AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Cerai


__ADS_3

Sinar matahari pagi telah mengusik gelapnya malam, dan sinar matahari itu membangunkan tidur yang nyenyak.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, lalu aku membangunkan mas Fahar untuk segera mandi.


Mas Fahar sudah melangkah ke kamar mandi, dan aku menyiapkan pakaian nya.


Selesai berpakaian lalu kami berdua menuju ruang makan, belum juga makan. nyonya Rina sudah datang ke rumah ini dan langsung duduk di meja makan.


"anak babu, sana makan di dapur."


Mpok Nori langsung membantu Ku berdiri dan membawa Ku ke dapur, mas Fahar tidak membela sama sekali.


Mas Fahar hanya terdiam di kursinya sambil mengambil lauk ke piringnya, dia sama sekali tidak melihat Ku yang diperlakukan buruk oleh maminya.


Rasanya aneh, kemarin itu mas Fahar begitu membela ku dihadapan mama dan juga adik-adik tirinya.


Tapi kenapa sekarang mas Fahar berubah, dia seperti orang lain saat ini.


Kemudian mpok Nori menyiapkan makanan dan minuman untuk Ku, dan kami berdua sarapan bersama.


"Marisa....."


Mas Fahar memanggil Ku dari arah ruang tamu, untungnya aku selesai makan.


"ayo kita berangkat."


Ucap mas Fahar, sorot mata sang nyonya Rina begitu kejam terhadap ku.


Mpok Nori menggandeng tanganku hingga ke arah mobil dan membantu masuk kedalam mobil.


Mas Fahar dan nyonya Rina duduk di depan, sementara aku berada dibelakang kemudi, dan lagi-lagi Fika harus diantara kami.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, karena macetnya jalan. akhirnya kami sampai juga di Klinik.


Klinik ini berbeda dari yang kemarin, menurut pengakuan sang nyonya Rina. klinik ini jauh lebih bagus dan peralatan medisnya juga jauh lebih canggih.


Dari ruangan yang berbeda, saya seperti melihat pak Damar keluar, yaitu suami barunya sang nyonya Rina.


Aku dan mas Fahar langsung dibawa oleh sang nyonya Rina ke sebuah ruangan lagi, seolah-olah agar tidak melihat pak Damar yang baru keluar itu.


Seorang dokter perempuan paru baya yang memakai jubah putih bersama dua perawat muda nan cantik, menyambut kami dengan senyuman.

__ADS_1


Kami sudah seperti tamu VVIP di Klinik ini, karena tadi aku melihat beberapa pasang suami istri sedang antri.


Sementara kami langsung masuk aja tanpa antri, mungkin aku yang terlalu berlebihan. saya melihat seperti ada kejanggalan di ruangan dokter ini.


Mungkin ini hanya perasaanku aja, dan dokter itu bertanya kehamilan Ku kepada sang nyonya Rina.


Benar-benar aneh, seharusnya dokter itu bertanya kepada saya bukan ke sang nyonya. beliau seolah-olah menjadi juru bicara Ku.


Kemudian aku disuruh berbaring di ranjang tersebut, perut di olesi gel dan alat itu diarahkan ke perut Ku.


"perkembangan bayi bagus dan sempurna, ibunya telaten nih. pertahankan ya ibu cantik."


Ucap dokter itu sembari fokus ke perutku dan layar monitor tersebut.


"dokter, apakah bisa kami ketahui jenis kelaminnya cucu ku?"


Ucap sang nyonya Rina, hanya beliau yang terlihat begitu bersemangat untuk mengetahui jenis kelamin anak yang saya kandung ini.


"menurut hasil USG ini, cucu ibu adalah perempuan. tapi ini hanyalah mesin, lebih pastinya setelah anak lahir."


Mas Fahar langsung menoleh Ku, tatapannya terlihat begitu kecewa terhadap Ku.


Dokter itu berhenti memainkan alat yang dipegangnya, lalu menoleh ku dan kemudian menoleh mas Fahar.


