AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Berusaha.


__ADS_3

POV Fahar.*


Pagi-pagi sekali Fahar sudah selesai mandi dan berpakaian, kemudian membangunkan Sean.


Begitu bangun, Sean langsung menuju kamar dan hanya mencuci wajahnya lalu gosok gigi.


Fahar dan Sean secara bersamaan menuju pintu keluar dan mereka dikejutkan oleh kehadiran Renta yang sudah menunggu kehadiran mereka berdua.


"ngak usah banyak bacot, yuk kita ke hotel bu Marisa. mudah-mudahan si ibu masih masih disana."


Mereka telah tiba di sebuah hotel dan langsung menuju resepsionis.


"atas nama Anisa Dwi Armandi, apakah masih disini mbak?"


"sudah cek out ibu, dan kami tidak bisa memberikan informasi apapun tentang tamu kami, karena itu adalah privasi.


Barusan juga kami menolak permintaan dari seorang pria yang meminta identitas dari tamu yang bersangkutan."


Sean menarik tangan Renta yang masih kekeh hendak berdebat dengan resepsionis.


Lalu Sean meraih handphone Nya, dan menghubungi seseorang. setelah negosiasi yang alot, akhirnya Sean tersenyum.


Kemudian menelepon orang lain lagi, setelah selesai menelpon seseorang, Sean menolah Renta dan kemudian Fahar.


"Penerbangan ke alamat rumah mbak Marisa masih lama, jadi Sean menyewa jet pribadi. tapi bagaimana dengan barang-barang kita yang di Hotel ya?"


Renta menepuk bahu Sean dan meraih handphone Nya.


"Renta yang akan mengurusnya, nanti terakhir aja saya nyusul.


Saya sudah memesan hotel di daerah itu, nanti saya kirimkan alamatnya."


"terimakasih atas bantuan kalian berdua."


jawab Fahar kepada mereka berdua, lalu memegang pundak Sean.


kesepakatan sudah disetujui, Renta Balik ke hotel sementara Fahar dan Sean ke bandara untuk segera berangkat.


Sesampainya di bandara, Fahar dan Sean di mintak untuk menunggu sebentar.


"kok lama amat Sean?"


Fahar seperti nya tidak sabaran lagi, dan Sean memanggil rekannya untuk menghadap mereka berdua.


"kok lama banget nunggu nya? kenapa ini?"


"iya pak, ada masalah sedikit di ijin nya."


Jawab rekannya lalu Sean langsung menelpon seseorang lagi, selesai menelpon dan kemudian rekannya itu langsung menerima telpon.


"baik pak, sekarang kita sudah bisa berangkat."

__ADS_1


Ujar pria itu, dan menuntun Fahar dan Sean menuju jet pribadi tersebut.


Akhirnya mereka bisa berangkat, perjalanan menuju rumah Marisa memakan waktu tiga jam perjalanan.


Berhubung Marisa berada di suatu pulau, dimana angin laut nya tidak mendukung penerbangan.


Akhirnya pilot jet pribadi memilih singgah di bandara terdekat, dan kru dari jet pribadi tersebut meminta maaf kepada Sean dan Fahar.


"kami mohon maaf, kami tidak berani menembus angin lautnya."


"tidak apa-apa pak, lagipula akan membahayakan nyawa kita jika diteruskan. tapi apa bapak ada solusi untuk saya?"


Sanggah Fahar kepada pilot jet pribadi tersebut, terlihat sejenak pilot nya berpikir.


"naik kapal aja pak, saya ada kenalan kapal nelayan yang sudah berpengalaman di cuaca seperti ini.


itupun jika bapak mau? kalau tidak mau, tunggu tiga jam lagi ada penerbangan dari bandara ke pulau itu pak."


Tanpa berpikir panjang, Fahar dan Sean menerima tawaran dari pilot tersebut.


Mereka tiba di pelabuhan dan naik kapal nelayan, lumayan besar dan tidak buruk.


Fahar dan Sean sudah masuk dan kapal sudah berlayar.


"mau kemana nak? sepertinya terlihat tergesa-gesa sekali."


Tanya seorang ibu yang paruh baya, yang tiba-tiba duduk di dekat mereka berdua.


