
Setelah bangun tidur rasanya rileks, seketika beban pikiran hilang semua, lalu berjalan perlahan menuju pintu keluar karena suara ketukan pintu itu, sepertinya aku kedatangan tamu.
Mata aku kucek dan melakukannya lagi, seakan-akan aku sedang bermimpi atau halusinasi saja.
"ini aku Fernandes, kamu tidak mimpi Marisa."
Ucapnya dan kemudian memperhatikan pria yang dihadapan ku ini, dan kemudian menoleh jam dinding itu, ternyata sudah pukul empat sore.
"Fernandes, tahu dari mana kalau aku tinggal disini?"
Fernandes tersenyum dan langsung masuk kedalam rumah tanpa dipersilahkan, lalu duduk di ruang sofa.
"aku melacak keberadaan handphone Mu melalui nomor handphone, kenapa kamu pergi tanpa pamit? ini kedua kalinya kamu melakukannya."
"saya tidak punya kewajiban untuk pamit kepada kamu Fernandes, kamu itu bukan siapa-siapa Ku."
Tatapannya penuh dengan kekecewaan, tapi aku tidak menghiraukannya. karena Fernandes bukan siapa-siapa bagiku.
"disini cuman hanya tinggal tiga perempuan janda dan dua anak kecil, tidak etis jika kamu berlama-lama disini."
"aku kangen sama kamu Marisa, aku cinta sama kamu."
Sanggahan dari Fernandes membuat Ku benar-benar pusing, karena sampai saat ini. hatiku ini masih tertutup rapat untuk laki-laki.
Trauma yang dari masa lalu yang membuat hati ini masih tertutup rapat.
"daerah ini masih kental dengan Adat istiadatnya, jangan sampai kita menjadi bahan amukan warga.
Pergilah dan lupakan aku, percuma kamu datang kemari.
Saya belum bisa menerima laki-laki dalam hidup ku, maaf aku tidak bisa menerima mu."
Matanya berkaca-kaca menatap Ku, tapi itu tidak menggoyahkan hati ini. hati yang masih tertutup.
"kamu menolak Ku? bukankah kamu setuju untuk memberikan aku kesempatan?"
"iya, aku menolak mu. kesempatan mu hanya di Bali itu aja, dan ternyata aku belum bisa menerima kehadiran seorang pria di hatiku."
Terlihat air mata Fernandes mengalir di pipinya dan tatapan itu begitu sayu.
"aku belum menyerah, untuk sementara waktu aku akan tinggal di daerah sini."
Ucap Fernandes lalu pergi, dan aku hanya terduduk lemas.
Kehidupan Ku yang selama dua tahun ini sudah tenang dan bahagia, kini kembali terusik lagi karena kehadiran pria dari masa laluku, pria yang pernah ada di hatiku.
"bunda kok duduk disini? bunda sakit ya?"
Air mata ku kini semakin deras mengalir, karena kehadiran Elfata di depanku.
Aku takut kehilangannya, karena Fahar tentunya akan menggugat hak Asuh.
Elfata aku peluk erat, karena dialah sumber penyemangat Ku.
__ADS_1
Lalu aku gendong Elfata masuk ke kamar ku, dan lagi-lagi aku memeluknya.
"Bunda mau jujur sama Elfata, bunda harap Elfata tidak meninggalkan bunda."
"bunda....
Sekalipun dunia ini luntuh, Elfata akan tetap belsama bunda."
Kali ini Elfata yang memelukKu, dan kemudian menyeka air mataku.
"om yang mengakui ayah mu itu, waktu di Bali itu sayang, itu adalah ayah kandung mu.
bunda bohong tentang ayah mu, karena bunda sudah berpisah dengan ayah mu.
Ayah mu itu adalah orang yang paling kaya raya, mungkin ayah mu akan mengambil Elfata dari bunda."
Kami berdua lagi-lagi berpelukan, aku ngak tahu apakah Elfata mengerti apa yang aku sampaikan kepada nya.
"siapapun itu bunda dan sekaya apapun om itu, Elfata akan tetap bersama bunda."
