
Kini aku sudah berada di dalam kamar bersama mpok Nori, dan si mpok langsung mengunci kamar.
"Hei anak babu sialan, keluar kau setan. gara-gara kau anakku jadi durhaka terhadap Ku. kurang ajar kamu."
berbagai makian keluar dari mulut kasar sang nyonya dan mpok Nori menutup kedua telinga Ku.
"neng ngak boleh mendengar nya."
ucap mpok Nori yang berusaha menutupi kedua kuping Ku.
Beberapa saat kemudian suara-suara makian itu sudah hilang, dan kami berdua keluar dari dalam kamar.
Sesampai di ruang tamu, mpok Nori menatap tajam ke arah security yang tertunduk.
"Kalian gimana sih, kan sudah jelas-jelas tuan muda melarang kedua perempuan itu masuk ke rumah ini.
tapi kenapa kalian mengijinkan nya masuk? apa kalian berdua di sogok?"
"tidak mpok, tadi nyonya mau mengambil barang-barang nya yang tertinggal."
Ucap pak Mono, tapi tatapan tajam dari mpok Nori belum juga berakhir.
"ini untuk terakhir kalinya ya, apapun alasannya jangan biarkan perempuan itu masuk ke rumah ini.
satu hal lagi, jangan panggil dia nyonya. neng Marisa sudah menjadi nyonya rumah ini, paham?"
"paham Mpok."
Lalu security itu bertugas kembali, dan uak Jarvis kembali ke dapur bersama Bu Ani.
Mpok Nori kemudian menuntunku untuk masuk ke kamar lagi, dan di kamar inilah aku sendirian.
Duduk di meja rias yang sekaligus menjadi meja belajar untuk ku, dan berpikir.
'sampai kapan ini akan berakhir?'
Tarik napas panjang, setelah mengatakan hal itu kepada diriku sendiri.
Pernikahan yang belum berstatus hukum, suatu saat nanti aku pasti keluar dari rumah. anak yang aku kandung ini akan menjadi penentu keberadaan Ku di rumah ini.
Tidak pernah sekalipun terbesit dalam benak ini, untuk menjadi istri mas Fahar.
Cita-cita dan perencanaan sudah aku konsep sedemikian, setelah lulus langsung kuliah di Jepang atau di Korea.
Sementara mama akan pulang kampung, sebelum kelulusan nantinya. tapi semua kandas hanya karena sang tuan muda Fahar Wijaya memperkosa Ku.
__ADS_1
Tapi ya sudahlah, sekarang hanya sebatas menunggu sampai anak ini lahir ke dunia. mudah-mudahan ada seberkas harapan untuk Ku kelak nantinya.
Laptop kemudian laptop aku aktifkan, setelah menunggu beberapa saat kemudian laptop siap di operasikan.
Lalu membuka file yang aku salin dari flashdisk milik Lisa.
Tidak disangka semua file membuka rahasia keluarga Lisa, sebenarnya ini sudah cukup membuat keluarga sombong tidak berkutik.
Tapi tahan dulu, lagipula mas Fahar sedang menghadapi permasalahan internal di perusahaan Nya.
Akan bertambah runyam jika mendapati file-file dari flashdisk ini.
Akhirnya ku simpan kembali lalu membuka karyaku yang tertunda.
Berjam-jam berlalu tanpa aku sadari, bahkan sampai mpok Nori mengantarkan makanan serta susu untukku di kamar ini.
Kemudian lanjut lagi, dan pada akhirnya lelah juga. lalu mandi dan kemudian berpakaian.
Mencoba untuk rebahan di kasur yang mewah ini, lama-kelamaan mata semakin berat dan berat.**
Ciuman lembut yang mendarat di keningku membuat membuka kedua mata ini, ketika aku ingin bangkit dari ranjang mas Fahar langsung membantu Ku.
"mas sudah makan malam?"
"ada yang mau bertemu dengan Mu."
Ucap mas Fahar, dan tanpa menanggapi Nya, aku dan mas Fahar menuju ke ruang tamu.
