
Setelah menyajikan kopi untuk mas Fahar dan Sean, lalu aku masuk ke kamar. kemudian laptop Ku hidupkan.
Untuk menghilangkan rasa jenuh, aku lampiaskan untuk menggambar karakter animasi.
Teringat waktu pelajaran di sekolah, untuk membuat iklan dengan Animasi. dimana seorang anak perempuan yang beranjak dewasa membujuk ayahnya untuk membeli sepasang pakaian yang sedang trendy saat ini.
Ekspresi dari karakter anak perempuannya, aku buat selucu mungkin agar bisa meluluhkan hati Papa nya untuk membeli sepasang baju tersebut.
Setelah beberapa saat menggambar lalu karakter itu selesai juga, imut dan lucu. Hanya menambahkan suara saja.
Hasil akhirnya lumayan memuaskan versi diri ku sendiri, melalui karakter anak gadis dalam dalam animasi ini dan aku hanya membayangkan betapa bahagianya punya ayah yang sangat menyayangi Putrinya.
Sejak lahir ke dunia ini, sosok seorang ayah tidak pernah aku rasakan. mama lah menjadi satu-satunya yang ku punya, walaupun pada akhirnya harus pergi meninggalkan aku sendiri di dunia yang fana ini.
Wajah almarhum Papa hanya bisa aku lihat dari photo yang di tinggalkan oleh almarhumah mama.
Semua kenangan tentang Papa, yang biasa di ceritakan oleh mama. kini semua terkubur dengan indahnya kenangan Ku bersama mama.
Hanya suara anak perempuannya yang bisa Aku dubbing.
"Marisa, sedang apa kamu?"
Mas Fahar datang ke kamar ini, dan dia terkejut melihat Ku yang berbicara sendiri dengan nada suara yang sok imut.
"ngak ngapa-ngapain mas, Marisa hanya buat karakter animasi aja, coba denger ya mas!"
Setelah mendengarkan hasil animasi yang aku buat, mas Fahar kemudian meraih handphone Nya.
Ternyata mas Fahar memanggil Sean untuk masuk ke kamar kami ini.
"kenapa mas? apa yang bisa Sean bantu?"
Ucap Sean dari arah pintu kamar yang terbuka.
"sini..."
"ngak mas, ini ruang pribadi mas dengan mbak Marissa. kita keluar aja ngobrol nya, tidak pantas laki-laki lain memasuki kamar pasangan suami istri."
Mas Fahar langsung terdiam setelah ucapan dari Sean, lalu menoleh ku lagi.
"kita ngobrol di ruang sebelah ya. dan bawa laptop mu ini?"
Ucap mas Fahar, lalu Aku di tuntunannya untuk berdiri. laptop dipegang oleh mas Fahar, setelah di pintu. Sean mengambil alih laptop tersebut dan mas Fahar memegang tangan Ku.
Ruang sebelah yang dimaksud mas Fahar adalah ruang kerjanya, dimana Ia menerima tamu dari kantornya.
Setelah duduk di kursi dan berhadapan dengan mas Fahar yang duduk di kursi yang empuk, lalu Sean kemudian mengaktifkan laptop.
__ADS_1
"ini sangat luar biasa mas, selain low cost. karya ini memang luar biasa. tinggal di poles sedikit dan akan menjadi maha karya yang sempurna."
Lalu Sean menatapku seraya tersenyum lebar, dia tampan, akan tetapi mas Fahar jauh lebih tampan dari Nya.
Iya ampun, kenapa aku bisa ngaur gini? terus apa maksud Nya dengan maha karya yang sempurna?
"maksud nya gimana ya? apanya yang menjadi maha karya sempurna?"
"mbak Marisa bisa membuat animasi gini? Kren banget.....
sudah berapa lama mbak membuat seperti ini?"
Ujar Sean dengan begitu kagum, dan hal itu membuat ku semakin bingung.
"awalnya hanya menggambar di buka aja, lalu masuk ke SMK jurusan Animasi. seperti ini pelajaran kami disekolah.
Sudah ada sekitar lima puluh karya komik yang sudah terbit dan beberapa karakter animasi yang aku jual."