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Mendengar kata pelancong ibu paruh itu tertawa.


"ibu merasa lucu aja mendengar kata pelancong, maaf karena ngak sopan ya nak.


Ibu ini pedagang, kapal ini bukan untuk menangkap ikan lagi, tapi mengangkut barang-barang dagangan dari seberang sana.


Ibu asli penduduk pulau itu, pulau yang tidak terlalu besar, penduduknya itu-itu aja.


Kebanyakan penduduknya, nelayan, petani dan sedikit pedangan seperti ibu ini."


Fahar dan Sean mengganguk, lalu Fahar meraih handphonenya dan menunjukkan photo Marisa yang diambilnya saat malam perhelatan penghargaan tersebut.


"apa ibu pernah melihat perempuan ini?"


Ibu paruh baya memakai kacamata nya, dan memperhatikan photo tersebut.


"ibu kenal dong, ini namanya Anisa. menantu sahabat ibu."


Ujar ibu paruh baya itu, kemudian memberikan handphone itu ke Fahar.


"kasihan ibu melihat Nya, dia itu janda. suaminya meninggal dan mertuanya mengusir nya dari rumahnya tanpa bekal apapun.

__ADS_1


tapi Nak Anisa adalah wanita yang hebat, di daerah kami ini, Anisa adalah orang yang hebat.


Cantik, dermawan dan semua warga menghormatinya, persis seperti almarhum kakeknya.


nak Anisa menyumbang sekolah kurang mampu, panti asuhan dan sebagainya.


Para petani banyak berhutang sama nak Anisa, yang kemudian dicicil dengan hasil tani Nya.


Mereka sekeluarga ngak pernah itu membeli bahan makanan, semua sudah disediakan oleh petani dan juga nelayan."


"hebat ya bu, emangnya apa pekerjaan mbak Anisa ini?"


Pura-pura tidak mengenal dan Sean bertanya kepada ibu paru baya itu.


"apa iya? katanya menulis gitu. buat karya semacam gambar-gambar dan itu dapat duit, pernah ibu ke rumahnya dan dijelaskan.


tapi ibu ngak ngerti, oh sebagian dari barang-barang ini adalah pesanan mereka.


ibu mendapatkan tambahan modal ya dari nak Marisa, dan ibu cicil dengan memberinya barang.


Ibu bisa menyekolahkan anak-anak berkat modal dari nak Anisa, dan sekarang hutang ibu sama nak Anisa sudah lunas setengahnya, dan sisanya ibu cicil dengan menjual barang kebutuhan pokok.


tapi kenapa kalian mempertanyakan nak Anisa? kalian berdua siapa nya?"


Ibu paru baya baru sadar, akan apa maksud dan tujuan dari pertanyaan Fahar, dan mempertanyakan tujuan mereka mencari Anisa atau Marisa.


"Saya dulu nya suami Anisa bu, saya bodoh dan egois telah melepaskan istri yang seperti Anisa.


Itu semua hanya karena saya mudah di provokasi oleh orang tua saya.


Saya benar-benar menyesal karena menyia-nyiakan Istriku yang luar biasa.


Mungkin Anisa sudah mengganggap ku mati, itu semua karena perlakuan ku yang buruk. wajar kalau Anisa mengganggap ku sudah meninggal.


Jika saya menjadi Anisa, mungkin aku melakukan hal yang sama.


saya benar menyesal karena kehilangan Anisa, dia adalah wanita terhebat yang pernah saya kenal.


Saya sayang dan cinta kepadanya bu, saya menyesal."


Seketika air mata Fahar langsung menetes di pipi Nya dan ibu paru baya itu menolehnya dengan tatapan yang sayu.


"oh.....


jadi kamu Papa nya Elfata? jadi kamu pria yang kejam itu?"


Tanya ibu paru baya itu, terlihat tatapan begitu kecewa terhadap Fahar.


"iya bu, saya pria yang tidak berguna, yang bisa dihasut dan rela menyia-nyiakan istri dan anakku sendiri."


jawab Fahar dengan tatapan sayu, berulangkali Fahar menghapus air matanya. tapi itu tidak mengurangi pancaran sorot mata dari ibu paru baya itu.

__ADS_1


__ADS_2