AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Kabur dari Kenyataan


__ADS_3

Aku dan mbak Nining beres-beres dengan pelan-pelan, agar tidak membangunkan anak-anak dan ibu.


Akhirnya selesai juga, dan aku menuju kamar untuk cuci muka dan gosok.


Kami berdua tidur satu ranjang, sementara ibu tidur seranjang dengan anak-anak, tidak lupa untuk menyetel alarm agar bisa bangun jam subuh nanti.


Lalu mengakses tiket penerbangan pesawat untuk waktu yang lebih cepat, dan akhirnya dapat juga. penerbangan pukul 5 lewat empat puluh menit waktu setempat dan itu subuh.


Lalu kami turun kebawah untuk bertanya ke resepsionis.


Sesampainya dibawah dan kami bertanya apakah bisa cek out lebih cepat, dan untungnya itu bisa.


Lalu kembali ke kamar untuk istirahat, setelah merasa semua persiapan sudah beres, akhirnya kami rebahan.***


Suara alarm dari handphone membangun kami berdua, dan segera mengurus anak-anak terlebih dahulu.


Setelah anak-anak beres, lalu kami mandi bergantian dan semua sudah siap berangkat pulang kembali.


Sudah jam empat subuh dan kami berada di ruang tunggu resepsionis untuk cek out, akhirnya selesai juga.


Dengan naik taksi menuju bandara, berhubungan masih subuh jalanan tidak terlalu macet sehingga kami sampai setengah lima di bandara.


Mbak Nining yang cek in, sementara aku membeli sarapan nasi gurih yang sudah tersedia di salah satu gerai.


Setelah mendapat nasi gurih atau nasi lemak untuk kami, lalu membeli air mineral. kemudian menyusul ke arah cek in.


Kami sudah cek in terlebih dahulu, dan menunggu di ruang tunggu penerbangan.


Sambil menunggu masuk ke pesawat, aku dan mbak Nining menyuapi anak-anak kami masing-masing dan menyuruh ibu makan terlebih dahulu.


Selesai menyuapi anak-anak dan sisanya di urus oleh ibu, lalu kami berdua makan.


Akhirnya kenyang juga, dan tidak berapa lama kemudian kami sudah masuk ke dalam pesawat.


Setelah menunggu beberapa menit, pesawat sudah lepas landas dan kami sudah meninggal pulau Dewata tersebut.**


Penerbangan selama tiga jam lebih, dan akhirnya sampai juga di rumah. nomor handphone Fernandes langsung aku blokir, karena tidak ingin mengingat namanya lagi.


Kemudian berusaha menghubungi admin platform untuk tetap merahasiakan alamat tinggal Ku ini.


Aku tidak ingin Fahar menemui Ku disini, aku ingin hidup tenang bersama anak dan keluarga ku.


Cukuplah masa pahit di masa lalu bersama Fahar, jangan terulang lagi.


Elfata dan keluarga ini sudah sangat cukup bagiKu.

__ADS_1


Aku mendapatkan email dari platform, kalau identitas Ku tetap di rahasiakan. dan kini saatnya bekerja kembali untuk mengais rezeki.


Sepertinya tempat persembunyian ku ini tidak akan bertahan lama, kemungkinan besar Fahar akan melacak Ku melalui hadiah yang ditransfer kepada Ku.


"apa yang kamu cemaskan?"


Tanya mbak Nining yang tiba-tiba menghampiriku setelah selesai membereskan barang-barang kami.


"mungkin Fahar akan menemui Ku, mungkin dia akan melacak melalui hadiah itu."


"rekening bank nya belum mbak berikan, tapi kalau dari bookingan kita di hotel bisa aja."


Ungkap mbak Nining, dan aku baru teringat permintaan Ku kepada resepsionis hotel tersebut.


"saya pesan kepada resepsionis, agar tidak memberikan informasi kepada siapapun yang menanyakan identitas kita.


Tapi apa resepsionis itu bisa dipercaya? kali aja kan pihak hotel di suap Nya, untuk mendapatkan informasi tentang kita."


"sepengetahuan mbak, biasanya pihak hotel tidak memberikan informasi pelanggan nya kepada pihak manapun, karena takut di gugat dan hal itu bisa mengurangi kepercayaan para tamu hotel."


