
Sejujurnya aku sangat menyukai Fernandes, tapi itu dulu. hampir tiga tahun kami selalu bersama, tapi Fernandes tidak pernah mengungkapkan perasaannya terhadap Ku.
"sekarang kamu jauh lebih cantik, tapi kamu masih tetap seperti dulu."
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan Nya, sebenarnya aku ingin sekali memujinya.
"kamu kesini sama siapa?"
Berusaha mengalihkan topik, agar tidak canggung.
"sendirian karena masih jomblo, itu karena kamu."
"ngapain kamu memikirkan wanita yang sudah tidak jelas, seharusnya langsung kamu buang jauh-jauh dari hati Mu."
"ngak segampang itu Marisa, karena kamu sudah berakar pada hatiku.
Kamu harus tahu kenapa saya tidak pernah mengungkapkan perasaan kepadamu, itu karena aku tidak mau kehilangan kamu.
jika kita pacaran, ada kemungkinan kita putus. lalu berjauhan dan saling tidak bicara, saya tidak mau itu terjadi."
"itulah salah mu Nandes, wanita itu butuh kepastian."
"saya baru sadar Marisa, bagaimana dengan sekarang?"
"maksud Nya?"
kedua tanganKu diraihnya, lalu Fernandes menatapku.
"saya masih mencintai Mu dan sangat menyayangi mu, nama mu selalu terukir indah di hatiku. saya tidak perduli dengan status mu, dan saya siap menjadi ayah dari Elfata. kamu mau kan jadi Istriku?"
Berusaha tenang dan bersikap wajar, perlahan aku menarik ke-dua tanganKu, dan kemudian menatap Fernandes.
Dia memang pria yang aku sukai, tapi tidak untuk sekarang. saya belum siap menerima laki-laki dalam hidup Ku, karena trauma yang dalam dan masa lalu Ku yang pahit.
"saya harap kamu bercanda, kamu itu lajang, tampan, penulis terkenal dan tentunya kamu sudah meraih banyak hal.
Saya ini janda beranak satu Fernandes, apa kata kedua orang tua Mu nanti, keluarga yang lain dan juga para rekan-rekan mu.
kyak ngak ada anak gadis lain aja deh, patah hati itu hal biasa, jangan hanya karena aku, kamu menutup hati mu dari gadis lain Nya.
heran deh, ngaco ah kamu."
Tatapan mata dari Fernandes terlihat begitu kecewa, dan itulah yang aku harapkan. Sekiranya Fernandes pergi menjauh dari hidupku.
"saya ngak memaksa untuk kamu jawab sekarang, karena aku sadar. bukan hanya kamu yang harus saya dekati, ada Elfata yang harus siap menerima ku sebagai Papa Nya.
Setidaknya berikan saya waktu, dan nantinya kamu bisa menilai. apakah aku pantas untukmu atau ngak."
__ADS_1
"Nandes....
Sekali lagi, tolong pikirkan baik-baik. ada yang harus kamu pikirkan perasaan Nya. kedua orang tua Mu, dan keluarga mu yang lain."
"sudah aku pikirkan Marisa, kedua orang tua ku sudah meninggal. selama ini aku selalu jauh dari keluarga ku yang lain, mereka tidak pernah memikirkan Ku, jadi buat apa aku memikirkan perasaan mereka.
Tolong berikan saya kesempatan, jika Elfata dan kamu tidak bisa menerima kehadiran diriku, maka nantinya saya akan pergi menjauh dari hdup kalian berdua."
Aku hanya mengangguk setuju, siapa tahu aja bisa menjadi sandaran hati kelak nanti.
Hidup harus terus berjalan, tidak ada salahnya membuka pintu hati yang sudah lama tertutup rapat.
Dicoba dan di uji, hati siapa tahu akhirnya akan bagaimana.
Dulu juga aku mencoba bertahan, walaupun pada akhirnya gagal, mungkin karena Fahar bukanlah pilihan hatiku, kali aja ini yang terakhir tempat untuk bersandar.
Anak-anak, mbak Nining dan bu Margona. menghampiri kami yang duduk berduaan. Kebahagiaan Elfata terlukis sempurna di wajahnya.
