AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Siapa Wanita itu?


__ADS_3

Mas Fahar yang awalnya duduk di pinggir ranjang dan langsung berdiri saat melihatKu masuk ke kamar ini, dan tatapan itu membuatku seperti melakukan kesalahan yang sangat fatal.


"tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, apa salahku mas? jika mas diam seperti ini, bagaimana caranya aku bisa memperbaiki diri."


"kamu mau balas dendam kepadaKu?"


Pertanyaan Ku dibalas dengan pertanyaan, dan hanya bisa bengong mendengar pertanyaan dari mas Fahar.


"balas dendam gimana? ngak usah mengalihkan pembicaraan, atau mas mau mempermainkan aku?"


"brengsek....."


Apalagi ini? kenapa mas Fahar berubah hanya dalam beberapa ini.


Mas Fahar berjalan ke arah pintu dan membukanya.


prak....bam.....


Suara pintu yang dibanting dengan kuat oleh mas Fahar dan pergi begitu saja tanpa menyelesaikan masalah yang terjadi saat ini.


Di kamar ini sendirian dan merenung akan sikap mas Fahar yang sudah berbeda, bahkan ini lebih parah dari sebelumnya.


Saya hanya ingin permasalahan ini ada titik terangnya, tapi bagiamana bisa ketemu dengan titik permasalahan karena mas Fahar sepertinya tidak ingin berterus terang.***


Suara Elfata memanggil membuatku terjaga dari tidurku.


"iya sayang, bentar ya."


Lalu bangkit dari ranjang dan menuju pintu, wajah imut dari Elfata yang pertamakali aku lihat di pagi hari ini.


"ayah dimana bunda?"


Pertanyaan itu membuatku tersadar bahwa mas Fahar tidak pulang ke rumah, sekilas Ingatan tadi malam.


Ternyata aku ketiduran saat menunggu kepulangan dari mas Fahar.


"sudah pergi ke kantor Elfata."


Elfata menggelengkan kepalanya itu berarti ada hal yang tidak beres terhadap sikap Ku kepadanya.


Terlebih sudah kedua kalinya aku berbohong kepada-nya.


"ini hali Minggu bunda, jangan ajalkan Elfata berbohong."


Terdiam dan tidak bisa mengelak lagi, kebohongan pertama Ku masih dipercayai oleh Elfata tapi kali ini aku bisa terdiam.


"ayah mu ngak pulang, semalaman bunda menunggu nya sampai ketiduran.


handphone ayah mu juga ngak aktif dan pesan bunda ngak di balas nya."

__ADS_1


Tatapan yang sayu dari Elfata, dan kemudian menarik tangan Ku untuk masuk ke dalam kamar, kami berdua duduk dipinggir ranjang seperti yang biasa kami lakukan.


"bunda tenang, Elfata akan selalu ada untuk bunda.


bunda mandi ya, habis itu kita jalan-jalan. supaya bunda ngak kepikilan telus."


yah.......


Elfata yang selalu jadi penghibur dan menjadi penyemangat hidupku.


Mengganguk kepala lalu tersenyum kepadanya.


Elfata langsung keluar dari kamar, lalu aku beres-beres setelah itu mandi.


Elfata yang sudah berpakaian rapi dan duduk di meja yang ditemani oleh mpok Nori, dan senyumannya yang membuat hari-hari Ku semakin cerah.


Selesai sarapan pagi dan menuju rumah Bani di belakang rumah mewah ini, ternyata mereka berdua sudah pergi terlebih dahulu untuk jalan-jalan sembari membeli keperluan sekolah Bani.


Oma nya anak-anak tidak mau kami ajak jalan-jalan, katanya biar menjaga bersama antara ibu dan anak yang berkualitas.


Dengan bergandengan tangan, kami berdua berjalan lalu naik mobil dimana uak Jarvis, supir pribadi yang dulu dan sampai sekarang yang menjadi supir kami.


Sepanjang perjalanan terlihat Uak Jarvis dari pantulan cermin kecil diatas kemudi nya yang selalu tersenyum, karena ocehan dari Elfata.


Kami berhenti di taman yang sangat luas, sedari dulu kami berdua lebih suka jalan-jalan di taman.


