
Elfata akhirnya siuman juga dan tatapannya yang sayu menoleh Ku dan air matanya yang mengalir saat melihat kami berpelukan dengan oma nya.
"maafkan Elfata yang bunda, kalna Elfata ngak bisa jaga oma dan mas Bani."
Ujar Elfata dan aku langsung berlari dan memeluknya.
Demikian juga dengan Bani yang akhirnya siuman, dan begitu lega hati ini melihat anak-anak dan Oma nya sudah siuman.
"bunda, Elfata udah menaruh pelacak di saku om Nandes.
buka aja handphone bunda, bial bisa melacak kebeladaan om Nandes."
Lalu Sean meminta handphone Ku dan terlihat begitu sibuk memainkan handphone milikku.
Kemudian meraih handphone nya dan menghubungi seseorang, setelah selesai menelpon lalu mondar-mandir.
Tidak berapa lama kemudian, handphone nya berdering lagi. selesai menerima telepon wajahnya langsung ceria.
"namanya Fernandes, berdasarkan penyelidikan dan investigasi dari empat tampilan sisi TV, pria sengaja menabrak bu Margona dan anak-anak.
Sudah berhasil di tangkap di kapal nelayan, GPS pelacak itu luar biasa.
Elfata, kapan masukkan pelacak itu disaku nya dan dapat dari mana alat pelacak itu?"
Lalu Elfata menatap Sean, kemudian menoleh ke arahku.
anakKu itu selalu meminta persetujuan ku untuk berkata sesuatu yang dianggap nya rahasia dan kedipan mata dariKu pertanda setuju.
"itu Elfata buat sendili dan dibantu oleh mas Bani.
Ketika kami sudah di tablak oleh om Nandes, lalu menalu kami di pinggil jalan dan saat itulah Elfata menaluh pelacak itu di saku jasnya."
Sean berdecak kagum dengan apa yang di ucapkan oleh Elfata, walaupun Elfata masih cadel tapi ucapannya mudah untuk dimengerti.
"luar biasa, anak sama bapak. sama-sama jenius."
Ungkapnya dan mas Fahar pun menoleh ke Sean dan kemudian tersenyum.
"om-om ngapain pada kemali, mau nyakitin bunda lagi ya?"
Fahar mendekati nya, terlihat matanya yang berkaca-kaca lalu memegang tangan Elfata.
"maafkan ayah ya sayang, maaf karena tidak menjaga mu dengan benar.
Saya ayah mu nak, kalau ngak percaya. coba tanya sama bunda mu."
__ADS_1
Elfata langsung menarik tangannya dari genggaman mas Fahar, sepertinya Elfata belum bisa menerima kehadiran ayah kandungnya.
"om mengancam bunda, Elfata udah mendengal semuanya om.
Om yang meninggalkan bunda, lalu datang lagi dan mengancam bunda.
Ayah macam apa sepelti itu?"
Untuk kesekian kalinya Elfata mematahkan pengakuan ayahnya, mata yang berkaca-kaca itu sudah berubah menjadi air mata yang mengalir di pipinya.
"Elfata tahu darimana?"
Lalu Elfata menunjukkan ke arah tas, kemudian Sean mengambil tas tersebut dan mengambil notepad dari tas Elfata.
Sean membuka notepad itu, lalu melihat program yang sedang terbuka lalu memutar rekaman suara.
Terdengar percakapan Nuri putri tetangga kami kepada mpok yang bertanya keadaan Elfata dan Bani serta oma nya kepada mpok Inam.
Demikian juga suara Ina, yang terdengar sangat kwatir, tapi setelah dijelaskan oleh mpok Inam, kalau keadaan Elfata dan masnya Bani serta oma nya yang sudah siuman.
Barulah suara lega terdengar, percakapan mereka begitu terdengar jelas.
"waouuuuu.....
Kamu memang luar biasa Elfata, dapat ide dari mana buat seperti ini?
"enak aja, ilmu itu mahal om."
Hanya Sean yang tertawa mendengar jawaban dari Elfata, sementara mas Fahar dan Renta terdiam.
