
Masih menunggu dan menunggu, tapi tidak satu pun yang keluar, dan akhirnya lampu merah itu berubah menjadi hijau dan dokter akhirnya keluar.
"gimana dok?"
Dokter itu tersenyum dan kemudian dokter dan tiga perawat yang membawa bu Margona dari ruang IGD sudah keluar dengan membawa ranjang dimana bu Margona berbaring lemah.
"operasi berjalan lancar, dan kita hanya perlu menunggu hasilnya."
Lega rasanya dan dokter tersebut langsung pamit dan kami pun menuju ruang rawat.
Ternyata bu Margona masih ditempatkan di ruang ICU (intensif care unit).
"ibu-ibu, yuk kita makan dulu. ini sudah sore, kalian berdua juga butuh tenaga."
"anak-anak gimana mbak Renta?"
"tenang bu Marisa, ada pak Fahar dan pak Sean, yuk kita makan."
Renta menarik tangan kami berdua dan menuntun kami keluar dari ruang ICU tersebut.
Di sebuah lorong rumah sakit, kami dihampiri oleh mpok Inam yang membawa koper dan dua satu tas yang berukuran sedang.
"sebelum kalian makan, lebih baik mandi dulu. biar segar, untuk bu Margona, biar saya yang menjaga."
Pinta bu mpok Inam, lalu kami bertiga menuju kamar mandi rumah sakit.
Selesai mandi dan kemudian berpakaian, demikian juga dengan Renta. lalu aku memberikan pakaian ku untuk Nya.
Lalu kami bertiga menuju tempat makan yang berada di depan rumah sakit.
Selesai makan dan langsung menuju ruang ICU, ternyata bu Margona sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa.
Anak-anak dan bu Margona ditempatkan satu ruangan, dan anak-anak kami sudah siuman.
"Elfata, om ngomong sebentar dengan bunda mu, boleh kah?"
Pinta Fahar dan Elfata pun hanya mengganguk, lalu kami berdua langsung keluar dari kamar rawat tersebut.
Kami menuju suatu ruangan yang kosong dan kemudian duduk berhadapan.
"anak-anak dan ibu ditabrak dengan sengaja dan pelakunya bernama Fernandes.
Dulu pernah mengantar kamu pulang ke rumah waktu itu, dan Fernandes sudah melarikan diri.
Aku tidak mau hal ini terulang lagi, karena orang-orang dari masa lalu mu yang bisa mencelakai anakku Elfata.
Saya mohon Marisa, berikan saya kesempatan lagi untuk menjaga kalian berdua.
__ADS_1
Mari kita mulai dari awal lagi, dan jadilah Istriku lagi.
saya masih mencintai mu Marisa, mari kita mulai hidup yang baru. bersama mu dan Elfata dan kelak anak-anak kita nantinya."
Rasanya seperti dipojokkan dan aku tidak punya alasan lain untuk menolaknya, tapi apakah Fahar akan bisa berubah?
"Apapun permintaan mu akan saya turuti, asal kita mulai lagi dari awal."
"baiklah kalau begitu, tapi ada syaratnya."
Akhirnya Fahar tersenyum dan sudah lama aku tidak melihat senyuman itu.
"apapun itu akan laksanakan?"
Seketika aku berpikir keras untuk wanti-wanti nantinya, intinya aku tidak mau kehilangan Elfata penyemangat hidupku.
"kita buat perjanjian baru, yang isinya. mas harus membuat seluruh platform dari anak perusahaan mas fahar untuk Elfata.
Jika terjadi perceraian nantinya, maka hak asuh anak dari Elfata maupun anak-anak kita nantinya akan menjadi milikku.
Mas tidak protes jika anak selanjutnya lahir sebagai perempuan.
Biarkan saya tetap berkarya, dan seperti kata mbak Renta, aku hanya perlu berkarya dari rumah.
Aku berjanji tidak akan melupakan tugas dan kewajiban ku sebagai istri dan juga ibu dari anak-anak kita.
