
Melihat wajah Elfata yang sangat mirip dengan mas Fahar, terkadang membuat ku sangat sakit.
Wajah ini selalu mengingatkan kepada mas Fahar yang sangat kejam dan tidak memiliki hati nurani.
Tapi canda tawa dan omelan dari Elfata membuat kembali bersemangat untuk berkarya.
Elfata adalah sumber kebahagiaan dan sumber kekuatan, ucapannya yang masih cadel membuat hati tergelitik dan akhirnya terhibur.
"selamat pagi anak ku yang tampan, gimana tidurnya?"
"pulas bunda, bagaimana dengan bunda?"
Sapa ku terhadap si tampan Ku ini, dan Elfata membalasnya dengan pertanyaan lagi.
"bunda tertidur lelap dan pulas, yuk mandi. karena Elfata harus pergi ke sekolah."
"Elfata ngak usah sekolah ya, karena gulu-gulu nya hanya mengajalkan itu itu aja. bosan bunda.
Elfata ikut bunda aja untuk gambal, nanti akan Fata buatkan pelucahaan besal untuk bunda."
Ocehannya seperti ini yang membuat semangat bagiKu, ucapan yang masih cadel dan keinginan nya yang tinggi.
"tapi Elfata harus sekolah, rajin belajar dan punya ilmu untuk membangun perusahaan besar untuk bunda."
"gitu ya bunda? tapi itu-itu aja loh bunda."
"ada tahap nya dong sayang, nanti setelah ini Fata naik kelas. kemudian akan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi."
"oh.....
iya udah, ni Fata mau mandi ya."
Elfata masuk ke kamar mandi, anakku yang cerdas itu, sudah bisa mandi sendiri dan mandinya sangat lama.
Keluar dari kamar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya seperti biasa dan hal itu selalu mengingatkan Ku kepada mas Fahar.
Setelah selesai berpakaian dan sudah rapi, kami berdua langsung menuju meja makan. disana sudah ada Bani, anak dari mbak Nining menunggu kami sarapan.
"sudah mengerjakan PR belum?"
"Uda dong Oma, kemalin sole, sudah kami keljakan belsama mas Bani."
"iya oma, sama-sama nya kami ngeljain PL Nya."
Fata dan Bani menjawab pertanyaan dari bu Margono yang mereka panggil dengan panggilan Oma.
"bagus lah kalau begitu, sekarang giliran Oma yang mengantar kalian berdua ke sekolah."
"ngak usah diantal Oma, Elfata dan mas Bani bisa kok. kan sekolah kami dekat."
__ADS_1
"kok gitu, oma kan mau jalan-jalan juga sambil mengantar kalian berdua. oma ikut ya."
"mas Bani, kalau oma ngantal kita ngak apa-apa kan?"
"ngak apa-apa, bial sekalian jalan-jalan."
Obralan mereka bertiga yang membuat semangat ku semakin bertumbuh, kekompakan Elfata dan Bani membuat ku semakin bahagia.
Akhirnya mereka bertiga berangkat ke sekolah nya Elfata dan mas nya, yaitu Bani.
Aku dan mbak Nining tertawa puas karena merasa lucu akan negosiasi antara Elfata dan mas Bani kepada oma mereka.
"mbak dah mandi?"
Mbak Nining menggelengkan kepalanya, berarti sama denganku yang belum mandi tapi sudah sarapan.
"mau gimana lagi, membujuk Bani itu penuh dengan drama. katanya pelajaran itu-itu aja, jadi bingung deh."
"sama mbak, Elfata juga ngomong seperti itu. bosan katanya sekolah."
"kenapa bosan ibu-ibu cantik."
Dia adalah mamanya Nuri, tetangga kami yang bekerja sebagai penjahit rumahan.
"ini loh mbak, anak-anak kami katanya bosan belajar disekolah Nya. karena itu-itu aja."
Hanya kata 'oh' yang keluar dari mulut mama nya Nuri.
