AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Kelahiran Anakku dan Masa Depannya.


__ADS_3

Keluarga Ku yang baru ini sangat membuat diriku bahagia, kerinduanku terhadap mama terobati karena kehadiran bu Margona.


Masakan bu Margona dan perhatian Nya seperti almarhumah mama, saya mendapatkan keluarga baru yang memberikan kebahagiaan bagiKu.


Disini juga aku mempunyai kakak, yaitu mbak Nining menantunya bu Margona, lalu ada Bani yang menambah kebahagiaan keluarga Ku ini.


Kami sudah tinggal serumah, dan bu Margona persis seperti almarhumah mama Ku, yang selalu ngomel.


Terkadang aku memeluknya saat bu Margona ngomel, karena kerinduanku mendengar omelan almarhumah mama.


Pembaca karyaku semakin meningkat drastis dan sudah tercover sempurna oleh bantuan mbak Nining.


Menurut prediksi dari bidan Salma, saya akan melahirkan minggu depan.


Perhatian bu Margono dan juga mbak Nining membuat ku nyaman menghadapi tantangan dunia ini.***


Prediksi dari bidan Salma yang mengharuskan diriku untuk menginap di kliniknya, alhasil bu Margona balik-balik ke klinik dan rumah.


"disini ada perawat dan bidan Salma, ibu ngak perlu lah bolak-balik seperti ini. kasihan ibu jalan terus."


"kamu itu sudah seperti putriku juga, gimana ibu tenang. nak Anisa tenang aja, ibu bisa mengatasinya."


Benar-benar terharu dan membuat semakin tenang, bu Margona dan mbak Marisa yang selalu memberiku semangat.


Sudah pukul sepuluh malam dan bu Margona pulang untuk sementara melihat mbak Nining di rumah.


Jam sebelas malam, sudah mulai kontraksi dan itu sangat sakit dan sakit, kehadiran bu Margona yang selalu memberi ku semangat, mengurangi rasa sakit ini.


Jam dingding sudah menunjukkan pukul dua, dan selama itu aku merasakan sakit yang amat sakit.


"sudah pecah ketuban ya, oke kita siap-siap ya."


Ucapan dari bidan Salma tidak lagi terdengar olehku, sakit teramat sakit. seluruh tulang rusuk ini seperti patah dan pinggul seperti nya kau copot.


'uek.... uek.... uek......'


Akhirnya anakku lahir juga, begitu keluar dan ditempelkan di dadaku. air mata ku semakin deras mengalir.


Kemudian diambil lagi oleh perawat, diberishkan dan kemudian di timbang.


"selamat ibu cantik, anak ibu laki-laki. sehat, berat badan tiga koma enam kilogram. selamat ya ibu, terimakasih karena ibu sangat hebat."

__ADS_1


Aku hanya bisa menangis dan kemudian tertawa lalu tersenyum, demikian juga dengan bu Margono.


Setelah semua bersih, lalu saya di pindahkan ke ruang perawatan.


Segala syukur aku panjatkan, aku dan bayiku selamat tanpa kekurangan apapun.


Asi juga lancar dan bayi mungilku kini sudah bisa minum ASI.


Bayiku kuberi nama Adam Elfata, yang artinya laki-laki pemberi harapan.


"benar kan dugaan saya bu, anak ibu laki-laki, sehat dan tampan.


Oh iya ibu, saya ada kenalan yang bisa membantu untuk mengurus akta kelahiran anak, Kartu indentitas anak, dan lainnya yang berhubungan dengan administrasi kependudukan."


"mau bu bidan, biar ngak repot aja. oh iya bisa sekalian dengan keponakan Ku? anaknya mbak Nining. maklumlah kami berdua sama-sama sibuk kerja."


"oke, nanti biar sekaligus ya bu."


Beres sudah urusan administrasi anak, berhubungan pernikahan Ku dengan mas Fahar secara sirih, dan anakku ini hanyalah anak mama Nya.


