
Sesampainya di rumah dan kami kemudian berdiskusi, berdiskusi akan sikap dan permintaan dari Fahar.
"jika menolak untuk tinggal di rumah itu, maka Fahar akan mengajukan banding.
itu berarti aku masih bertemu dengannya, dan hal itu benar-benar membuat Ku lelah."
"walaupun Fahar banding, itu tidak akan berpengaruh apapun.
karena Fahar tidak mempunyai bukti yang baru, ibu setia dalam hal perkawinan. jadi tidak ada hal yang perlu kita takutkan bu."
Kami semua menoleh ke arah Denan, akan sanggahannya terhadap keluhan yang aku lontarkan.
"Fahar itu bukan orang sembarangan Denan, dia bisa melakukan apapun untuk membuat klien kita sengsara.
Saya menyarankan kepada ibu, untuk memenuhi permintaan nya. akan tetapi kita buat perjanjian lagi.
Apalagi Fahar masih mengganggu ibu, maka Fahar bersedia di pidanakan.
Selain daripada itu, dengan ibu memenuhi semua persyaratan dari Fahar, secara otomatis ibu akan menguasai semua hartanya dan tentunya Fahar tidak punya apa-apa lagi.
Fahar tidak bisa lagi menyewa pengacara yang kompeten ketika kita menggugat nya karena telah mengingkari janjinya."
Sejenak kami langsung terdiam saat mendengar penjelasan dari pak Robert, kemudian bu Margono berdiri.
"iya... iya....
masuk akal juga, ketika seseorang tidak mempunyai apa-apa lagi, pastinya dia menyerah terhadap keadaan.
Ibu sependapat dengan nak Robert, karena dengan ada uang yang banyak maka Fahar, akan mengganggumu."
Lalu hening seketika, kemudian datanglah Elfata bersama Bani dan kemudian duduk manis di sampingku.
"Elfata juga setuju dengan pendapat om lobet dan Oma.
Bunda tenang aja, Elfata akan selalu ada belsama bunda.
Oma, mas Bani, Bude. bersediakah menemani kami berdua menghadapi ayah di rumahnya?"
"Oma bersedia."
"bude juga nak."
"mas juga oke kok, kita kan kelualga dan akan selalu ada dalam duka maupun duka."
Elfata langsung berdiri dan memeluk mas nya, begitu juga dengan bu Margono dan juga mbak Nining.
__ADS_1
Lalu berpelukan dengan erat, dan sejenak kekuatan pulih kembali.
"baik pak Robert, saya setuju dengan saran bapak."
Tas kecil yang selalu aku bawa langsung di ambil oleh Elfata, kemudian mengambil handphone dari dalam tas tersebut.
"ayah bisa datang ke lumah?"
Itulah yang ditanyakan oleh Elfata kepada ayahnya melalui panggilan telepon, lalu obrolan itu berakhir.
Tidak berapa lama kemudian Fahar sudah tiba di rumah ini bersama, dan kali ini tanpa pengacaranya yang banyak itu.
"kami sudah untuk tinggal di lumah ayah, tapi dengan syalat ayah halus pelgi dali lumah itu."
"ayah siap nak, tapi ijinkan ayah memeluk mu dan juga bunda mu."
Elfata langsung memeluk ayahnya dan terlihat air mata yang mengalir di pipinya Fahar, jujur aku tidak paham arti dari semua ini.
"bunda udah ngak anggap ayah sebagai suaminya, kalau ayah tetaplah ayah dali Elfata. kalau memeluk bunda, ijin dulu bunda."
Karena saya ingin semuanya cepat berakhir, maka saya memeluk Fahar.
Pelukan yang erat dari Fahar, serta tujuan nya yang tidak aku pahami.
"tolong jaga Elfata, sayangi dia dan cintai dia. saya titipkan Elfata.
"tanpa kamu minta, saya menyayangi Elfata. sampai saat dan usaha ku adalah agar tidak terpisah dari Elfata.
Elfata adalah penyemangat hidupku, dialah yang menjadi matahari hidupku.
saya akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Elfata."
