
POV Fahar.*
Anisa dan anaknya yang bernama Adam Elfata, sudah berada diatas panggung.
Dari arah kursi VIP ada seorang pria yang menangis, air matanya semakin deras ketika melihat senyuman dari kedua orang yang di kenalnya di atas panggung tersebut.
"bapak-ibu sekalian, selain dari karya-karya yang sudah kami sebutkan tadi. sudah tiga puluh karya-karya yang lain dari ibu Anisa yang sudah di adopsi menjadi serial film di negeri ini dan juga di luar negeri.
Sebelum kami memberikan penghargaan kepada author berprestasi yaitu ibu Anisa, alangkah lebih baiknya kita mendengar kisah atau perjuangan dari ibu Anisa.
Bu Anisa, kami segenap yang hadir disini. ingin mendengarkan kisah ibu dan sedikit kiat-kiatnya agar author yang lain semakin bersemangat dalam berkarya."
Anisa tersenyum dan kemudian mengambil alih mickropon yang ada dihadapannya.
"pertama-tama saya mengucapkan segala puji syukur kehadirat Tuhan yang maha Kuasa, sehingga saya dan Anakku yang sok imut ini."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Suar tawa dari para hadirin, karena tingkah dari Elfata yang menggelitik para audiens.
Berbeda dengan Fahar, dia tersenyum tapi air matanya mengalir deras di pipi Nya.
"sehingga kami berdua bisa hadir ditempat ini dalam keadaan sehat, ini adalah hadiah dan anugerah dari Sang Pencipta untuk kami berdua.
lupa mau ngomong apa lagi, padahal tadi dah ku hapal loh. Tiba disini jadi lupa, bantuan bunda dong."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Suara tawa dari audiens yang keras, karena melihat tingkah Anisa yang lupa kata sambutannya dan tingkah lucu dari anaknya yang membuat hadirin tertawa.
"telimakasih..."
"perkenalan dulu anak ganteng."
Ralat dari pembaca kategori, dan tingkahnya Elfata yang lucu mengundang gelak tawa dari para hadirin.
"nama bunda, Anisa cantik...
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Suara gelak tawa lagi, karena tingkah lakunya yang membuat para hadirin tergilit hatinya. berbeda dengan Fahar, tatapan matanya yang terpancar kerinduan dan kebahagiaan nya melihat Anisa dan anaknya.
"nama saya Adam Elfata, yang artinya pria penyayang, yang akan selalu menyayangi bunda Ku."
uaaaaaaaa........
Ujar para hadirin yang salut mendengar ucapan dari Elfata.
"telimakasih kepada flatton yang .....
Elfata berhenti bicara karena suara gelak tawa dari para hadirin, karena Elfata tidak menyebutkan huruf 'R' alias cadel.
__ADS_1
"yang menghalgai kalya-kalya bunda ku yang lual biasa. telimakasih kepada oma, mas Bani dan bude.
kalena selalu membelikan semangat buat bunda untuk telus belkalya.
Elfata juga mengucapkan telimakasih kepada bunda, kalna sudah mencintai dan menyayangi Fata.
Love you bunda.....
prok.... prok.... prok.... prok...
Suara tepuk dari hadirin dan siulan yang mengakhiri kata sambutan dari Elfata dan Mamanya.
"terimakasih bu anisa dan Elfata untuk kata sambutannya."
"sama-sama om"
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Gelak tawa dari para hadirin karena Elfata menyahuti ucapan dari pembaca kategori tersebut.
"baik bapak-ibu, saatnya adalah pemberian piagam dan penghargaan. untuk ini kami memanggil CEO dari group Wijaya.
Kepada bapak Fahar Wijaya, kami persilahkan ke panggung untuk memberikan piagam dan penghargaan kepada author berprestasi dan bergengsi."
Prok.... prok.... prok.... prok...
Suara tepuk tangan dari hadirin yang menyambut Fahar, terlihat dia menghapus air matanya dan berusaha tegar.
Sean dan Renta langsung datang mendekat, tujuan untuk menjelaskan kejadian kemarin. Fahar, Sean dan Renta sudah diatas panggung. sementara Elfata menarik mama nya menjauh dari mereka bertiga.
