
POV nyonya Rina.
Masih duduk termenung dan tiba-tiba saja teringat akan tentang benda yang diambilnya dari kantung celana suaminya.
Lalu mengambilnya dari tas kecilnya dan kemudian membuka secarik kertas tersebut.
'terimakasih saya ucapkan kepada tante Rina, karena pernah menolong Alex dan kak Lisa kala itu.
Tante Rina, maaf karena telah mengecewakan tante.
disini Alex akan membeberkan rahasia dari om Damar, sebenarnya dalang dibalik proyek penjualan tanah yang berhektar-hektar itu adalah om Damar bersama pak Burhan.
Semua bukti-bukti nya ada dalam flashdisk, dan bukti-bukti ini juga sudah Alex serahkan ke mas Fahar.
jujur, Alex begitu dendam kepada om Damar. dialah orang yang bertanggung jawab yang menyebabkan Alex menjadi penyuka sesama jenis.
Serta yang menyebabkan kak Lisa menjadi perempuan murahan, kak Lisa mengidap HIV. sementara Alex sudah habis harapan.
harapan dan masa depan Alex sudah gelap dan suram, dan itu tidak akan bisa di rubah sampai kapan pun.
Om Damar berulangkali melecehkan Alex dan juga kak Lisa waktu kecil hingga kami dewasa, semua kehancuran keluarga kami oleh hanya karena om Damar.
om Damar itu iblis yang mengambil rupa manusia, dia selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan uang.
Asal tante ketahui bahwa om Damar sudah pernah menikah dengan perempuan lain dan mempunyai anak laki-laki.
Mantan istri dan anak laki-laki yang kembar sudah dibakar oleh kak Lisa di rumahnya, itu karena dendam nya kepada om Damar.
di dalam flashdisk juga ada beberapa bukti yang bisa menjerumuskan pak Burhan yang menjadi deking nya selama ini.
Jika tante sudah membaca surat ini, itu artinya Alex dan kak Lisa sudah tiada.
Selamat tinggal tante, dan semoga tante bisa memperbaiki hubungan tante dengan mas Fahar.
ingat tante, kasih sayang ibu itu jauh lebih berharga dari apapun di dunia.
Selamat tinggal tante.
Alex....'
Seketika air mata sang nyonya mengalir dan kemudian mengambil flashdisk tersebut dan mencolokkan nya ke port laptop yang ada dihadapannya.
Terkejut bukan kepalang, sang nyonya Rina sampai menutup mulutnya agar suara Isak tangisannya tidak keluar dari mulutnya.
"Fahar, maafkan mami nak. mami sudah begitu kejam kepada mu dan juga Papi mu.
Mami salah dan sangat salah, mami akan segera mengakhiri semua ini.
toh juga mami tidak akan bisa hidup tenang karena si Burhan dan antek-anteknya.
Fahar....
__ADS_1
inilah yang bisa mami lakukan untuk Mu nak, semoga kamu bisa berbahagia."
sang nyonya Rina berbicara sendiri dikala tangisannya, dan menulis sesuatu di secarik kertas.
Kemudian sang nyonya menghubungi berusaha menghubungi seseorang.
'halo reyna sayang, apa kabar kamu.'
Sapa sang nyonya Rina dengan lembut melalui handphone gemgam miliknya.
'saya akan ingin kamu mengupdate berita mu ini, berita ini akan menjadi perbincangan mu nanti nya. dan itu sudah aku krim ke email mu ya. itu data valid dan dipertanggung jawabkan.'
Seketika suasana hening dan terdengar dari seberang telepon suara krasak krusuk.
'jika saya update ini, artinya ini akan bumerang bagimu juga.'
'tidak masalah Reyna, semua demi anakku dan juga almahum Papinya yang aku khianati dan aku sia-siakan.
Aku berharap kamu melakukan Nya, saya mohon reyna.'
'baik Rina, saya akan melakukan sekarang juga dan ini demi persahabatan kita berdua dan juga demi anak mu.'
Panggilan telpon berakhir dan kemudian sang nyonya Rina mengirimkan file-file dalam flashdisk tersebut ke nomor WhatsApp Fahar.
