
Elfata yang duduk di kursi belajarnya sambil menggambar di notepad nya, sesekali Ia menyeka air matanya.
"bunda kok di cuekin sayang?"
Tatapannya yang sayu membuat hatiku teriris, jika di ingat kembali dengan perlakuan mas Fahar, rasanya ingin kabur dari rumah mewah ini dan hidup berdua lagi bersama Elfata.
Kehidupan yang tenang tanpa tatapan sayu dari Elfata.
"kita halus ngapain bunda?"
Aku langsung memeluk Elfata, untuk mengurangi kesedihannya.
"nanti bunda akan bicara dengan ayah mu, bunda juga perlu kepastian dari Papa Mu."
"iya udah bunda, istlihat aja. temani Elfata disini ya."
Pintanya yang begitu sederhana, lalu kami berdua rebahan di ranjangnya.
tok.... tok.....
Baru rasanya terlelap dan terdengar suara pintu di ketuk, perlahan bangkit dari ranjang agar tidak membangunkan Elfata lalu berjalan menuju pintu kamar.
"kita perlu bicara."
Mas Fahar berkata demikian dan kemudian meraih tangan Ku lalu kami berjalan ke arah kamar.
Mas Fahar sudah duduk di kursi rias itu, dan tidak lupa untuk mengunci pintu kamar.
"jangan salah paham, perempuan itu adalah calon investor perusahaan. tidak terjadi apa-apa diantara kami."
"lalu aku harus mempercayai ucapan mu mas? terus aku gimana?"
Sepertinya alasan kamuflasenya saja, atau mas Fahar takut ketahuan selingkuh?
"kamu jangan cemburu gitu, kamu juga sudah bermain gila sama Agam. kamu mau balas dendam ya?"
"Agam itu siapa mas? saya tidak mengenal siapa itu Agam.
Mas bisa lihat sendiri kemana saya pergi dan bersama siapa?
Di rumah ini ada Mpok Nori dan bu Ani, serta ibu Margono dan juga mbak Nining. mas juga bisa bertanya kepada uak Jarvis.
Ngak usah nuduh seperti itu, mas itu hanya mencari-cari alasan untuk mengalahkan aku.
Sekarang saya mau tanya, mau nya mas sebenarnya apa?"
"saya hanya kamu mengerti keadaanku."
"keadaan apa mas? si investor itu? investor atau pelakor yang mas pelihara?
Jika seperti ini terus, lebih baik kita pisah mas. ternyata mas ngak pernah berubah, saya ngak butuh semua harta mu.
Saya hanya bersama Elfata, silahkan ambil semua kecuali Elfata.
__ADS_1
Selama ini kami hidup bahagia mas, tidak ada salahnya untuk mencoba kembali kepada mu mas, itu demi Elfata.
Jujur aku sangat mencintaimu dan menyayangi mu, tapi jika ini menyangkut Elfata, maka saya bersedia untuk mundur."
Mas Fahar langsung berdiri dan tatapannya yang tajam seperti tidak menerima apapun yang aku katakan.
"kau ingin bercerai dari Ku? hebat kamu ya, setelah mendapatkan semua harta ku, lalu kamu bersama Agam, luar biasa."
"kamu kenapa sih mas? kan sudah berulangkali aku bilang, saya tidak mengenal Agam.
Tenang mas, saya tidak memintak harta mu. saya hanya Elfata.
Sekali lagi saya jelaskan, saya tidak mengenal Agam."
Dengan berderai air mata, lalu keluar dari kamar tersebut menuju kamarnya Elfata.
Sangat kaget ketika melihat Elfata sesedih itu saat melihat berdiri di depan Nya, sepertinya Elfata mendengar perdebatan kami barusan.
Lalu Elfata memberikan handphone Nya, dimana sebuah video yang sedang di putar di handphone tersebut.
"video itu di kilim fans bunda, yang katanya bekelja di hotel."
Video mas Fahar sedang berhubungan badan dengan wanita yang kami lihat tadi siang, tapi kenapa video itu bisa di kirim ke Elfata yang masih duduk di taman kanak-kanak.