"kenapa Elfata?"
Pembaca kategori itu bertanya kepada Elfata, karena terlihat ketakutan.
"om itu yang mau menculik Elfata, ayo kita pulang aja bunda."
Jawab Elfata sembari menarik tangan bunda Nya untuk turun dari panggung.
Para hadirin terlihat kaget, karena ekspresi dari Elfata yang sangat ketakutan.
"kami ngak mau menculik mu Elfata, kami hanya ingin ngobrol dengan mu aja."
"Tante bohong, kenapa terus mengikuti Elfata di taman itu?"
Jawab Elfata kepada Renta, yang mencoba untuk menjelaskan kejadian tersebut.
Melihat anaknya yang ketakutan, Anisa menggendong Elfata. kini raut wajahnya sudah beda, ada ketakutan yang tersirat dari pancaran sinar matanya.
"Elfata sayang, tante mengira kamu itu keponakan tante. kami mengejar mu hanya ingin memperjelas nya, tapi Elfata sudah ketakutan."
"emangnya keponakan tante kemana?"
__ADS_1
Penjelasan dari Renta dibalas pertanyaan oleh Elfata, yang kini sudah mulai tidak takut lagi.
"janjinya mau ketemuan di taman itu sayang, maafkan tante dan teman-teman tante ya. maaf karena sudah membuat Elfata kaget dan takut."
"Elfata ngak takut kok, hanya aja nanti bunda ngak ada temannya. kasian nanti bunda nyaliin Fata ke semua tempat."
"anak hebat, sini dong. Tante dan teman-temannya tante mau mintak maaf."
Akhirnya Elfata mau mendekat ke arah Renta, tapi tidak ke Fahar dan Sean. seketika itu juga Renta langsung memeluk Elfata dan kemudian memeluk Anisa.
"Renta kangen sama ibu, kangen sekali."
Ucap Renta ketika memeluk Anisa, tapi tidak merespon Nya.
Fahar menyerahkan piala dan juga piagam penghargaan serta menyerahkan secara simbolis uang tunai senilai satu milyar Rupiah.
Anisa dan putra Nya langsung beranjak turun panggung karena ditarik oleh Elfata.
"Marisa.... tunggu Marisa."
Pinta Fahar melalui mickropon yang di tangannya, terlihat para hadirin yang terkejut dengan sebutan nama yang berbeda dari Fahar.
Tapi panggilan itu tidak di indahkan oleh Anisa, piagam dan penghargaan tersebut diberikannya kepada Elfata, lalu mencopot sepatunya, kemudian menggendong anaknya.
Anisa berjalan setengah berlari dengan menggandeng anaknya, dan itu menjadi bahan perhatian bagi yang lainnya.
'apa yang terjadi? kenapa pak Fahar mengejar Nya'
Terdengar ucapan dari yang lainnya, seketika itu terlihat Nining, Bani anaknya serta ibu Margono menghampiri Anisa dan berjalan cepat setengah berlari.
Sampailah di pintu keluar ballroom dan ternyata langkah kaki Fahar jauh lebih dari mereka.
Sean dan Renta mengikuti Fahar yang berlari mendekati Anisa dan keluarganya itu.
Anisa berhenti karena Fahar sudah didepannya, lalu ibu Margona mengambil Elfata dari gendongan Anisa.
"Marisa, mas rindu kepadamu."
"lepas.... lepaskan....."
Fahar memeluk Anisa yang dipanggil nya Marisa, dan tentunya yang dipeluknya meronta-ronta.
Elfata memaksa turun dari gendongan oma nya, lalu mendekati Fahar dari belakang tubuhnya.
Plak...... brak.....
Elfata memukul Fahar dengan piala serta tersebut, hingga piala itu patah dan piagam nya hancur berantakan di lantai.
Fahar melepaskan pelukannya dan air matanya mengalir melihat Elfata yang sudah menangis setelah memukul Nya.
"jangan kau sakiti bunda Ku, kemarin kau mau menculik Ku, sekalang kau menyakiti bunda Ku."
__ADS_1
Ujar Elfata seraya mengambil pas bunga yang ada disampingnya dan kemudian melempar nya ke arah Fahar.