AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Bertemu Fahar.


__ADS_3

Dengan berlinang air mata ini, tubuh Elfata aku peluk dan kemudian menggendongnya. menjadi bahan perhatian? itu sudah pasti.


"apa mau?"


Terlihat sang tuan muda menangis dan tatapan matanya yang begitu sayu.


"mari kita ngobrol?"


Mbak Nining memberikan isyarat kepada Ku, untuk ngobrol di suatu tempat bersamanya.


Lalu kami meninggalkan tempat tersebut, lalu naik ke atas menggunakan lift.


Mbak Nining dan Bani, bu Margona, dan kini sudah tiba Fernandes yang sedari tadi mencoba untuk menyelamatkan Ku.


Sementara sang tuan muda itu bersama sekretaris nya dan juga Sean asisten pribadi nya.


Kami berada di sebuah ruangan mewah, keluarga Ku dan juga Fernandes duduk agak jauh dari Ku, begitu juga dengan orang-orang yang bersama sang tuan muda.


Kami berdua kini saling berhadapan, anakku Elfata berdiri di samping oma nya dan menghadap ke arahku, yang terlihat siaga.


"kamu apa kabar?"


Basi, sebenarnya enggan untuk bertemu dengannya lagi. aku hanya melotot ke arahnya, jujur. aku takut kalau Fahar akan mengambil anakku.


"Elfata Anakku kan?"


"bukan, anakku itu perempuan dan sudah meninggal. Elfata adalah anakku bersama Fernandes, pria yang duduk disamping nya Elfata."


Fahar tersenyum kecut, saya yakin kalau sang tuan muda tidak percaya akan apa yang aku ucapkan.


"kamu bohong Marisa, itu anakku. kemana kamu selama?"


"sembunyi darimu, pria yang tidak punya hati dan kejam."


"mas mintak maaf Marisa, mas salah. tolong maafkan saya."


Ucap Fahar, kini Elfata sudah menghampiriku dan ekspresi wajah nya yang terlihat penuh amarah dan sudah semakin jelas sangat mirip dengan pria yang kejam ini.


"kami mau om, jangan sakiti lagi bunda Ku, awas kamu ya. ayo bunda kita pulang."


Elfata menarik tangan Ku dan tatapan matanya yang tajam ke arah Fahar.


"tunggu Elfata, saya ayah mu nak. saya ayah mu. Elfata saya ayah mu."


Bu Morgana, Bani anak nya mbak Nining dan juga Fernandes terlihat kaget dengan pengakuan Fahar, tetapi tidak dengan anakku, lalu Elfata menatap Fahar dengan tatapan tajam nan penuh amarah.

__ADS_1


"ngalang, jangan halap ya Om. asal om ketahui ya, banyak tuh om-om yang mengaku sebagai ayah Ku dan om adalah olang yang ke selatus mengaku sebagai ayah Ku."


Terlihat yang lainnya menahan tawa, dan Elfata menarik tangan Ku untuk pergi dan Fahar berdiri lalu menarik tangan Ku.


prak.... plas .....


Elfata memukul Fahar dan mengenai jidat dan terlihat jidat itu mengeluarkan darah karena di pukul oleh Elfata menggunakan tas yang berisi botol minumnya.


Akhirnya kami bisa terbebas dari Fahar, karena kedua rekannya itu sibuk mengurus jidat Fahar yang berdarah.


Dengan menumpang di mobil yang disewa oleh Fernandes dan kami kembali ke hotel, sesampai di sana kami langsung masuk ke kamar dan berusaha memenangkan diri.


"ibu ingat ngak waktu ibu cerita mengenai orang kaya yang kisah hidupnya seperti sinetron itu?"


Bu Margona mengganguk lalu menatapku dengan tatapan sayu.


Sementara Elfata dan mas nya yaitu Bani, sudah di tidurkan oleh mbak Nining.


"pria tadi adalah ayah kandungnya Elfata, dan saya diperkosa olehnya sehingga lahirlah Elfata. sesuai seperti yang tonton di berita itu.