"sekarang sudah pukul tiga sore, daerah sini ada pertunjukan khusus, kesana yuk?"
Ajakan dari Fernandes langsung disambut gembira oleh anak-anak, mbak Nining dan juga bu Margona.
Makanan dan minuman kami sudah dibayar oleh mbak Nining, dan kami langsung beranjak pergi.
Kami menyewa mobil yang disewakan oleh pihak hotel, dan Fernandes yang menyetir Nya.
"emangnya peltunjukan apa om?"
Elfata yang cadel bertanya kepada Fernandes, dengan begitu semangatnya dan sangat antusiasnya.
"sebenarnya itu adalah ritual keagamaan, nanti ada tari kecak. oh iya, emangnya Elfata tahu apa tari kecak?"
"tahu dong om, tali asli Bali. penali nya itu laki-laki yang banyak dan melingkal yang melilingi peneli pelempuan.
kca....... kca ...... kca........
sepelti itu kan om?"
Fernandes tersenyum mendengar jawaban dari Elfata, dan dirinya mengagumi kepintaran anakku Elfata.
Tidak berapa lama kami sampai di parkiran, kemudian kami memakai sarung dan juga sandal khusus.
Itu adalah peraturan yang sudah diterapkan, dan secara bersama-sama kami masuk ke area penonton.
Sudah banyak para pengunjung lainnya, dan kami duduk satu baris.
Sepertinya Fernandes mencoba mendekati Elfata, dan nyata itu berhasil. bahkan Bani juga terlihat akrab dengan Fernandes.
__ADS_1
Elfata dan mas nya itu, serius mendengarkan penjelasan dari Fernandes. tentang tarian tersebut, dan kedua anak itu begitu antusias mendengarkan penjelasan dari Fernandes.
Acara itu selesai dan kami jalan-jalan di sekitarnya.
"om bisa menggendong Elfata? "
Tanpa ragu-ragu Fernandes langsung meraih tubuh Elfata dan meletakkan di pundaknya.
"telimakasih om, Elfata bisa melihat semuanya?"
"ngak takutkan?"
"ngak lah om, Elfata kan anak laki-laki."
Fernandes tersenyum ke arahku, raut wajahnya terlihat bahagia karena sudah bisa mendekati anakKu.
Fernandes selangkah lebih maju, dan kami terus berjalan dan berjalan.
"didepan itu ada pemandangan yang sangat indah, yuk kita kesana?"
Pinta Fernandes, dan kami pun mengarah arah ke sana.
Benar-benar luar biasa, itu seperti lembah yang indah dan ada kafe.
"kita sekalian makan malam disini, ada yang alergi ikan tawar dan kepiting?"
Bani menyimak pertanyaan dari Fernandes dan sepertinya dia ingin bertanya.
"om apa itu ikan tawal? dan apa itu alelgi?"
Elfata langsung menoleh Bani, kemudian tersenyum seraya memegang pundaknya.
"ikan tawal itu adalah ikan dali sungai, atau ikan yang hidup di kolam, nah ikan yang hidup di laut disebut ikan laut.
ikan yang belasal dali ail asin, tawal altinya tidak asin dan tidak ada lasanya.
kalau alelgi itu, gatal-gatal ketika kita memakan sesuatu makanan. begitulah penjelasanya mas Bani."
"kenapa bisa begitu? mas ngak pelnah itu gatal-gatal saat makan ikan apapun?"
"ngak tahu mas Bani, kalna Fata juga ngak pelnah gatal-gatal."
Lagi-lagi Fernandes tersenyum mendengar obrolan kedua bocah cadel itu.
Lalu Fernandes menjelaskan nya dengan begitu sabar, sampai kedua bocah cadel itu paham.
Ternyata makanan disini adalah seafood dan itu paketan juga, sangat luar biasa. harga yang terbilang murah untuk daerah wisata sekelas Bali.
__ADS_1
Seafood yang sudah masak dengan saus yang menggoda, kini tersaji dihadapan kami. dimana seafood tersebut di letakkan di meja yang hanya beralaskan daun pisang.