"saya bicara dari segi medis dan peralatan medis yang ada disini. persentase nya sekitar delapan puluh persen, tapi ini adalah prediksi.


Tapi saya tidak bisa menjamin kalau calon anak bapak dan ibu ini adalah perempuan, saya tidak mau mendahului Tuhan Ku.


Saya hanyalah seorang dokter, yang mengukur semua berdasarkan ilmu medis. segala kepastiannya adalah milik Tuhan."


Ucap dokter tersebut dan langsung mengakhiri sesi USG, dan perawat langsung membersihkan gel yang ada dalam perutku dengan menggunakan kapas yang sudah basah.


kemudian kami duduk di hadapan dokter, tapi tatapan dokter seolah-olah tidak yakin dengan semua pernyataan Nya.


"saya hanya meresepkan vitamin dan juga susu hamil, jaga pola makan dan hindari stres ya ibu. nanti tebus di apotik aja Klinik ya."


Kami langsung pulang dan selama perjalanan, semuanya terdiam. terlihat Fika dan sang nyonya Rina begitu bahagia.


Apalagi Fika yang duduk disamping Ku, senyuman yang begitu menyakitkan.


Sesampai di rumah sang nyonya Rina langsung menyuruh ku duduk, begitu juga dengan mas Fahar.

__ADS_1


"sesuai dengan perjanjian pranikah kita, dengan berat hati mas.


Saya Fahar Wijaya, dengan menyatakan jatuh lah talak kepadamu wahai Marisa dan mulai hari ini, kamu bukan lagi jadi Istriku.


Segala tindak tanduk mu sudah tidak menjadi tanggung jawab Ku.


Selanjutnya saya akan memberikan kompensasi seperti yang saya janjikan untuk mu, senilai lima ratus juta Rupiah.


Pembayaran awal dua ratus juga dan sekarang, saya hanya tinggal membayar tiga ratus juta lagi.


Marisa, kirimkan nomor rekening mu. nanti mas akan transfer."


Perlahan air mataku mengalir dan aku hanya mengangguk, lidah ku rasa nya kelu dan sulit untuk mengucapkan sepatah kata pun dari mulut ini.


"mas berikan waktu dua hari dari sekarang untuk meninggalkan rumah ini, beresken semua barang-barang mu dan pergi dari sini."


"baik tuan muda, kalau begitu saya mohon pamit untuk ke kamar. saya mau beres-beres, saya usahakan untuk secepatnya pergi dari rumah ini."


Tatapan aneh itu ku lihat dari mas Fahar, mungkin itu adalah tatapan rasa kasihan. karena seorang wanita hamil yang sudah mencapai usia enam bulan.


"kamu mau kemana setelah ini?"


Tanya mas Fahar dengan matanya yang berkaca-kaca, dan sangat sulit untuk mengartikan tatapan itu.


"entahlah tuan muda, saya hanya mengikuti kemanapun kaki ini melangkah. jika lelah istrihat dan kemudian lanjut lagi.


Asalkan aku jauh dari hidup tuan muda, harapan ku sudah terwujud. kalau anak yang aku kandung adalah perempuan, yang artinya akan menjadi temanku nantinya.


Terimakasih ya tuan muda untuk segalanya, sesuai dengan perjanjian. anak ini tidak akan menjadi anak mu lagi, jika suatu saat kita bertemu, anggap aja kita adalah orang lain yang tidak pernah kenal.


Terimakasih karena sudah menampung Marisa dan almarhumah mama disini, terimakasih karena sudah pernah menjadi suami Ku."


Air mata aku hapus, dan berjalan perlahan menuju kamar.


Sesampai di kamar lalu duduk di meja rias yang sekaligus saya pakai untuk belajar, lagi-lagi air mata mengalir lagi.


"Marisa...."


Ucap mas Fahar yang sudah tiba di kamar ini, dan air mataku langsung aku hapus. agar tidak terlihat lemah dihadapan sang tuan muda ini.


Tatapan aneh dari mas Fahar dan itu benar-benar tidak bisa aku artikan.

__ADS_1


__ADS_2