
Lantai keramik yang dingin sangat menusuk hingga ke tulang pinggul ku, tapi mas Fahar belum juga menyuruhku untuk duduk di tempat yang layak.
"benar kata tante mas, buat apa bertanya ke anak babu ini."
Ucap Fika, yang menyahut omongan dari sang nyonya Rina yang kejam.
"baiklah kalau begitu, jadi kapan kita menikah?"
"Fika siap siap selalu mas."
Rasanya ingin muntah dan perut Ku agak aneh setelah mendengar Fika yang ngomong sok manja gitu.
"kenapa kau anak babu?"
"mual nyonya, saya mau ke kamar mandi dulu."
Aneh dan tidak tahu lagi mau ngomong apa lagi, mas Fahar membantu untuk bangkit berdiri dan menuntut ke kamar.
Sesampai di kamar, aku langsung ke kamar mandi dan menuju wastafel, tapi rasa mual nya hilang begitu aja.
"Marisa...."
"iya mas."
Lalu aku keluar dari kamar menemui mas Fahar yang ada di dalam kamar, raut wajahnya terlihat begitu cemas.
"maklumlah mas wanita hamil, ada aja kelakuan nya. mohon harap maklum aja ya mas."
"kita ke dokter ya."
"kata nyonya besok kita USG ya? disitu aja sekalian ya mas, Marisa baik-baik aja kok mas."
Tatapan mas Fahar berbeda lagi, dia seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"kenapa mas? apa ada yang salah?"
"kamu ngak keberatan kalau mas nikah lagi? bagaimana dengan Mu?"
"pernikahan kita ini hanya sebatas diatas perjanjian mas, Marisa ngak ada hak untuk melarang mas Fahar untuk menikah lagi.
Aku sadar diri kok mas, apa pun yang mas lakukan, Marisa akan menerimanya."
Terlihat tatapan mata itu agak beda, seperti seorang yang sangat kecewa.
"ini sudah kedua kalinya mas mempertanyakan hal ini, dan jawaban Marisa juga tetap sama mas.
Marisa baik-baik aja kok mas, aku sudah terbiasa hidup dengan berbagai masalah. jika terjadi lagi, itu merupakan perulangan mas."
__ADS_1
Lalu mas Fahar memegang tanganKu dan menatapku dengan tatapan yang teduh.
"mas ingin kamu tetap menjadi istriku, mas tidak ingin berpisah dengan Mu. mas sayang sama kamu."
"sudahlah mas, kita lihat aja nanti. intinya mas lakukanlah apa yang ingin mas lakukan, sebagai istri mu saat ini, Marisa mendukung mas Fahar.
Tapi Marisa tidak bisa janji akan tetap bertahan di sisi mas Fahar, saya ikhlas mas."
Mas Fahar berlalu dari kamar dengan wajah yang kecewa, dan kemudian membanting pintu kamar.
Ku langkahkan kaki ini menuju kamar mandi, dan kemudian menyalakan shower.
Air mata Ku tertumpah semuanya, sakit sungguh sakit. bukan keinginan Ku untuk seperti ini, tapi inilah kenyataan yang harus aku jalani.
Berat sungguh berat, dan teramat sakit. tangisanku terhanyut oleh suara shower yang mengalir dan aku luapan semua yang ada dalam hatiku.
Kasihan juga dengan anak yang aku kandung ini, jika aku berlama-lama di kamar mandi.
Tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi, hanya perlu menatap ke depannya.
Setelah memakai pakaian baru, mas Fahar ternyata sudah ada di kamar.
Mas Fahar langsung menuntunku keluar dari kamar, kini aku sudah di sofa. selain sang nyonya Rina dan Fika. ada dua tamu laki-laki yang berpakaian rapi dengan membawa tas.
Lalu mengeluarkan dokumen yang dari tas itu, kemudian memberikan dokumen itu ke mas Fahar.
"silahkan mas."
Terlihat mas Fahar menarik napas panjang dan kemudian melirikku.
"mas membacakan di bagian klausa perjanjian ya."