Ucapan manis dari Elfata bisa menyejukkan hati ini, tapi apakah kami berdua akan bersama?.
Tok.... tok.... tok.....
"pria itu datang, pria yang mengaku sebagai ayah dari Elfata."
Ucap bu Margona, yang memberiku syok. dan Elfata memelukku lagi.
Fahar dan Sean berdiri saat menyambut kami berdua, tatapan yang berbeda dari Fahar yang begitu sayu saat menatapku.
"mau ngapain lagi om? Belum puas buat bunda Ku menangis?"
Pertanyaan yang menjadi sapaan dari Elfata mewakili hatiku.
"saya ayah mu, ayah datang kemari untuk minta maaf. ayah kangen sama kalian berdua."
"apa buktinya kalau Elfata om?"
Pertanyaan dari Elfata membuat Fahar terdiam, iya tentunya dia tidak bisa menjawabnya.
Lalu Fahar meraih handphonenya, kemudian memberikannya kepada Elfata.
Gambar USG kandungan ku yang terakhir, di klinik yang mewah itu.
Sepertinya Fahar lupa mengganti keterangan di sisi penjelasan dari USG yang menyatakan kalau janinnya adalah perempuan.
lagi pula apa artinya memberikan bukti itu kepada Elfata? emangnya Elfata paham akan USG itu?
"bunda, disini teltulis pelempuan. maksudnya apa bunda?"
Suara langkah kaki bu Margona, seketika menghentikan pertanyaan dari Elfata yang masih cadel.
"itu artinya, kalau anak om itu perempuan."
__ADS_1
Jawab bu Margona yang datang membawa minuman untuk tamu yang tidak aku harapkan kedatangannya.
"oh.... jadi anak om ini pelempuan, tapi kenapa Elfata, om bilang anak om? om sehat?"
Seketika itu Fahar langsung mengambil handphone tersebut dan menyimpannya di saku sweater yang mirip jas tersebut.
"saya telah ditipu oleh mama ku sendiri, dia yang merekayasa semua ini. karena tipu daya itu, kalian berdua saya telantarkan."
Elfata yang mendengarnya seperti berpikir, lalu menatapku dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
"kok sama ya sama ceritanya om Jepli itu, apa om ini sepupu sama om Jepli?"
"maksudnya apa Elfata?"
Elfata menatap serius ke arah asistennya Fahar yang bernama Sean itu.
"lupa Elfata kapan waktunya, tapi ada juga om-om yang belnama Jepli, ngomong nya pelsis seperti yang di ucapkan om ini.
Om Jepli juga ngaku sebagai ayah kandungnya Elfata.
sudahlah om, tellalu banyak om-om yang mengaku sebagai ayah kandungnya Elfata.
Mendingan om pulang, om bau ketek."
Untuk kesekian kalinya, omongan Fahar dipatahkan oleh anaknya sendiri.
Asisten Fahar terlihat menahan tawanya, tapi sang tuan muda menahan rasa malunya.
"banyak juga saingan mu ya mas bos."
Ujar asistennya itu dan akhirnya tertawa juga, dan Elfata yang melihatnya menjadi heran dan kaget.
"saringan, maksudnya kalau om mau menikahi bunda ya? sama dong dengan niat om Fernandes."
"om Fernandes itu siapa Elfata?"
"om kepo deh, dah kyak si jelita. pengen tau aja ulusan olang."
Jawab Elfata yang membuat Sean asisten nya Fahar terdiam seketika.
"bu Marisa....."
Wanita cantik yang menjadi sekretaris Fahar datang dan memelukku, sebenarnya aku kangen kepadanya makanya pelukannya aku balas.
"ibu kemana aja? capek Renta nyariin ibu."
Renta lagi-lagi memelukku dan Elfata juga mendekati kami.
Terlihat anakKu itu bingung, itu dikarenakan Renta memanggilku ibu dan memelukku berulangkali.
Seperti seorang anak yang baru bertemu ibunya, begitulah pelukan Renta kepadaKu.
Elfata yang menyaksikannya dan heran melihat tingkah kami.
__ADS_1