Lalu mengirim file-file tersebut ke nomor WhatsApp penyidiknya.
Lalu sang nyonya menonaktifkan handphonenya kemudian mencabut kartu SIM card nya dari handphone tersebut.
Tersenyum setelah keinginannya terpenuhi, lalu menoleh ke arah lemari pakaian.
Kemudian sang nyonya mengambil selendang dari lemarinya, lalu mengunci pintu kamar dari dalam lalu meraih kursi.
Selendang tersebut di gantung kan ke atas dimana ada hiasan langit-langit kamarnya.
Setelah memastikan selendang itu kuat, kemudian meletakkan lehernya ke diantara ikatan selendang tersebut.
"maafkan mami nak Fahar, maafkan saya mas Wijaya.
sudah terlalu banyak dosa yang aku perbuat terhadap mu dan juga anak kita, bahkan aku sudah memisahkan anak kita dari istrinya sendiri.
Maafkan mami nak, maafkan Rina mas Wijaya, maafkan saya ibu mertua mu Marisa. saya berharap kamu bisa menemukan kebahagiaan Mu kelak nanti."
prak.....
Kursi terjatuh karena ditendang oleh sang nyonya Rina setelah mengatakan demikian.
kini sang nyonya Rina menggeliat di selendang yang tergantung itu.
Kamar sang nyonya Rina yang berjarak beberapa meter dari kamar asisten rumah tangga yang menyebabkan suara jatuhnya kursi tidak terdengar.
Perlahan tapi pasti napas itu habis dan akhirnya nyawa sang nyonya Rina melayang.
__ADS_1
Fakta akan kebenaran membuat sang nyonya Rina mengakhiri hidupnya, tangisan darah yang tiada berakhir membuat penyesalan itu tiada berarti.
Cinta tulus dari almarhum suaminya yang dikhianati olehnya dan anak yang disia-siakan, kemudian tersadar setelah melihat fakta yang sebenarnya.
Bukti fakta dari Alex yang menghabisi nyawa suami muda, yang membuat sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah salah dan itu melebihi hewan buas sekalipun.
Mengakhiri hidupnya di dunia karena kegagalan sebagai istri dan juga sebagai ibu.
Memilih jalan pintas demi kepuasan semata dan mengakhiri hidupnya karena tidak mampu menerima kenyataan.
Sang nyonya Rina yang sudah tidak bernyawa kini masih tergantung di atas langit-langit kamarnya.
Asisten rumah tangga nya tidak menyadari hal itu, kemungkinan masih berada di kamarnya karena syok akan kejadian tadi pagi.
Dimana Alex, Lisa dan beberapa orang lainnya menghajar Damar lalu menggantungnya di langit-langit ruang tamu.
Bi Mimin yang di seret ke arah dapur, disekap lalu di ikat.
Kemudian kelelahan setelah mengurus jenazah Damar dan tamu-tamu lainnya, istrihat untuk saat ini adalah lebih baik.
menenangkan pikiran dari hal-hal yang membuat Nya syok.
ting nong..... Ting nong..... Ting nong.....
'Bi .... Bu Mimin..... bi......'
Terdengar suara Fahar dari arah pintu rumahnya, yang memanggil asisten rumah tangga maminya.
brok.... brok..... brok....
"ma.... mami..... ma....."
Pintu digedor-gedor kuat, lalu memanggil mami Nya.
Bi Mimin terlihat tergesa-gesa ke arah pintu rumah, dan kemudian membuka pintu.
"den Fahar, apa kabar aden?"
"kurang baik bi, mana mami bi?"
Sapaan dari bik Mimin dijawab singkat Fahar dan kemudian menanyakan keberadaan mami nya.
"dikamar nya aden, mungkin lagi istirahat."
Tanpa menanggapi bik Mimin, Fahar langsung menuju kamar mami nya.
"terkunci dari dalam bi, ada kunci cadangan?"
"tidak den."
Terpaksa Fahar mendobrak pintu kamar tersebut, begitu terkejutnya Fahar melihat mamanya yang tergantung.
__ADS_1