Aku hanya mengangguk dan itu sudah jelas-jelas menguntungkan bagi mas Fahar.
'jika anak yang di kandung oleh pihak ke-dua, atau Marisa. adalah laki-laki, maka anak tersebut akan diambil oleh pihak pertama dan pihak ke-dua akan kompensasi senilai satu miliar rupiah.
akan tetapi jika masih ingin menjadi istri dari pihak pertama maka pihak kedua bersedia hamil lagi dan hal itu diberikan kompensasi satu milyar Rupiah.
kedua, jika anak yang dikandung oleh pihak kedua adalah perempuan. maka pihak kedua akan pergi dari rumah ini dan diceraikan.
Pihak kedua tentunya akan mendapatkan kompensasi senilai lima ratu juta Rupiah.
Panjar pertama sudah diterima senilai dua ratus juta Rupiah, dan sisanya akan diberikan jika anak tersebut diketahui berjenis kelamin perempuan.'
Ketika mas Fahar membacakan klausa perjanjian yang lainnya, hatiku semakin tersayat-sayat.
Perih dan sangat menyakitkan hati, tapi anehnya air mata ini tidak bisa mengalir walaupun begitu perih.
__ADS_1
Aku berharap anak ini lahir sebagai perempuan, karena aku tidak ingin berpisah dengan anak yang aku kandung ini.
Saya tidak perduli dengan semua uang yang mereka tawarkan itu, sama sekali aku tidak tergiur.
"anak babu paham ngak?"
Aku hanya bisa mengangguk biar lebih cepat, karena sudah muak mendengarkan ocehan dan hinaan dari orang kaya ini.
"apa kamu keberatan dengan klausa pertama?"
"iya tuan muda, karena non Fika tidak menginginkan anak. karena non Fika tidak ingin direpotkan dengan adanya anak.
Jika pun anak ini laki-laki, hendaklah bersama Ku. aku ingin tetap bersama anak ini, tuan muda boleh kapan saja untuk bertemu dengan anak kita ini.
Asal jangan pisahkan dari Marisa, mas berhak untuk anak ini, saya juga bersedia menerima nafkah untuk anak kita kelak nanti."
Mas Fahar kemudian menolah Fika dan kemudian menoleh Ku.
"baik jika itu mau Mu, sekarang tandatangani perjanjian ini."
"tapi perjanjian ini belum di revisi mas."
Pria yang tadi langsung menuliskan apa yang saya kehendaki di pinggir perjanjian tersebut, lalu mas Fahar membubuhkan tandatangan Nya serta cap jempol nya di bagian perkataan yang hendak direvisi.
Setelah itu perjanjian ditandatangani oleh mas Fahar, dan kemudian saya tandatangani.
"anak babu, paham kan isi perjanjian Nya?"
Aku hanya mengangguk, karena malas untuk menanggapi nya. jika ditanggapi malah membuat sakit hati yang semakin dalam, takutnya akan berpengaruh terhadap kandungan ku ini.
"Fika, apa nanti kamu bersedia hamil?"
"ngak lah mas, tar body Ku melar lagi. susah payah Fika membuat nya seperti ini. kan yang terpenting mas Fahar puas dengan kelebihan body ku ini."
"Fahar, mengenai anak ngak usah kwatir nak. sekarang kan medis sudah semakin canggih. jika ingin memiliki anak dengan Fika, buat aja bayi tabung.
Tar sel telur Fika diambil lalu digabungkan dengan sel sp***a kamu.
Nah nanti induk nya bisa di buat ke rahim anak babu ini, tenang mengenai hal itu. mami punya kenalan dokter ahli kandungan yang mempunyai klinik canggih.
Semuanya serahkan sama mami ya sayang, Fahar ngak perlu kwatir."
Fika langsung memeluk sang nyonya Rina, dan senyuman itu membuat semakin sakit hati.
"Tante memang yang terbaik."
Ucap Fika seraya tersenyum kemudian, orang kaya mah bebas.
__ADS_1