
Ciuman dari mas Fahar begitu lembut di keningku, dan tidak berapa lama pintu kamar diketuk oleh Mpok Nori.
Ternyata susu ibu hamil dibawa nya dan juga teh untuk mas Fahar.
Setelah mpok Nori pergi, mas Fahar meniup susu tersebut lalu meminumnya.
"itu susu wanita loh mas!"
Selesai meneguk susu tersebut, mas Fahar tersenyum.
"hanya ngetes aja, aman apa ngak untuk anak kita."
susu tersebut masih di pegang Nya, dan setelah menunggu beberapa menit susu tersebut diberikan kepadaku.
"aman."
Ujar mas Fahar dan langsung ku teguk susu itu hingga habis.
"haus apa doyan neng?"
hanya tersenyum menanggapi perkataan Nya, dan mas Fahar membersihkan sisa susu dari mulut Ku.
"kalau udah dingin kurang enak mas, sebenarnya ngak suka susu ini. tapi demi si bayi apapun akan Marisa lakukan.
Sekali teguk langsung lega, tidak mual dan berguna untuk si bayi."
Mas Fahar tersenyum lalu mengambil gelas kosong dari tanganku lalu meletakkannya di atas meja.
"besok malam ada acara pernikahan rekan bisnis nya mas, bisa kamu dampingi mas ke sana?"
"bisa mas, yang penting Marisa minum susu terlebih dahulu dan itu sudah aman."
"oke,....
Tapi besok kamu duluan bersama uak Jarvis ya, karena ada beberapa dokumen yang harus mas urus terlebih dahulu bersama Sean."
Aku hanya mengganguk tanda setuju, dan mas Fahar kemudian menuntunku ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka.**
Seperti biasanya bangun pagi lalu beraktivitas, selesai mandi dan berpakaian lalu mas Fahar aku bangunkan.
Lagi-lagi ciuman mas Fahar mendarat di keningku, dan ciuman itu begitu lembut di kening ini.
Lalu beranjak ke kamar mandi, tidak berapa lama keluar dan akhirnya berpakaian rapi dan menuntun Ku ke ruang makan.
"uak Jarvis.... uak....."
mas Fahar memanggil uak Jarvis yang berada di meja makan di dapur, dengan membawa kopi yang belum habis di teguk lalu menghadap mas Fahar.
__ADS_1
"iya tuan muda."
ujar uak Jarvis yang masih memegang cangkir yang berisi kopi ditangannya.
"nanti sore antar Istriku ke hotel Horison, temani sampai pantai tiga ballroom. jangan pernah tinggalkan sampai saya datang."
"siap tuan muda."
"terimakasih uak, ngomong-ngomong jadi anak uak masuk pesantren itu?"
"insyaallah jadi tuan muda, lusa anak uak akan dijemput oleh pihak pesantren yang menyediakan bus antar jemput.
lusa, Uak ijin untuk telat masuk kerja ya. karena ingin melihat anak Uak berangkat ke asrama."
Karena ucapan uak Jarvis, lalu Mas Fahar menoleh Ku.
"kalau Marisa kasih ijin mas, karena lusa pun ngak ada rencana mau kemana-mana kok."
"iya uak, karena istriku lusa ngak ada acara apa-apa, jadi uak bisa libur juga."
"ngak usah sampai libur tuan, siapa tahu aja si neng butuh ke suatu tempat atau harus ke dokter. jadi uak stay aja disini hanya untuk berjaga-jaga.
lagi pula istriku juga kerja setelah anak kami berangkat, daripada bengong mendingan uak ke sini."
"terserah uak lah, yang jelas kami berdua mengijinkan uak Jarvis."
Tanpa terasa waktu terus bergulir, hingga akhirnya sudah pukul empat sore.
Setelah mandi dan berdandan, mpok Nori datang ke kamar ini dengan membawa susu hangat.
"neng nanti hati-hati ya, jaga diri baik-baik."
Ujar mpok Nori, lalu mengambil gelas kosong dari tanganku.