Ya Tuhanku......
Kenapa bisa jadi seperti ini?
Fans nya bunda sengaja mengilimkan itu untuk konfilmasi, selanjutnya video itu sudah beledal itu.
mungkin besok atau lusa, akan banyak waltawan yang mendatangi lumah ini."
drrt.... drrrt.... drrrt.....
Elfata berhenti bicara ketika aku meraih handphone dari saku baju.
'iya mbak Renta, ada apa malam-malam menghubungi seperti ini?'
'itu loh bu, video asusila bapak dengan perempuan itu sudah tersebar di media online.
Saya sudah menghubungi bapak tapi tidak di balas dan demikian juga dengan sean.'
'sebentar ya mbak, mas Fahar ada kok di kamar, ini saya lagi di kamar Elfata.'
Elfata langsung bangkit dari ranjangnya ketika aku hendak keluar dari kamarnya, dan akhirnya kami sama-sama keluar dari kamar ini.
"ini ngak seperti mbak pikir, mas Fahar di jebak orang."
Ujar Sean yang dengan napasnya yang terengah-engah dan ingin menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Kami bertiga lalu duduk di sofa ruang tamu ini, dan tidak berapa lama mas Fahar pun menghampiri kami.
"mas Fahar, gimana ini? apa yang harus kita lakukan?"
__ADS_1
Mas Fahar hanya mengerutkan keningnya ketika Sean terlihat cemas.
"gunakan semua yang punya, lacak siapa yang menyebarkan video itu dan hapus video dari daftar pencarian."
"itu sudah di lakukan, tapi apa benar video itu? apakah itu editan?"
"gila kamu ya, kamu kira saya ini laki-laki apaan? saya punya istri dan anak."
Jawaban dari mas Fahar membuat Elfata berdiri, dan tatapan tajam itu tertuju kepada ayahnya.
"editan ayah bilang? bohong, yang melekam ayah itu adalah fans bunda.
Ayah bukan hanya sekali melakukan itu, tapi sudah seling.
ayah ngak udah melacak siapa penyebal video itu. kalna Elfata yang melakukannya."
Sepertinya mas Fahar tidak percaya akan ucapan anaknya, tapi berbeda dengan Sean yang langsung menarik tangan Elfata dan mereka berdua duduk di sofa lagi.
"kenapa kamu melakukannya sayang? itu ayah mu sendiri Elfata."
"jawab dulu handphone om itu, setelah itu kita bicara."
Sean kemudian menuruti perkataan Elfata, lalu menjawab panggilan telepon tersebut.
Beberapa saat kemudian, wajah Sean langsung berubah seketika. seperti orang yang panik.
Wajahnya merah lalu tanpa disadarinya, handphone miliknya terjatuh ke lantai. akan tetapi Elfata malah tersenyum.
"kenapa Om, video itu di kilim dali media sosial ayah kan?"
Sean menelan ludahnya sendiri, dan terlihat handphone itu kembali bergetar lalu Sean mengambil handphone tersebut.
Setelah selesai menjawab panggilan handphone tersebut, terlihat wajah itu semakin memerah.
Lalu meletakkannya handphone Nya dan menatap Elfata yang tersenyum puas.
"Elfata.....
Kenapa kamu melakukan ini semua?"
"kalna ayah menyakiti bunda, itulah yang halus teljadi, bunda sudah memohon agar ayah membialkan kami berdua hidup damai.
lalu ayah datang membawa luka untuk bunda, ayah sepelti mempelmainkan bunda.
Bunda bukan olang jahat, tapi kenapa ayah menyakiti bunda?"
Tanpa terasa air mata ini mengalir di pipiku, begitu juga dengan Elfata.
Tapi mas Fahar terlihat cuek dan duduk santai di salah satu sofa yang terpisah dari kami.
Tatapan Elfata kepada ayahnya, seperti dendam yang tiada berkesudahan.
Aku tidak menyangka kalau Elfata akan bertindak sejauh ini, anak jenius yang membuat gurunya kewalahan menghadapi Elfata.
__ADS_1