Tapi ngak apa-apa yang penting sehat, pintar dan sayang kepadaku dan juga berguna untuk negara.**


Karena melahirkan secara normal, saya bisa pulang cepat ke rumah. karena aku lebih nyaman di rumah ini.


Berhubung fans ku sudah bertambah banyak, dan untuk meringankan kerjaan bu Margono, aku memperkerjakan satu orang lagi, ibu-ibu hanya untuk cuci gosok pakaian serta bersih-bersih rumah.


Sementara bu Margona sebagai juru masak, karena masakannya enak.


Sudah ada dua bayi, kasihan bu Margona jika mengerjakan semuanya. lagi pula mpok Inam membutuhkan pekerjaan.


Sama-sama membutuhkan dan kami sama-sama bekerja.


Anakku dan anak mbak Nining tidak terlalu rewel dan kami bisa leluasa kerja.


Menjadi pembuat komik, sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidup kami.


Tidak henti-hentinya aku mengucapkan syukur atas semua rejeki ini, dan bertambah lagi karya komik ku diadopsi menjadi serial film.


Tentunya akan menambah pundi-pundi keuangan yang bisa membuat keluarga ku bertahan.


Ide bermunculan begitu saja dengan lempang, dan karya komik ku semakin digemari oleh fans.

__ADS_1


Sebenarnya saya di undang ke negara Jakarta untuk mendapatkan penghargaan sekaligus sebagai juru bicara di kalangan komik.


Platform tempat karyaku di publish adalah platform dari Negara Jepang, yang sudah memiliki cabang di Jakarta yang bekerja sama dengan entertainment yang ternama.


Tapi karena masa kehamilan dan juga baru melahirkan, sehingga saya tidak bisa ke sana dan itu diwakilkan oleh platform.


Mereka mengirimkan piagam tersebut ke rumah ini dan langsung aku pajang di ruang tamu.


Nining yang cekatan dan telaten, adalah patner yang terbaik bagiku.


Bersama Nining kami berdua mampu meraih apa yang kami inginkan.


"mbak Nining, tadi saat aku di bank. saya di tawari untuk menabung. dan itu harus menunggu tujuh tahun, dan itu diperuntukkan untuk biaya pendidikan anak.


Kita kan ngak tahu sampai kapan komik kita ini bertahan di masyarakat, jadi kita harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk anak kita."


"iya juga ya, boleh lah. sekaligus mau buat tabungan juga.


Mbak kan disini gratis, jadi nantinya biaya kehidupan sehari-hari akan mbak tabung, untuk masa tua nantinya."


Ide ku di terima oleh mbak Nining, dan akhirnya kami berdua kembali lagi ke Bank.


Masa depan perlu, karena tidak tahu apa yang akan terjadi besok.


Persiapan dan tabungan untuk anak dan juga masa depan, kepopuleran seseorang di dunia entertainment pasti ada masa keemasan dan masa redup Nya.


Setidaknya harus berjaga-jaga dan mempersiapkan diri sejak dini, karena masa depan tidak tahu apa yang akan terjadi.


"iya iya, dengan seperti ini kita bisa mempersiapkan masa depan anak dan juga biaya kita nantinya.


biaya di hari tua, supaya tidak merepotkan anak kita nantinya."


Ucap mbak Nining dan kemudian tersenyum ke arahku.


"benar mbak, karena masa depan siapa yang tahu."


Sanggah Ku kepada mbak Nining dan kemudian kami pulang ke rumah sambil bergandengan tangan.


Jarak antara bank, yang merupakan satu-satunya bank disini. bank milik pemerintah.


Sesampainya di rumah, kami berdua disambut oleh bu Margona dan juga mpok Inam.

__ADS_1


Lalu kami makan siang bersama di samping rumah sembari menikmati kebun sayur.


Angin yang sepoi-sepoi membuat Elfata anakku dan Bani anak mbak Nining tertidur pulas sehingga kami bisa makan dengan tenang dan nikmat.


__ADS_2