
Raut wajah Fika berubah kini dia terlihat ingin marah, jujur aku tidak tahu harus berbuat apa. dia memintaku untuk ngobrol dengan Nya tapi kenapa dia terlihat tidak nyaman.
drrrt... drrrt.... drrrt.....
Tiba-tiba saja handphone yang aku genggam bergetar dan ternyata pesan masuk dan itu dari mas Fahar.
"non Fika, saya mau pamit untuk ke kantor tuan muda. karena ada hal yang perlu di urus."
"ya sudah sama aja, biar saya antar."
"tidak perlu non, uak Jarvis akan yang akan mengantar saya."
Setelah mengatakan demikian, lalu aku pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan memoles sedikit wajah ini.
Lalu meraih tas kecil Ku, dan menaruh handphone didalamnya. kemudian keluar kamar dan Fika ternyata masih duduk di sofa ruang tamu.
"pamit ya non."
Yah ternyata Fika ikut menyusul ku, dan uak Jarvis hanya menggelengkan kepalanya ke arahku.
akhirnya Fika ikut dengan kami, saya duduk di samping uak Jarvis. karena aku tidak mau bersanding dengan Nya.
"Marisa, duduk disini sama Ku. anggap aja supaya saya bisa dekat dengan anak mu itu, sekaligus belajar menjadi orang tua."
"maaf non, kurang etis jika seorang anak babu duduk dengan gadis cantik dan berpendidikan. maaf saya ngak terbiasa seperti itu."
Terdengar Fika menghela napas panjang Nya dan uak Jarvis menjalankan mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.
"lambat amat deh, cepat dikit dong. kapan sampainya kalau seperti ini?"
"maaf non, tadi tuan muda memerintahkan untuk membawa si neng dengan kecepatan pelan. agar tidak melukai si neng dan bayi Nya."
'harttt.....
Suara keluhan yang aneh dari Fika, ketika tatapan ku bertemu dengan tatapan uak Jarvis, beliau hanya tersenyum dan menaikkan alisnya pertanda kesal.
"mangnya mau ngapain ke kantor mas Fahar?"
"ngak tahu non, cuma di suruh aja."
"oh... mungkin mau disuruh kali membersihkan meja."
"bisa jadi non."
Menanggapi perkataan yang menyindir itu dengan singkat, tidak perduli apapun tanggapannya terhadap Ku.
Akhirnya sampai juga di depan kantor mas Fahar, dan pallet nya mengarahkan kami untuk parkir tepat didepan kantor ini yang sejajar dengan mobil yang dikendarai oleh mas Fahar.
Uak Jarvis membantu Ku keluar dari mobil, dan setelah keluar dari mobil terlihat Fika kaget melihat mobil yang dibawa uak Jarvis parkir sejajar dengan mobil mas Fahar.
__ADS_1
"Uak, kok bisa mobil ini parkir disini?"
"perintah dari tuan muda non."
Jawab uak Jarvis dengan singkat, lalu Uak Jarvis mengikuti ku dari belakang sementara Fika berjalan di samping Ku.
"uak ngapain ikut?"
"perintah tuan muda non."
lagi-lagi jawaban singkat itu dari uak Jarvis, dan kami kemudian melanjutkan perjalanan.
Fika kemudian kaget ketika Renta, sekretaris mas Fahar menyambut Ku di depan pintu lift. dengan refleks, Renta merapikan pakaian Ku dan juga rambu Ku.
Tanpa memperdulikan kehadiran Fika, rambut Ku di ikat rapi oleh Renta. hal itu dilakukan karena pintu lift belum terbuka.
"halo, ada orang disini loh. loh ngak kenal ma gue?"
Ucap Fika kepada Renta dan akhirnya Renta menoleh ke arah Fika setelah selesai mengingat rambut Ku.
"maaf mbak Fika, maaf banget. tapi mbak Fika ke sini ada urusan apa?"
"terserah ku mau kemana, ngapain kamu nanya-nanya?
terus ngapain si Marisa ini datang kemari? apa keperluannya datang kemari?"
"terserah ibu Marisa dong mau kemana? toh juga ini kantor milik suaminya."