Aku juga ingin mbak Nining dan juga anaknya serta bu Margona ikut bersama kita."
tapi di belakang rumah kita ada vaviliun yang cocok untuk tempat tinggal bu Margona dan Nining serta anaknya.
Setiap hari ke rumah kerja seperti biasa, mas hanya tidak ingin tinggal seatap dengan Nining, takut nya ada persepsi."
"baik saya setuju mas."
Mas Fahar kemudian tersenyum lalu memegang kedua tanganku.
"nantinya uang dari hasil karya-karya mu dan penghasilan dari platform akan terpisah dengan penghasilan dari anak perusahaan lainnya.
Rekeningnya atas nama mu, kita akan menikah secara agama dan juga secara hukum negara.
Terimakasih ya karena kamu masih memberikan kesempatan kepada Ku dan terimakasih karena kamu merawat Elfata dengan baik."
"sama-sama, oh iya. aku butuh waktu untuk meyakinkan Elfata agar bisa menerima mu mas."
"iya Marisa, nanti perlahan-lahan kita akan membujuk dan memberikan pengertian kepada Elfata.
Sekaligus bicara kepada ibu dan Nining, mudah-mudahan anak-anak dan ibu bisa cepat sembuh."
__ADS_1
Kesepakatan sudah disetujui dan itu semua demi anakku dan keluarga baru ku ini, tidak ada salahnya untuk mencoba kedua kalinya.
Berharap mas Fahar bisa berubah, dan yang menjadi pertimbangan utama ialah karena mas Fahar masih sendiri setelah berpisah dengan Ku.
"bagaimana dengan Fika mas? apakah mas bercerai darinya?"
"tidak Marisa, mas tidak pernah menikah dengannya.
Saya tidak tahu sekarang kabarnya gimana, dia itu pengidap HIV dan dua tahun yang lalu Fika di tempatkan di isolasi klinik khusus pengidap HIV.
Hanya itu yang mas ketahui, sumpah demi apapun, mas tidak pernah berhubungan badan dengan Nya.
Sebenarnya rencana pernikahan itu hanyalah jebakan untuk kedua orangtuanya, mas juga sudah mengetahui jajak rekam Nya.
Mas tidak pernah menikah ataupun berhubungan badan dengan wanita manapun semenjak kamu tinggalkan.
Maafkan mas ya, karena egois dan telah mengelantarkan kamu dan juga anak kita Elfata.
Mpok Nori benar, semua perkataan nya terbukti.
Mas sudah menghabiskan banyak uang dan waktu hanya untuk mencari mu dan Elfata.
Kamu wanita dan ibu yang hebat, mas benar-benar menyesali semuanya."
Berkali-kali mas Fahar mencium punggung tangan Ku dan kemudian memegang tangan kananku lalu kami berdua keluar ruangan menuju ruang rawat.
Didepan pintu ruang rawat inap, kami berpapasan dengan Sean dan mbak Renta dan senyuman mereka begitu merekah.
"syukurlah kalau pak Fahar dan bu Marisa akhirnya berdamai dan bisa pegangan tangan seperti ini.
Perlu Notaris? biar Renta bawa esok hari.
oh bu Marisa, itu ibu Margona sudah siuman. tadi nyariin bu Marisa."
Ujar Renta dan seketika itu tangan mas Fahar langsung aku lepas dan masuk ke ruangan.
"ibu....
terimakasih Tuhan, terimakasih ya bu, terimakasih karena ibu telah bertahan hidup demi kami."
Seketika aku langsung memeluk bu Margona, tanpa terasa air mataku mengalir deras.
"maafkan ibu ya, ibu tidak bisa menjaga anak-anak."
"ini bukan salah ibu, tenang ya bu. ibu siuman seperti ini, rasanya bahagia."
Kemudian Dokter dan dua perawat masuk ke ruangan ini dan memeriksa anak-anak serta bu Margona.
__ADS_1
Demikian juga dengan mas Fahar, Sean dan Renta yang menghampiri kami.
Setelah memeriksa keadaan bu Margona dan anak-anak, dokter itu senyum ke arahku.