AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Suami Muda sang nyonya Rina Meninggal.


__ADS_3

POV nyonya Rina.


Sang nyonya Rina yang ketakutan dan pak Burhan yang selesai menelpon, beliau mencampakkan beberapa barang diatas mejanya.


"eh perempuan jala*g, kenapa kamu bisa bertindak seperti ini?"


"Damar, ini ide dari Damar."


Jawab sang nyonya Rina kepada pak Burhan dengan gemetar, dan hal itu membuat pak Burhan semakin murka.


"habisi benalu itu."


Ucap pak Burhan kepada asisten nya yaitu pria paru baya itu, seketika itu juga pria paru baya itu menelpon seseorang.


"beres pak."


jawab pria paru bayu setelah selesai menelpon, dan kemudian pak Burhan menatap tajam ke arah sang nyonya Rina.


"kau keberatan jika aku menghabisi benalu itu?"


"Damar juga di laporkan pak, jika dia tiba-tiba menghilang apa kata publik nanti?"


"itu bukan urusanmu?"


jawab pak Burhan kepada sang nyonya, dan tatapan itu semakin seram.


"bawa perempuan jala*g ini dari sini dan awasi dia, jangan sampai bertindak bodoh lagi."


Sang nyonya Rina akhirnya keluar dari ruangan itu, dan bergegas pulang ke rumah nya, dengan ketakutan yang teramat sangat dalam.


Sesampainya di rumah, sang nyonya Rina menemukan suaminya sudah meregang nyawa dalam kondisi gantung diri di ruang tamu.


Kondisi rumah yang berantakan, dan sang nyonya Rina mengingat asisten rumah tangga nya dan langsung mencari nya.


Sang nyonya Rina yang berteriak dengan sekuat tenaga, dan ternyata Asisten rumah tangganya disekap dan di ikat memakai tali di dapur rumahnya. sementara Damar di gantung di ruang tamu dimana lehernya terikat tali dan berarah ke arah kipas angin besar di langit-langit rumah.


Menggunakan pisau untuk memotong tali yang mengikat asisten rumah tangga, dan akhirnya bisa lepas juga.


Ketakutan yang sangat teramat takut, asisten rumah tangga seorang wanita paru baya memeluk sang nyonya Rina.


"apa yang terjadi bi?"


Setelah agak tenang, barulah sang nyonya Rina bertanya kepada asisten nya tersebut.


"itu den Alex yang membawa beberapa orang kemari, terjadi perkelahian dan tuan di gantung nyonya.


Setelah tuan di gantung diatas kipas itu, lalu bibi di seret ke dapur dan di ikat."

__ADS_1


Ucapnya terbata-bata dan sang nyonya meraih handphone nya dari tasnya.


Beberapa saat kemudian sang nyonya Rina seperti nya menerima telepon masuk.


"Alex."


ujarnya sembari memperhatikan layar handphone yang menampilkan Alex memanggil.


'halo tante sayang, maaf ya kalau Alex harus menghabisi suami mu yang pecundang itu.


nanti kamu lihat aja ada catatan di sakunya, dan siapa tahu itu bisa menolong mu.'


Sambungan telepon berakhir dan kemudian sang nyonya Rina mencoba untuk menghubungi nya kembali, nomor yang dihubungi sudah tidak aktif lagi.


Akhirnya polisi dan juga ambulan datang dan petugas medis langsung segera bertindak, jenazah Damar yang tergantung di turunkan.


Sang nyonya Rina langsung mengambil sesuatu dari saku celana Damar, secarik kertas dan juga flashdisk.


Jenazah dibawa ke ambulans untuk di autopsi, dan sang nyonya Rina serta asisten rumah tangga nya dibawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.


"tadi pagi tadi tuan datang dan kemudian duduk di sofa, lalu bibi menyuguhkan kopi serta sepotong roti.


Lalu bibi ke kembali ke dapur, belum berapa lama terdengar di ruang tamu seperti orang cekcok gitu.


Bibi menghampiri nya, dan tuan sudah di gantung di atas kipas tersebut. lalu bibi diseret ke dapur, lalu disekap dan bibi di ikat."


Tutur asisten rumah tangga sang nyonya Rina yang bernama bi Mimin.