Ternyata seorang perempuan muda nan cantik sudah duduk manis di sofa ruang tamu, dia adalah perempuan yang bersama mas Fahar ketika di berada di pusat perbelanjaan itu. dia juga sudah pernah diajak ke rumah ini oleh mas Fahar.
"saya Fika Aliandra, Calon tunangan mas Fahar. lulusan coumlade dari Universitas HarvardĀ ."
Ucap perempuan cantik itu seraya berjabat tangan dengan Ku, dan aku menyebut namamu sendiri kepada Nya.
Tatapan begitu sinis terhadap Ku, dan itu wajar sebab diriku ini hanyalah anak babu yang tidak lulus SMK.
"Saya dan mas Fahar kelak nantinya akan menikah, tapi untuk saat ini belum. karena masih sibuk mengurus ijasah yang membuat harus bolak-balik Indonesia dan Amerika.
saya harap anda tahu diri, karena kamu hanya khusus untuk mengandung anak dari mas Fahar. karena aku tidak mau hamil, takut nya nanti akan merusak bentuk tubuh ku yang ideal ini."
Hanya bisa terdiam dengan ucapannya, karena aku bingung harus bicara apa. sementara mas Fahar hanya duduk santai sofa yang terlihat sibuk dengan handphone genggam Nya.
Perempuan cantik itu sudah duduk kembali di sofa, sementara aku hanya berdiri dan terdiam.
"mohon maaf maksud nya gimana ya? saya benar-benar tidak paham."
__ADS_1
"okey, saya paham akan keadaan mu yang tidak berpendidikan.
Jadi begini, jika anak yang kamu kandung ini adalah laki-laki. maka mas Fahar akan mempertahankan kamu menjadi istrinya, sampai mas Fahar menginginkan anak yang berikutnya dari mu.
Tapi kamu bisa berhenti, tentunya kamu akan mendapatkan kompensasi yang sangat pantas dan benar-benar layak.
Anak sama kami, dan kamu bisa pergi sesukamu dengan kompensasi yang diberikan oleh mas Fahar kepadamu.
Jika anak kamu kandung ini terlahir sebagai perempuan, maka kamu harus pergi dari kehidupan kami berdua dan bawa anak perempuan itu bersama Mu.
Tapi tetap dapat kompensasi, tapi jauh lebih ketika kamu melahirkan anak laki-laki untuk mas Fahar."
"saya paham non, dan non tenang aja. karena saya sadar diri kok. dengan di nikahi mas Fahar secara sirih seperti ini, sudah membuat ku bersyukur.
Karena kelak anakku ini tidak menjadi anak haram seperti cap dari orang-orang pada umumnya. anak lahir tanpa seorang ayah dan itu adalah aib."
Mas Fahar langsung berhenti memainkan handphone Nya, lalu menatap ku dengan tatapan aneh.
"apa ada lagi yang non sampaikan?"
"buru-buru amat, emangnya mau kemana?"
Ucap perempuan cantik yang bernama Fika, yang mengaku sebagai tunangan mas Fahar.
"mau istirahat aja non, maklum wanita hamil. sehingga gampang kelelahan.
Tuan muda, kapan kita pergi ke dokter? apakah sudah bisa USG? agar kita bisa mengetahui apakah anak ini perempuan atau laki-laki."
"Minggu depan aja."
Jawab mas Fahar dengan singkat, tapi tatapan matanya agar beda dari beberapa hari ini.
Lalu perempuan cantik mendekati mas Fahar lagi dan mereka berdua duduk begitu dekat.
"mas, nanti Fika ikut ya saat USG nya."
"liat nanti aja."
jawab mas Fahar ke perempuan cantik itu, tapi tatapan mas Fahar masih terus ke arahku.
"bisa saya masuk ke kamar?"
Kini perempuan itu menatapKu dan mengganguk, tapi mas Fahar masih menatapku.
Dengan berat kaki ini terus melangkah menuju arah kamar, dan aku langsung ke kamar mandi.
__ADS_1