"hari ini juga kalian harus tinggal di rumah, termasuk bu Margono, Nining dan anaknya. saya harap kalian saling mengasihi dan mencintai satu sama lainnya dan saling melindungi."
"tapi ngak mungkin hari ini juga mas, lalu barang-barang kami yang disini gimana?
Sekolah nya Elfata dan Bani gimana? lalu bagaimana dengan lainnya mas?"
"terimakasih ya karena kamu memanggilku dengan mas lagi.
tenang Marisa, semuanya ada yang urus. pokoknya kalian tinggal terima beres aja.
Tiket pesawat sudah aku pesan untuk kalian semua, sudah nurut aja."
Fahar terus mendesak agar segera pindah ke rumahnya, dan akhirnya kami sepakat akan berangkat ke Jakarta saat ini juga.**
__ADS_1
Mungkin karena kelelahan, anak-anak dan mbak Nining tertidur selama perjalanan ke Jakarta.
Hanya aku dan bu Margono yang terjaga, tidak bisa tidur karena kepikiran dengan semua tingkah dari mas Fahar.
Selama tiga jam dalam penerbangan dan akhirnya kami sampai juga di Jakarta, dan langsung dijemput oleh Renta di bandara.
"kenapa mas Fahar sangat aneh sekali? saya bingung dengan semua sifatnya dan tingkahnya?"
"saya juga kurang paham bu, tapi nanti Renta memanggil Sean untuk menjelaskan ini semua.
Karena Sean adalah sepupunya bapak yang merangkap menjadi asisten pribadinya, Renta yakin kalau Sean memiliki jawaban akan semua pertanyaan ini."
Jawaban dari mbak Renta sangat diplomatik, sehingga aku sulit untuk mengerti.
Sesampainya di rumah mewah ini, kami langsung di sambut oleh mpok Nori dengan senyuman yang sumiringah.
Sepertinya beliau sangat merindukan kami, seketika itu juga langsung memeluk Elfata, kemudian Bani, lalu memelukku.
Ada yang berbeda ketika memelukku, mpok Nori menangis sejadi-jadinya.
Renta yang sibuk membantu kami terlihat ingin mengontrol emosi dari mpok Nori, bahasa tubuh Renta yang menyuruh mpok Nori agar tidak menangis dan itu terlalu kentara.
"apa yang sebenarnya terjadi mbak Renta? cerita dong."
"kita tunggu mas Sean ya, karena saya juga ngak tahu bu."
Tidak mungkin aku memaksa Renta untuk menjelaskan semuanya, Renta adalah sekretaris mas Fahar yang terkenal konsisten dalam hal bekerja.
Renta diandalkan dalam hal menyimpan informasi apapun dan rahasia apapun, jadi tidak mungkin aku bisa memaksa Renta untuk cerita.
"masakan sudah terhidang, yuk makan dulu. pasti anak-anak dah pada lapar."
Mpok Nori langsung menyeka air matanya yang mengalir ketika mendengarkan ucapan bu Ani.
Lalu meraih tangan Elfata dan Bani menuju meja makan, dan kami hanya mengikuti mereka bertiga ke ruang makan.
"Renta mau pamit dulu, karena ada urusan lain yang harus Renta selesaikan?"
Renta pun pamit, tapi ketika dia pamit. suaranya bergetar seolah-olah menahan emosi dan tangisan.
Capek dan penuh pikiran akan semua hal ini, akan tetapi perut juga perlu di isi.
Berhubung ini sudah malam dan kami pun makan malam bersama, dan lagi-lagi raut wajahnya mpok Nori yang berbeda yang seolah-olah menahan tangis.
Percuma juga aku bertanya, karena mpok Nori tidak akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Saya sudah cukup mengenal mpok Nori dengan segala sifat nya, beliau tidak akan pernah cerita jiwa tidak ingin bercerita.
Hanya bisa menunggu waktu yang tepat agar mpok Nori bisa cerita, dan lagi pula masih Sean yang kemungkinan besar mengetahui semua hal yang aneh ini.