak Arman, tolong hubungi bagian HRD dan berikan salinan perjanjian karyawan dengan perusahaan dan nanti bawa ke ruang rapat.


pak Arman sudah bertindak sejauh ini, bapak tahu kan apa yang harus Bapak lakukan?"

__ADS_1


"siap, saya pak Fahar."


Ucapnya lalu bergegas mengumpulkan rekan-rekannya, sementara mas Fahar mengajakku keluar ruangan bersama Sean asisten Nya.


__ADS_2