Saya minta maaf ke ibu, bukan bermaksud membohongi ibu. tapi terlalu sakit jika aku ceritakan ulang bu."


Bu Margona memelukku dan aku berusaha menahan tangisan agar membangunkan Fahar dan Bani.


"ibu paham Nak, tenangkan dirimu dan berusahalah untuk tetap tegar demi anak mu."


"ngopi di luar yuk."


"Nining, tolong tenangkan Anisa. anak-anak, biar ibu yang jaga."


Pinta bu Margona yang menyambung omongan dari mbak Nining.


Bersama mbak Nining, kami berdua menuju kafe yang terletak di balkon hotel ini. dengan pemandangan alam yang terbuka.


"saya takut mbak, saya takut kalau Fahar akan mengambil anak Ku."


"tenangkan dirimu Marisa."


Sanggah seorang laki-laki dari belakang kami, ternyata itu adalah Fernandes.


"saya tahu apa yang sebenarnya terjadi, saat itu aku mengunjungi almarhumah mama mu di rumah sakit.


mama mu menceritakan semuanya, dan beliau memintaku untuk tidak menggangu mu lagi, karena tentunya kamu akan menderita kalau aku masih menemui mu.


Saat itu aku tidak punya apa-apa untuk membantu Mu.

__ADS_1


Aku tahu kalau berbohong saat di kafe itu, tapi aku biarkan. karena kamu sudah terbiasa menutupi segala beban hidup mu.


saya akan membantumu agar Fahar tidak mengambil Elfata dari mu, saya mengenal beberapa pengacara yang hebat agar Elfata tetap bersamamu.


Sekarang kita harus mengumpulkan bukti-bukti yang menguatkan kita, untuk melawan Fahar.


Apakah ada bukti-bukti atau apapun itu yang bisa membantu kita?"


Pikiran langsung melayang ke masa lalu, dimana kami menandatangani perjanjian dan kesepakatan bersama.


"dulu kami menandatangani perjanjian, jika bayi yang aku kandung itu laki-laki. maka itu menjadi milik Fahar.


tapi jika perempuan maka itu akan jadi milikku.


Saat USG di rumah sakit, dan dokter mengatakan kalau anak yang aku kandung adalah perempuan.


Sehingga aku di usir dari rumah dan telah mendapatkan kompensasi, tapi itu saya tolak. aku hanya menyimpan bukti transfer Nya.


Dokter itu salah dan nyatanya anakku laki-laki, Elfata lahir sebagai anak ibu, dan itu sesuai dengan akta lahir yang dicatatkan oleh catatan sipil.


Dulu Fahar menikahi ku secara sirih, itulah sebabnya aku tidak bisa menunjukkan siapa yang menjadi ayah kandung Elfata."


"okey, nantinya kita bisa konsultasi dengan pengacara Ku dan semoga itu bisa menolong mu. aku terus mendampingi mu."


Tatapan mata Fernandes begitu teduh dan kata-katanya yang mampu menguatkan diri ku yang rapuh ini.


Malam sudah larut, dan kami memutuskan untuk istirahat.


Aku dan mbak Nining naik lift dan menuju kamar kami, keluar dari lift kami berpapasan dengan seorang pria yang berpakaian rapi dengan stelan jas Nya.


Pria itu melihatku dengan tatapan aneh, pria ini pernah saya lihat di televisi dan itu sebelum Elfata lahir.


"akun power of love?"


Aku hanya mengangguk dan pria tersenyum, kemudian mengeluarkan tangannya.


"saya Agam, author dari platform the Agam."


"Anisa."


Demi apapun aku tidak bertanya siapa namanya dan dari mana dia datang, saya perlu istirahat saat ini.


"permisi, saya mau istrihat."


Karena agak curiga, kami berdua ke arah toilet sudut hotel mewah ini, dan setelah memastikan pria itu tidak mengikuti kami, lalu langsung masuk ke kamar.

__ADS_1


"besok kita pulang aja ya, kalau bisa kita pulang subuh aja. banyak orang aneh disini."


Aku hanya mengganguk setuju akan permintaan mbak Nining.


__ADS_2