Pintu lift terbuka, uak Jarvis dan Renta menahan pintu hingga aku masuk dan juga Fika, lalu mereka berdua kembali masuk ke dalam lift.
Lalu Renta membantuku untuk merapikan pakaian yang aku kenakan, dan hal itu menjadi perhatian dari Fika.
"Marisa begitu spesial ya di mata mu?"
Renta kemudian menoleh Fika, pertanyaan dari Fika seolah-olah seperti sindiran.
"bukan hanya Bu Marisa yang sepesial untuk Ku, wanita hamil sangat lah spesial bagiKu. makanya mbak hamil dong, biar Renta perlakukan dengan spesial."
Senyuman kecut dari Fika, lalu senyuman kecut itu dibalas oleh Renta.
Uak Jarvis yang berdiri dibelakang kami, hanya menahan tawa karena sindiran dari kedua gadis cantik itu yang saling bersahutan.
Akhirnya sampai juga di depan kantor mas Fahar, lalu Renta menggandeng tanganku dengan erat.
Lagi itu menjadi bahan perhatian bagi Fika dan akhirnya kami tiba di ruangan mas Fahar, disana sudah ada mas Fahar dan Sean asisten nya.
"oh my God, sang bidadari Harvard masuk ke ruangan ini."
Ucap Sean yang mengagumi kecantikan Fika yang mencetarkan.
__ADS_1
"menurut keterangan dari orang-orang, bahwa bidadari itu adalah arwah. itu artinya ada arwah Harvard yang datang kemari, seram ah....
pantas aja agak merinding, ih.....
pasti itu arwah mahasiswa atau mahasiswi yang tidak sanggup menyelesaikan kuliahnya di Harvard lalu bunuh diri dan menjadi Arwah."
"tutup mulutmu Renta, saya tidak meminta mu untuk komentar. dasar perempuan murahan."
"eh dengar ya arwah Harvard, kamu itu yang murahan. tong sampah, pemulung mantan. kamu rela mengobrol tubuh hanya untuk obsesi mu mendapatkan banyak laki-laki."
"makanya kamu cantik dong, dan pandai-pandai lah menjaga pacar mu."
"emas perhiasan kali yang harus di jaga, kamu aja yang pada dasarnya pemulung mantan alias tong sampah.
Saya sih ogah mempertahankan laki-laki yang suka sama tong sampah dan pemulung seperti kau."
'auhh.....'
Teriak Fika karena tangan di remas kuat oleh Renta yang hendak menampar Renta.
"jangan mentang-mentang kamu orang kaya, sesukamu menampar orang."
Mas Fahar dan Sean terlihat kaget akan tingkah dari Renta, yang sangat berani melawan Fika.
"apaan sih ini? kenapa kalian malah ribut disini?"
"kok nanya Renta sih pak."
Jawab Renta dan kemudian menghempas tangan Fika yang di remas nya.
"bapak ngapain mengundang PSK (pekerja s**s komersial) ke kantor ini?
bisa-bisa nanti membuat kesialan disini, PSK yang berpendidikan tinggi, tapi minim etika.
Bu Marisa dan Uak Jarvis, yuk ikuti Renta ke ruangan IT pengembangan."
Ucap Renta dan kemudian menarik tangan Ku, lalu Uak Jarvis mengikuti kami dari belakang.
Sampai juga kami di ruangan departemen IT pengembangan, ternyata saya minta untuk tanda tangan berkas kontrak akan iklan animasi yang aku buat kemarin.
Benar-benar luar biasa, aku langsung menerima uang cash dua ratus juta Rupiah. untuk pembayaran di awal.
Uang tersebut langsung aku masukkan ke tas yang aku kenakan, dan kemudian merangkul tangan Renta.
"mbak masih ada kegiatan?"
"untuk Bu Marisa, Renta free?"
"oke, pertama kita ke toko pakaian anak-anak dulu yuk. ngak deh kita makan terlebih dahulu."
__ADS_1
Renta tersenyum melihat Ku dan kami pun keluar dari ruangan tersebut yang di ikuti oleh uak Jarvis.