
POV Fahar.*
Fahar dan Sean kembali ke ruangan mewah milik Fahar, mereka berdua terlihat lega. karena satu masalah sudah selesai.
Kemudian Sean meraih handphonenya dan menghubungi seseorang, setelah beberapa saat kemudian Sean sudah selesai menelpon.
"mas bos, kita sudah bisa mengeksekusi Damar, papa tiri mu mas bos."
mendengar kata Papa tiri, Fahar hanya tersenyum kecut ke arah sahabat nya itu dan kemudian dibalas senyuman sumiringah oleh Sean karena berhasil mengolok Fahar.
Kemudian mereka berdua keluar dari ruangan dan kebetulan berpapasan dengan Renta.
"saya minta maaf ya pak Fahar, karena sudah terlalu lancang ikut campur urusan pribadi bapak.
tidak seharusnya Renta emosi dan berkata tidak sopan terhadap bapak, maaf karena saya merasakan apa yang dirasakan oleh bu Marisa dan itu adalah naluri sebagai sesama perempuan pak."
Ucap Renta kepada Fahar dan membalasnya dengan senyuman, terlihat Renta sedikit tenang setelah Fahar tersenyum kepadanya.
"kamu melakukannya sebagai sesama perempuan, saya faham kok. terimakasih ya sudah selama ini kepada Marisa, dan saya ingin mintak tolong untuk memantau keberadaan Marisa."
"terimakasih karena bapak sudah mengerti, Renta akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan bu Marisa."
Ucap Marisa, kini pertikaian mereka sudah berakhir.
Fahar dan Sean akhirnya melanjutkan perjalanan mereka untuk pergi ke suatu tempat.
Ternyata Sean membawa Fahar ke sebuah kantor pemerintahan, dan di kantor itu Damar bekerja.
Lalu Sean memberikan dokumen kepada pria yang ada dihadapan mereka, dan pria itu tidak membuka dokumen yang diberikan oleh Sean, malah menatap keduanya dengan tatapan sayu.
"ini adalah bukti korupsi dan nepotisme yang dilakukan Damar, bawahan bapak.
Bawahan bapak sudah merugikan perusahaan kami serta masyarakat Indonesia.
Jika bapak tidak bertindak, maka kami akan segera mengakhiri nya. pastinya reputasi kantor ini dan bapak sebagai pimpinan nya akan menurun dan mengurangi kepercayaan masyarakat pak."
Drajat S.E. MM yang tertulis di papan nama di mejanya, beliau menghela napas panjangnya dan kemudian menatap Sean dengan tatapan layu. kemudian mengambil dokumen dari lacinya dan memberikannya kepada Sean.
"itu adalah surat aduan kami kepada pimpinan kami pak Sean, tapi itu tidak berguna. sekuat apapun kami berteriak dan itu tidak didengar oleh atasan kami.
Kami juga mempunyai sejumlah bukti atas penyelewengan dari pak Damar, tapi sepertinya pak Damar mempunyai bekingan yang kuat pak Sean.
__ADS_1
Sampai saat ini juga pak Damar tidak pernah masuk kantor, kata pimpinan kami, bahwa beliau ada di kantor pusat. sejak kapan pegawai dengan golongan rendah seperti Damar bisa leluasa ke kantor pusat.
Saya tidak perduli dengan reputasi lagi pak, jika bapak hendak melaporkannya silahkan. saya mendukung bapak dan siap bersaksi jika di perlukan.
Bukan hanya bapak yang telah merasa di rugikan, berikut ini adalah daftar para pengusaha yang membuat keluhan untuk kami. mereka juga mengeluh atas penyelewengan kebijakan yang tidak pernah ada, kebijakan dari Damar hanyalah kebijakan untuk dirinya sendiri dan kelompok Nya.
Capek pak Sean, suara kita tidak di dengar. saya bersedia memberikan semua bukti-bukti ini untuk bapak.
Saya juga berterima kasih jika bapak melaporkan nya, tapi bapak harus hati-hati ya.
kemarin itu ada pengusaha yang melaporkan pak Damar dan usaha nya langsung disegel.
Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk bapak, karena kami tidak bisa bertindak pak. tolong bantu kami pak."
ha......
Suara tarikan napas Sean dan kemudian mengumpulkan semua bukti-bukti yang diberikan oleh pak Drajat tersebut.
"baik pak Drajat, kami akan melakukan semampu kami."
Pak Drajat terlihat kecewa saat bersalaman dengan Fahar dan Sean. lalu mereka berdua keluar dari ruangan tersebut.
"sebentar mas bos, Sean pernah melihat si Damar itu bersitegang dengan si Alex, yang mengaku sebagai adik tiri mu mas.
Bisa mas hubungi Alex? saya ingin menggali informasi dari dia tentang Damar.
Seketika itu juga Fahar meraih handphonenya dan langsung menghubungi kontak telpon yang dia inginkan.
Percakapan itu terdengar alot dan pada akhirnya Fahar tersenyum dan sambungan telepon berakhir.
"yuk ke apartemen dia, si brengsek itu sedang sendirian di apertemen nya."
Ucap Fahar dan Sean langsung tancap gas. tidak berapa lama akhirnya tiba disebuah apertemen dan apertemen tidak semewah apartemen tempat tinggal Sean.
Fahar tidak ikut masuk kedalam apertemen Alex, dan menunggu Sean di kopi shop apertemen.***
Sean sudah mengatur rencana, menurut penuturan dari Renta yang pernah bersitegang terhadap Alex waktu itu.
Alex adalah penyuka sesama jenis, dan hal tentunya menjadi pikiran untuk tetap waspada.
Ting tong...... Ting tong...... Ting tong......
__ADS_1
Suara bel pintu apertemen Alex, dan beliau keluar yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong yang tipis.
"masuk mas."
Ucap Alex yang mempersilahkan Sean masuk ke dalam apertemen nya.
Sean memperhatikan sekeliling dan kemudian duduk di sofa dengan kecil dihadapan Nya.
"rapi dan sangat tertata dengan sempurna, kamu hebat dalam hal menatap furniture."
Ujar Sean yang memulai obrolan nya, sementara Alex menuangkan air minum ke gelas dan memberikannya kepada Sean lalu Alex duduk didekat Sean.
Lalu Sean meletakkan gelas yang berisi air itu ke meja kecil lalu menatap Alex dengan serius.
"saya pernah melihat mu bersitegang dengan Damar, apa yang terjadi saat itu?"
"panjang ceritanya mas, tapi ngomong-ngomong mas ngak takut Alex godain?
Saya bot mas dan siap melayani mu saat ini, sudah lebih dari tiga bulan pacar ku tidak memberi ku nafkah batin."
Ujar Alex seraya meraba paha kanan Sean, dan tapi di cuekin oleh Sean.
"maaf Alex, saya sudah punya pacar dan saya tipe pria setia.
Saya tidak mau mengkhianati perjanjian yang telah kami sepekati.
kedatangan Ku kemari untuk kesepakatan bersama kita, saya butuh informasi dari kamu dan kamu butuh suatu tindakan."
"kelihatan mas buru-buru ya, baiklah kalau begitu. saya hormati kesetiaan mu mas.
Sebentar biar Alex ambil dulu laptop, mas tunggu disini ya."
Alex kemudian berlalu ke arah kamarnya dan kesempatan itu digunakan Sean untuk mengambil kartu memory yang tertempel disebuah kamera digital yang ada diatas meja nya.
dengan segera menggantikan card memory tersebut dengan yang baru. kemudian Sean memasukkan memory tersebut ke port notepad Nya dan kemudian memindai data-datanya.
Ternyata dugaan benar, bahwa Alex akan lama di kamar nya itu. bahkan sampai datang tersalin keseluruhan ke notepad nya, Alex belum kunjung tiba.
Sean dengan buru-buru mengembalikan card memory tersebut dan mengambil kembali card memory baru yang sudah dimasukkan di awal.
Lalu merapikan kembali notepad ke tas yang dibawa nya setiap saat.
__ADS_1