
POV Fahar.*
Menurut penuturan dari Renta dan itu berdasarkan penelitiannya, penulis yang berbakat itu tidak pernah mau datang ke Jakarta.
Dirangkum dari informasi platform, penulis dengan nama akun, ' Power of love ' tidak mungkin author itu bersedia datang ke Jakarta.
Saran dari Renta, sebaiknya perhelatan penghargaan tersebut diadakan di pulau Bali.
Fahar dan Sean menyetujui ide dari Renta, akhirnya acara perhelatan tersebut diadakan di Bali dan langsung diberitahukan kepada panitia pelaksana.
prak..... brak .... gudabar.....
pintu dibuka secara paksa dan pintu tersebut terbanting ke dingding.
"pak..... pak Fahar..... pak......."
Renta begitu senangnya yang pada akhirnya mengalahkan etikanya seperti biasanya, lagi-lagi Sean terheran-heran melihat tingkah dari sekretaris sang bos tersebut.
"Renta....
besok copot itu pintu ya, kasihan pintunya kamu banting terus."
Renta tersenyum kecut ke arah Sean yang ngomel tersebut.
"author power of love itu bersedia mengikuti perhelatan penghargaan itu pak, voucher hotel dan tiket pesawat sudah dikirimkan melalui email ke admin power of love.
Admin nya sudah konfirmasi ke panitia akan kehadiran, dan platform sudah memastikan hal itu.
ngak sabar deh mau ketemu ibu Marisa, pasti bu Marisa tambah cantik, anggun dan seksi."
Dengan tersenyum-senyum sendiri Renta mengatakan demikian, kebahagiaannya itu menjadi bahan perhatian bagi Fahar Sean.
"yakin benar itu mbak Marisa? nanti kecewa kalau salah orang."
"tidak pak Sean, karya nya yang berjudul ' takdir anak pembantu ' itu persis seperti cerita yang pernah ibu Marisa ceritakan ke Renta.
Gaya bahasanya, karakter animasi komiknya dan juga cara penataan karakter nya. persis seperti karya nya yang lain dan itu hampir sama dengan ke empat karya itu dan juga karya-karya nya yang lain.
Insting Renta tidak pernah salah pak Sean, dan itu selalu tepat. hanya orang-orang yang egois yang tidak mempercayai insting Ku."
Seketika itu juga Fahar langsung menatap tajam ke arah Renta, karena dirinya merasa di ledek oleh sekretaris nya tersebut.
"sudah pesan hotel?"
"sudah pak Fahar, hotel kita yang di Bali sudah saya siapkan. sepuluh orang perwakilan dari IT pengembangan, tiga orang bagian keuangan, dua orang bagian legal, dan tiga lagi untuk kita bertiga."
"percaya diri sekali, siapa yang mengajak Mu?"
Fahar membalasnya, karena tersinggung di ledekin oleh Renta.
"saya sendiri pak, kan Renta ketua panitia Nya. masa ketua ngak ikut?
__ADS_1
pak Fahar setuju atau ngak, Renta akan tetap pergi ke Bali, acara perhelatan itu tidak jalan tanpa Renta, permisi."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Fahar dan Sean tertawa karena sikap dari Renta yang sok imut, dan Renta kembali membanting pintu karena kecewa dengan jawaban bos nya tersebut.**
Pagi sekitar pukul tujuh, Renta dengan bergaya elegan dan juga trendy, dan Renta yang menenteng kopernya sudah berada di ruang tamu rumah Fahar.
Begitu juga dengan Sean yang tidak mau kalah dengan Renta, lalu keluar lah mpok Nori yang membawa koper milik Fahar.
"kita memeng secepat ini perginya?"
Tanya Fahar yang sudah tiba dihadapan mereka berdua yang berpakaian trendy.
"iya dong pak, karena menurut informasi dari platform itu, author power love itu sudah tiba di Bali.
Perhelatan nya emang lusa, tapi Renta sudah ngak sabar bertemu dengan author yang hebat itu.
Ayo cus, ngak usah pake lama. nanya mulu dah kayak perempuan deh."
Ucapan dari Renta membuat Fahar dan Sean tersenyum, begitu juga dengan mpok Nori.