"iya mpok, terimakasih karena sudah perhatian sama neng."
"sama-sama neng."
jawab mpok Nori, lalu memegang tangan untuk membantu Ku berdiri. lalu menuntun Ku berjalan untuk hingga pintu ke rumah.
"hati-hati ya uak, ngak usah ngebut bawa mobilnya."
"iya mpok."
Jawab uak Jarvis dengan singkat, lalu mobil melaju dengan kecepatan sedang. karena memang tidak perlu untuk buru-buru, karena acaranya di mulai jam enam sore. sedangkan sekarang masih jam empat lewat.
Sampai di hotel lalu naik lift, dan tetap uak Jarvis menemani Ku hingga sampai ke ballroom.
__ADS_1
Tamu undangan sudah mulai berdatangan, dan uak Jarvis tetap dibelakang Ku. sesuai dengan perintah dari mas Fahar.
"wauu, anak babu naik tahta sekarang. luar biasa, kamu bisa datang kemari?"
Suara dari maminya mas Fahar mengundang perhatian dari tamu undangan yang lain, sehingga aku menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
"bapak-ibu, perempuan ini adalah anak pembantu di rumah kami. yang rela di perkosa oleh anak ku, sebenarnya bukan di perkosa, tapi anak babu ini yang menyerahkan tubuh nya untuk di tiduri oleh anakku.
Tujuannya hanya ingin naik tahta menjadi istri orang kaya, dasar anak babu yang tidak tahu diri."
"jangan omongan mami."
Ujar mas Fahar dengan nada yang tinggi yang ternyata sudah datang bersama Sean, lalu mas Fahar memang tanganKu.
"Marisa memang anak pembantu, dan saya sangat menyukai nya dan tergila-gila pada Nya. tapi sulit untuk mendekati nya.
jalan yang saya tempuh untuk menjadikan Marisa menjadi istri Ku memang salah, tidak seharusnya aku memperkosanya.
Fahar harap mami jaga mulut dengan benar, saya cara mami untuk mendapatkan apa yang mendapatkan apa yang di inginkan."
"apa maksudmu Fahar, gara-gara perempuan ini. anak babu sialan ini, kamu kurang ajar sama mami."
"mami ngaca dulu, gara-gara mami. keluarga bahagia yang dibangun papi dengan susah payahnya, mami hancurkan demi brondong mami.
Mami ngak usah ceramahin orang, liat dulu siapa diri mami. ngaca mami."
Ujar mas Fahar dengan begitu lantang dan nada suara yang tinggi.
Lalu mas Fahar menarik tanganKu dengan pelan dan membawa keluar dari ballroom hotel yang mewah itu.
Kami semua pulang ke rumah dan sepanjang perjalanan kami terdiam, sesampai nya di rumah. uak Jarvis pamit untuk pulang, dan hal itu membuat susana tegang menjadi cair seketika.
Kemudian mas Fahar mengajakku dan juga Sean menuju ruang makan, dan Mpok Nori sudah siap menyambut kami.
"Mpok dah firasat akan ada masalah, makanya Mpok meminta Bu Ani untuk masak."
Ujar mpok Nori sembari menghidangkan makanan dan minuman yang sudah disiapkan oleh Bu Ani.
Sementara Bu Ani sudah pulang ke rumahnya, karena dia hanya bertugas masak sampai sore dan pagi-pagi sekali sudah di tiba di rumah ini untuk memasak.
Mpok Nori masih menemani kami hingga selesai makan, lalu membuatkan susu hangat untukku.
"pelan-pelan aja minum nya neng."
Ujar mpok Nori yang melihat Ku meneguk susu nya hingga habis, lalu Mpok mengambil gelas itu dari tangan Ku.
"duduk disini sebentar, lalu istrihat ya neng. mpok mau kebelakang untuk cuci piring, kalau perlu apa tinggal panggil mpok ya."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk untuk menjawab mpok Nori, sementara Sean terlihat menelan ludahnya karena tingkah ku saat minum susu hamil barusan.