Akhirnya aku masukkan deh ke yayasan pendidikan yang ada di persimpangan itu, dan disana anak-anak akan diseleksi untuk memasuki kelas yang sesuai dengan kemampuan anak-anak.
jika anak memiliki kecerdasan lebih dari teman seumuran, maka akan dipindahkan ke kelas yang baru.
dimana ada pelajaran tambahan yang dibuat semenarik mungkin agar anak-anak tidak bosan dan terus belajar."
Jelas mama nya Nuri, dan itu sangat pas untuk anak-anak kami.
"mbak bisa menemani kami ke sana?"
"bisa, besok pagi aja. sekaligus membawa anak-anak agar langsung diperkenalkan ke teman-teman yang lainnya."
"okeh deh, terimakasih atas informasinya mbak. oh iya, pagi-pagi begini sudah kemari, kebaya kami berdua sudah selesai ya?"
"dikit lagi, dua jam lagi akan diselesaikan oleh Mayang.
Saya datang kemari untuk mencontek desain dress seperti yang ada di gambar karakter animasi mu itu loh."
"oh itu, bentar saya kirimkan ke wa Mbak ana aja. oh saya ingin dibuatkan dress yang cantik dong. nanti aku kirim deh."
Mbak menyetujuinya dan mbak Nining juga ikut-ikutan menjahit dress yang baru.
__ADS_1
"yes, pagi-pagi begini sudah dapat dua orderan. terimakasih ya cinta, kalau begitu mohon pamit"
Mbak Ana sudah pergi, lalu kami berdua membereskan piring makan bekas kami.
Setelah selesai beres-beres lalu kami berdua melangkah ke arah tempat kerja kami, menyalakan komputer dan mengambil buku catatan lalu mengirimkan desain yang dimintak oleh mbak Ana.
"Anisa, ini ada kiriman email. dan Anisa masuk lagi kategori populer, mengundang ke Bali untuk menghadiri acara perhelatan penghargaan yang akan dibagikan kepada author bergengsi.
Ada empat tiket pesawat pulang pergi dan voucher menginap di hotel bintang lima."
"Bali Mbak? ikut aja yuk. bosan.....
Sekalian kita bawa anak-anak dan ibu, kan tinggal nambah satu lagi aja tiketnya."
"boleh juga, karena mbak ngak pernah ke Bali."
"sama mbak."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami berdua sama-sama tertawa, karena kami sama-sama tidak pernah ke Bali.*
"ini ada email masuk, dari platform. ijin untuk meminta identitas Nisa untuk di publish, gimana?"
"kyak biasa mbak, tolak aja."
Mbak Nining terdiam seketika, lalu mendekat ke arah Ku dengan cara menggeser kursinya.
"cerita dong sama mbak, terlalu berat jika dipendam. mbak ngak yakin kalau suami mu itu meninggal, pasti ada yang kamu tutupi kan."
"kenapa mbak bisa berpikir seperti itu?"
Mbak Nining tersenyum lalu memegang tanganKu.
"masih ingat ngak waktu pertama kali mbak pulang ke rumah setelah lahiran, lalu ibu cerita si kaya itu yang hidupnya penuh drama.
Ketika ibu menceritakan itu, kamu terlihat tidak nyaman.
Lalu konferensi pers dari Wijaya grup, pemiliknya atau CEO itu yang bernama Fahar Wijaya.
Ntah mungkin mbak yang salah atau gimana gitu, maaf banget.
Elfata terlihat sangat mirip dengan CEO Wijaya group itu."
Mbak Nining terlihat salah tingkah, karena melihat ekspresi Ku.
Jujur aku terlalu lama memendamnya, saya tidak pernah cerita masalah hidup ku kepada siapapun termasuk bu Margona dan mbak Nining.
Mereka berdua sudah dua tahun lebih tinggal bersama Ku, akan tetapi mereka tidak mengetahui jati diriku yang sebenarnya.
__ADS_1
Sungguh benar-benar diriku ini menyimpan rahasia, mereka begitu percaya dengan cerita karangan Ku.