Setelah drama kemacetan jalanan ibukota serta perjalanan di udara, akhirnya sampai juga di hotel dan langsung cek in.
Beberapa orang kantor sudah tiba di hotel tersebut, untuk mengurus perhelatan yang dilaksanakan.
Di ballroom mewah di hotel tersebut, acara perhelatan itu akan diadakan, lusa sekitar pukul tujuh malam sampai selesai.
teng nong.... teng nong.....
"ngapain datang kemari? tolong biarkan kami istrihat?"
Pinta Sean yang membuka pintu untuk Renta yang mendatangi kamar mereka.
"pak Fahar, ayok kita cari ibu Marisa. cepat....."
Tanpa menanggapi perkataan dari Sean, lalu berjalan menuju arah Fahar sambil bicara.
Fahar menarik napas panjang Nya dan kemudian meraih tas kecilnya, lalu melangkah sembari menarik tangan Sean.
Mereka bertiga langsung turun ke bawah menggunakan lift, kemudian naik mobil yang sudah disediakan oleh Renta.
"kita kemana Renta?"
"tenang pak Sean, percayakan aja sama Renta. kita ke sebuah tempat yang eksotis sembari makan disana, kali aja bisa bertemu dengan ibu Marisa."
Fahar dan Sean menghela napas dan hanya bisa pasrah akan ajakan dari Renta.
Ternyata Renta membawa mereka ke sebuah lokasi dengan pemandangan yang luar biasanya indah nya dan sudah terdapat kafe untuk makan.
Selesai memesan makanan dan minuman, mereka bertiga duduk bersantai menikmati indahnya alam Bali.
__ADS_1
kras..... brak.....
Seorang anak laki-laki menabrak Fahar yang berdiri seraya menikmati alam pemandangan yang indah.
"maaf ya om, saya ngak sengaja."
Ucap bocah itu seraya minta maaf kepada Fahar, akan tetapi ekspresi Fahar dan Sean yang begitu terkejut melihat bocah itu.
Lalu Sean menghampiri bocah tersebut dan jongkok dihadapan Nya.
"nama kamu siapa dek?"
"namaku Adam Elfata, biasa di panggil Fata atau El, Fata mintak maaf om."
Kini Fahar juga jongkok dihadapan Elfata dan kemudian menyuruh nya duduk di kursi dan mereka pun duduk bersamanya.
"mas bos, anak ini mirip sekali dengan mu bos, persis seperti mas bos waktu kecil. lihat hidungnya, alisnya, keningnya. pokoknya semuanya deh..."
Ucap Sean yang berkata tiba-tiba dihadapan anak laki-laki yang bernama Elfata itu.
"om belcanda deh, apa Elfata udah bisa pelgi? nanti bunda nyaliin Fata om."
"iya silahkan."
Jawab Fahar, dan tanpa sadar mengikuti Elfata dan di ikuti oleh Sean serta Renta.
"apa lagi om? kok ngikutin Elfata? mau culik Elfata y? teriak ni ya.
om liat deh, ada pesawat alien lewat."
Entah kenapa mereka bertiga langsung menolah ke arah langit biru, dan kesempatan itu digunakan oleh bocah itu untuk lari sekencang-kencangnya dan alhasil Fahar dan rekannya kehilangan jejak Elfata.
Mereka bertiga berpencar mencari bocah yang bernama Elfata tersebut, tapi akhirnya mereka bertiga tidak menemukan keberadaan bocah tersebut.
"gokil benar, bocah itu mampu menipu kita bertiga."
Ucap Sean yang terduduk lemas, begitu juga dengan Fahar dan Renta.
"bli... bli...
tadi ada lihat anak kecil, lucu nan tampan, memakai topi berwarna putih dan dibalik, memakai celana jins warna biru dan kemeja kotak-kotak disekitar sini?"
Renta bertanya kepada salah satu pelayan kafe yang kebutulan berpapasan dengannya.
"Elfata namanya?"
Mereka bertiga dengan serentak mengganguk dan seketika pria itu memasang wajah curiga.
"oh jadi kalian bertiga penculiknya?"
Fahar, Sean dan Renta akhirnya di bawa ke ruang sekurity karena di tuduh sebagai penculik anak.
__ADS_1