"om memang olang kaya, tapi tidak semua hal bisa dibeli dengan uang mu itu om. Elfata sama bunda, mas Bani, bude dan oma tidak akan bisa om beli.
Sebaiknya om pulang, cali aja wanita yang lain yang bisa om beli."
Sean kemudian menaruh notepad ke tas Elfata lagi, lalu kemudian duduk di kursi yang menghadap ke arah Elfata.
Mas Fahar hanya terdiam karena ucapan dari Elfata yang membuat nya mati kutu seketika.
"Elfata mau ngak dengar cerita masa kecil Om?"
"mau..."
Jawab Elfata kepada Sean, dan terlihat Sean berusaha untuk berpikir keras untuk mengucapkan sesuatu hal kepada Elfata agar tidak mati kutu seperti mas Fahar.
"dulu om juga tidak tahu siapa ayah kandungnya om, karena tidak pernah om lihat.
__ADS_1
Suatu hari ketika om saat itu pulang sekolah, ada seorang laki-laki yang berbadan sangar mendatangi mama nya om.
Om mengira kalau laki-laki itu hendak menyakiti mama, tapi ternyata ngak.
Laki-laki itu adalah ayah kandungnya om, dia bersujud kepada kami berdua agar kembali kepada kami.
Dulu ayah om itu dipengaruhi oleh mama nya, agar membuang Om dan mama.
Awalnya om sama mama menolak nya, tapi karena perjuangan kepada kami berdua dan akhirnya mama dan ayah om menikah lagi.
Om hanya mau menyampaikan, penyesalan itu memang selalu datang terlambat.
Tapi pertobatan tidak ada terlambat, selama kita masih bernapas."
"maksud om, kalau ayah kandungnya ini sudah menyesal dan beltobat gitu?"
Sean kemudian menoleh Elfata, matanya yang berkaca-kaca dan air matanya yang mengalir, lalu menghapus air mata itu.
"om Sean ini adalah sepupu dengan ayah mu ini, mungkin nantinya akan terkesan kalau om membela Nya.
Ini dari sudut pandang om ya, Elfata menyakini atau ngak itu terserah Elfata.
Mas Fahar ini adalah orang yang agak keras kepala, jenius dan penyayang.
Mas ku ini sudah sangat lama menyukai mama mu, tapi almarhumah bude atau oma nya kamu itu tidak merestuinya alasannya karena mama mu itu putri dari asisten rumah tangga.
Terjadilah pernikahan itu, dan ayah mu dipengaruhi oleh bude yaitu mama kandung nya, yang akhirnya membuat bunda mu terusir dari rumah.
Setelah mengetahui berita yang sebenarnya, bude akhirnya meninggal dengan cara gantung diri.
Ayah mu menyesali perbuatannya, dan sudah mengelontorkan uang yang banyak untuk mencari kalian berdua.
Bahkan ayah mu sering mengigau kalau masih bersama bunda mu ini.
Sepertinya ayah mu ini belum bisa menerima kepergian bunda mu dari sisi Nya.
Secara terang-terangan dihadapan om, bahwa hanya bunda mu yang ada dipikirannya, tidak terlintas sedikitpun wanita lain di pikiran Nya."
Mendengar penjelasan dari Sean, hanya senyuman kecut dari Elfata yang didapatkan Nya, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Sean, atau mungkin tidak mengerti kali ya.
"om ini kayak memperkenalkan suatu balang agal di beli olang lain ya."
Sean terdiam karena akhirnya kena mental atas sanggahan dari Elfata, hanya Renta yang tersenyum dan berusaha menahan tawa.
Luar biasa memang, sekelas mas Fahar bisa di bungkam oleh Elfata yang masih duduk di taman kanak-kanak.
__ADS_1
Selama ini Elfata tidak pernah memojokkan siapapun dengan pertanyaan Nya, walaupun aku terkadang bingung menjawab pertanyaannya.
Tapi syukur selama ini Elfata tidak bertanya tentang ayah kandungnya.