"den Alex dan non Lisa, keponakan kandung dari tuan."


Bi Mimin menjawabnya dengan pasti, lalu sang nyonya Rina menoleh ke arah petugas.


"kemarin itu saya memorgoki mas Damar sama Alex sedang berhubungan badan pak petugas."


"berhubungan badan? sebentar, apakah Alex ini perempuan atau laki-laki?"


Tanya petugas tersebut yang terlihat kebingungan, karena ucapan dari sang nyonya Rina yang mengatakan berhubungan badan.


"laki-laki pak, keponakan mas Damar itu penyuka sesama jenis dan suamiku itu biseksual.


Suamiku itu hyper dan akan melakukan hubungan badan dengan siapapun, jika saya menolaknya.


Sebenarnya sudah lama pertikaian antara mas Damar dan keponakannya itu, cuman saya tidak tahu apa yang menjadi masalah mereka.


Saya begitu kaget ketika saya memorgoki mereka berdua bersetubuh pak, karena selama ini mereka selalu cekcok."


"oh..... rumit juga ya, apa ibu tahu dimana kedua keponakan suami ibu tinggal dimana?"

__ADS_1


"dulunya di apertemen pak, tapi menurut security yang ada disana mengatakan kalau Alex sudah sudah menjual apertemen Nya."


"apa ibu punya photo atau nomor kontaknya?"


Sang nyonya Rina memberikan kontak Alex dari handphone.


Hanya kontak nya yang saya punya, tapi ruang tamu kami ada sisi TV. mungkin nanti akan lebih jelas terlihat disana.


tadi juga Alex menelpon Ku, berkata dia minta maaf karena sudah menghabisi suamiku dan langsung mati handphone Nya.


saya hubungi lagi tidak aktif lagi, beberapa kali di hubungi selalu di luar jangkauan."


"baiklah kalau begitu, tim akan mendalami kasus ini. nanti ada tim yang akan mengambil rekaman sisi TV dari rumah ibu.


Kemungkinan jenazah suami ibu akan diantar nanti siang, kami usahakan secepatnya mungkin agar segera di kebumikan."


Sang nyonya Rina bersama asisten rumah tangga nya, akhirnya pulang ke rumah dengan alasan untuk menyiapkan segala keperluan pengurusan pemakaman suaminya.


Sesampai di rumah, sang nyonya Rina sudah dikejutkan oleh beberapa orang suruhan pak Burhan, diantara adalah salah satu orang yang mengaku sebagai Kuasa hukum nya tadi pagi di kantor polisi.


"siapa yang melakukan ini ?"


Tanya pria itu, pria yang mengaku sebagai kuasa hukumnya.


"keponakannya, Alex dan Lisa."


jawab sang nyonya dengan singkat, terlihat pria yang berpakaian serba hitam hanya mengganguk.


"si biang kerok."


Ucap pria itu, lalu langsung pergi bersama orang-orang yang bersamanya.


Setelah melakukan persiapan, beberapa tetangga sudah berdatangan dan bersiap menunggu jenazah Damar.


Tidak berapa lama kemudian, jenazah Damar sudah tiba.


Warga yang berkumpul langsung menyebutnya, dan meletakkan jenazah di ruang tamu.


Setelah prosesi doa oleh pelayat, kemudian secara bersama-sama mereka semua mengiring jenazah ke tempat peristirahatan yang terakhir.


Pemakaman sudah selesai dan almarhum sudah dimakankan dengan layak, sang nyonya bersama bi Mimin, asisten rumah tangga nya langsung pulang.


Sesampai di rumah, masih ada beberapa pelayat yang membersihkan ruang tamu dan setelah bersih mereka semua pamit pulang.


Tidak berapa lama kemudian petugas dari kepolisian sudah datang untuk mengambil rekaman sisi TV.


Setelah selesai mengambil apa yang dibutuhkan, petugas itu kemudian pamit pulang.

__ADS_1


Tamu sudah pulang semua, bi Mimin meminta majikannya untuk istirahat. demikian juga bi Mimin.


Sang nyonya Rina langsung menuju kamarnya dan terduduk di meja riasnya.


__ADS_2