Menarik napas panjang, karena otak ku sudah buntu.


"iya sudahlah, jika Fahar menemui ku disini, mau buat apalagi. mungkin sudah seharusnya, jika memang harus berpisah dengan Elfata karena kalah di gugatan.


Hanya bisa pasrah saat ini, terduduk lemas di sofa meja tamu ini.


"walaupun kota ini kecil, tapi disini ada pengacara hebat. dulu ibu bekerja di rumah orangtuanya pengacara itu."


Ujar bu Margona yang terlihat baru selesai mandi.


"anak-anak sudah tidur, ini rencananya ibu mau masak. supaya anak-anak nanti bangun sudah ada makanan."


Ucap bu Margona lagi, karena mbak Nining melihat ke arah kamar anak-anak.


"bisa ibu bawa aku ke sana?"


"bisa nak, tapi kalian berdua istrihat ya. besok ibu akan membawa mu kesana.


mandi lalu istrihat, biar ibu masak bentar. nanti pas kita bangun sudah ada makanan yang tersedia."


Aku dan mbak Nining serta anak-anak kami tidak pernah membantah bu Margona, dan kami berdua hanya nurut aja.


Setelah mandi dan berpakaian, aku tidur di kamar anak-anak, kamar Elfata bersama mas nya yaitu Bani.**


Jauh dari pulau Dewata, Fernandes mengetuk pintu kamar Marisa dan memanggil namanya, tidak berapa lama petugas kebersihan hotel membuka pintu tersebut.

__ADS_1


Petugas memberitahukan kalau penghuni kamar tersebut sudah cek out jam empat subuh, lalu Fernandes langsung bergegas menuju ke resepsionis.


"bego....


kenapa sih aku bisa terbangun kesiangan seperti ini."


Fernandes bicara terhadap dirinya sendiri, dan berusaha menghubungi nomor handphone Marisa.


Beberapa kali mencoba menghubungi nomor tersebut, tetapi tidak tersambung.


"mbak penghuni kamar 731 kemana? apa benar sudah cek out?"


Resepsionis menjawabnya dan begitu kecewanya Fernandes karena pihak resepsionis tidak bersedia memberitahu identitas Marisa.


Tiba-tiba Fernandes teringat kalau salah satu temannya ada yang ahli dalam melacak handphone seseorang melalui nomor telepon.


Fernandes memilih ke kafe dan duduk di salah satu kursi.


Lalu menghubungi temannya untuk mintak tolong melacak keberadaan Marisa melalui nomor telepon.


Fernandes disuruh menunggu, sembari menunggu dia memesan makanan dan minuman.


Makanan dan minuman sudah habis, tapi kabar dari teman nya tidak kunjung didapatkan oleh Fernandes.


drrrt..... drrrt.... drrrt....


Handphone berbunyi dan itu dari sahabat Nya, seketika itu langsung menjawabnya panggilan tersebut.


Begitu bahagia nya Fernandes karena keberadaan Marisa berhasil dilacak, dan seketika itu Fernandes langsung mengakses informasi penerbangan ke alamat Marisa.


Fernandes tersenyum karena tiket pesawat menuju ke alamat Marisa sudah berhasil di beli dan saatnya mencari penginapan di sana untuk tempat tinggal nantinya.


"Marisa, aku mengejar mu kesana. ke ujung dunia sekalipun aku akan mengejar mu.


Seorang author bisa hidup di mana pun, asal ada tujuh hidupnya dan kamu Marisa, adalah tujuan hidup Ku.


Dulu aku terlalu naif dan terlalu takut kehilanganmu, dan pada akhirnya aku kehilanganmu Marisa.


Ini adalah kesempatan kedua bagiKu, tidak akan biarkan kamu menjauh dari sisiku."


Fernandes berbicara sendiri, terlihat jelas semangatnya untuk mendapatkan cinta dari Marisa.


Cintanya yang selama ini membuat untuk menunggu.


Itu semua karena kesalahan sendiri, yang tidak berani mengungkapkan perasaan kepada Marisa karena takut kehilangan.

__ADS_1


__ADS_2