"apa? jual? kenapa ngak ngomong sama mas?"
"Marisa ngak berani mas, karena pandangan mas ke Marisa agak beda. seolah-olah ingin melakukan sesuatu yang berburuk terhadap Marisa."
Sean tersenyum menanggapi omongan Ku, tapi wajah mas Fahar terlihat merah, sepertinya dia merasa di sindir.
"jadi kemana semua hasil penjualan karya-karya mu itu?"
Walaupun pada akhirnya mama pergi meninggalkan Marisa karena merasa bersalah."
"merasa bersalah bagaimana?"
Mas Fahar yang bertanya, tapi Sean yang melotot ke arah mas Fahar yang tidak peka akan apa yang aku ucapkan.
"mas Fahar, apa perlu Sean yang menjelaskan?"
"cukup ya, kita bahas karya ini aja. jangan melantur kemana-mana, fokus ke karya ini."
Mas Fahar mencoba mengalihkan topik pembicaraan, kemudian kami kembali fokus ke karya yang baru aku buat.
"dubbing yang cewek sudah pas, sekarang kita butuh dubbing cowoknya.
Sepertinya suara mas Fahar cocok lah, bagaimana kalau kita coba dulu?"
"ngak ah..."
Sean langsung melotot lagi ke arah mas Fahar, dan akhirnya mas Fahar bersedia menjadi dubbing Nya.
Berdasarkan skenario yang telah ku buat, lalu mas Fahar membaca skenario Nya. hanya satu pengulangan dan akhirnya jadi juga.
__ADS_1
"sempurna, suami-istri yang benar-benar sempurna. istri nya cantik pintar dan Suaminya ganteng dan berkarisma, pantas kalian berdua berjodoh ya."
Tanpa saringan ucapan itu keluar dari mulut Sean, terlihat wajah mas Fahar yang merah karena ucapan dari Sean yang spontan.
Tapi Sean tidak memperdulikan itu, dia fokus kepada iklan animasi buatan Ku.
"kita harus buat kontrak nih, low cost dan super inovatif. gimana menurut mas?"
"atur aja."
"siap, perintah dilaksanakan."
Ujar Sean, lalu kemudian menyimpan iklan animasi tersebut. Animasi itu di copy nya melalui flashdisk yang di raih Sean dari tas kecil yang disandangnya.
"permasalahan kita selesai, demo iklan ini akan Sean dan tim rekomendasikan sebagai produk utama untuk persentase nantinya.
Kalau begitu Sean mohon pamit mas, dan silahkan nikmati waktu berduaan.
Mas Fahar juga harus memperhatikan mbak Marisa, ingat ya mas. anak yang di kandung mbak Marisa adalah anaknya mas Fahar."
Sean langsung berlalu dan tinggalah kami berdua di ruangan ini, tatapan dari mas Fahar agak berbeda kali ini terhadap Ku.
"ada apa mas? apa ada yang salah dengan Marisa?"
"iya, karena kamu sangat cantik. terlihat kamu lebih cantik dengan penampilan Mu saat ini."
"apaan sih mas, buat Gr aja deh."
Terlihat mas Fahar tersipu malu, lalu bangkit berdiri dan meraih tangan Ku.
"istrihat di kamar yuk!"
Ujar mas Fahar yang memegang tangan kanan Ku dengan begitu erat, perlahan kami berjalan hingga keluar dari ruangan mas Fahar ini.
"gitu dong, mpok kan bahagia liat nya. Tuan muda itu harus sering-sering memperlakukan Si Neng begini ya."
"iya mpok."
"jangan iya aja, iya sudah. Mpok kebelakang dulu, mau buatkan susu buat si Neng dan calon Baby nya.
Oh iya, Mpok buat apa untuk tuan muda? kopi, teh atau makanan?"
"teh aja mpok, ngak usah pake gula ya."
Mpok Nori hanya mengangguk, lalu berlalu meninggalkan kami.
Sesampai di kamar, mas Fahar menuntunKu ke ranjang. lalu mencium keningku, hal ini membuat bingung akan tingkah mas Fahar ini.
__ADS_1