Uak Jarvis mengikuti kami berdua dari belakang.


"gedung tinggi dan besal itu apa bunda?"


Arah tangan Elfata yang menunjuk gedung yang menjulang tinggi dan itu adalah pusat perbelanjaan dan hiburan.


Lagi-lagi kami bergandengan tangan menuju gedung yang menjulang tinggi itu dan di ikuti oleh uak Jarvis dari belakang.


Lantai satu adalah pusat jajanan dan beberapa restoran, terlihat gambar bebek panggang yang sangat menggugah selera dan kami bertiga langsung ke restoran tersebut.


"makana apa yang paling enak disini kak?"


Pelayan perempuan restoran yang masih muda itu begitu bersemangat saat menjelaskan menu makanan yang paling enak.


Kemudian merekomendasikan bebek panggang kepada kami.


Sesekali pelayan muda nan cantik tersenyum dan tertawa mendengar ocehan dari Elfata.


Selesai memesan makanan dan minuman dan tidak berapa lama kemudian, pesanan kami sudah tersaji di meja.


"bunda..."


Elfata memanggilku dan menunjuk ke arah sepasang tamu yang datang.

__ADS_1


Sertttt......


Darah di dalam tubuh ini terasa mengalir deras, dan jantung serasa mau copot.


Elfata langsung terdiam saat melihat pemandangan itu, saat perempuan muda itu menggandeng ayahnya dengan mesra.


Mas Fahar dan perempuan muda duduk di kursi yang di pandu oleh pelayan yang lain, dan tatapan Elfata kepada mereka berdua tidak lepas.


Lalu Elfata menghampiri mereka berdua, kemudian aku susul dari belakang Elfata yang jalan dengan lambat.


"buat apa ayah mohon-mohon kepada bunda, jika pada akhilnya ayah menyakiti bunda."


Ucapan Elfata membuat mas Fahar terkejut dan kaget melihat kehadiran kami berdua disini yang berdiri di hadapannya.


Tangan Elfata yang mungil terlihat menghapus air matanya, kemudian mendekat ke arahku lagi lalu meraih tanganku dan memegangi dengan erat.


"ayah tidul dengan pelempuan ini? apa dia ngak tahu kalau ayah sudah punya istli?"


Tatapan Elfata kepada ayahnya dan raut wajah yang kecewa itu terlihat begitu nyata dan dekat.


Aku tidak membayangkan bagaimana perasaan Elfata yang melihat ayahnya bersama wanita lain.


"telnyata ayah pengecut ya, belaninya hanya mengacam bunda.


Ayah pemohobong, laki-laki yang lemah dan tidak punya pelasaan."


Mas Fahar hanya terdiam saat dikatai anaknya demikian dan perempuan muda itu seperti tidak merasa bersalah dengan tindakannya.


"apaan sih? eh bocil, apa kamu tidak diajarkan orang tua Mu sopan santun?"


Tatapan mata perempuan itu seperti ingin menerkam Elfata.


"kamu yang sepertinya tidak pernah di ajari sopan santun oleh orang tua Mu, apa kamu ngak malu pacaran sama suami orang?"


"cukup bunda, lebih baik kita pulang."


Sanggah Elfata dan menarik tangan ku, lalu kami berjalan ke arah kasir dan membayar pesanan kami yang belum sempat kami makan.


"makanan dan minuman nya biar kami bungkus ya Bu, mohon tunggu sebentar aja."


"ngak Pellu kak, kakak ambil aja. kami sudah kenyang melihat pelempuan itu."


Jawaban Elfata membuat kasir itu terdiam lalu menarik tangan Ku, dan uak Jarvis mengikuti kami dari belakang.


Turun ke arah parkir melalui lift, kemudian kami naik ke mobil dan uak Jarvis menyalakan mesin mobilnya.


Hanya suara mesin mobil yang terdengar, ocehan dari Elfata sudah tidak bergema lagi. kami hanya terdiam sepanjang perjalanan.


Sesampainya di rumah, Elfata langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Mpok Nori yang melihatnya langsung mengeruhku menyusul Elfata ke kamarnya untuk membujuk Elfata.


__ADS_2