AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Keluarga Ku yang Baru.


__ADS_3

Kebiasaan seperti biasanya bangun pagi dan beres-beres area kerja, pukul enam pagi bu Margona sudah masuk ke dalam rumah ini, karena bu Margona punya kunci cadangan.


Ibu Margona membuatkan susu hangat untuk Ku dan kemudian mulai untuk memasak.


"cepat benar bu, mangnya mbak Nining dan bayi Nya ngak butuh bantuan ibu?"


"sudah loh nak, itu Nining bentar lagi kemari. tadi kami gantian beres-beres. setelah selesai baru deh Nining mandi."


Ucap bu Margona dan lanjut untuk masak, dan aku langsung mandi, selepas mandi lalu berpakaian dan bersolek dikit.


Kemudian ke ruang kerja, lalu menyalakan dua komputer.


Tidak berapa lama Nining dan bayi laki-laki nya yang sudah wangi minyak telon, datang ke ruangan kerja.


Bayi laki-laki itu yang bernama Bani, di rebahkan di ayunan yang baru aku beli. sebenarnya itu untuk anak yang aku kandung ini, tapi nanti beli yang baru lagi.


Ayunan tersebut otomatis karena menggunakan listrik, sehingga tidak capek untuk mengayunkan.


"inilah aku Anisa mbak, liat begitu banyak komentar yang belum aku respon. banyak juga yang harus aku ketik prolog Nya."


"oke serahkan kepada mbak, pertama mbak mau menanggapi fans setia Mu."


Sepertinya mbak Nining sudah ahli dalam hal menanggapi komentar dari fans, dia begitu lihainya menanggapi komentar demi komentar.


Ajaib benar, interaksi mbak Nining langsung menaikkan jumlah pembaca karyaku.


"Neng.... neng.....


mari sarapan dulu, kerja itu butuh tenaga. yuk makan, ibu dah selesai masak."


Kami berdua mengikuti ibu Margona untuk sarapan, dan Bani kami dorong yang sudah tertidur di ranjang tersebut.


Ranjang nya punya roda sehingga bisa di dorong, karena Bani anak Nining sudah tidur. dan kami bisa makan bersama.


Selesai sarapan aku dan mbak Nining kembali bekerja, dan kali ini mbak membantu ku untuk menuliskan prolog Nya.


Berkat bantuan mbak Nining, lima episode sudah terupdate dan itu langsung disambut oleh fans.


Tanpa terasa sudah sudah pukul sebelas siang, lalu aku menemani mbak Nining untuk memandikan Bani, sekaligus belajar menjadi ibu.


Setelah Bani selesai dimandikan, aku mencoba untuk memberikan pakaian untuk Bani.


Masih di pantau oleh mbak Nining, ternyata aku bisa melakukannya. kini Bani sudah selesai berpakaian dan kembali wangi.

__ADS_1


"seru juga ya mbak, yuk kita taman sayuran aja. kita makan siang disana aja, bosan juga mbak."


"ayok...."


Beriringan kami berjalan ke arah samping rumah, dimana tanaman ku sudah mulai subur, lalu duduk seraya melihat mbak Nining menyusui Bani.


"dah pada lapar? kita maka disini yuk, biar kyak bertamasya gitu."


Ucap bu Margona, kami berdua hanya mengganguk setuju dan bu Margona menuju dapur untuk mempersiapkan makanan dan minuman.


Sebenarnya aku mau bantuin, tapi dilarang oleh bu Margona.


Bani tidak rewel, setelah mandi dan kenyang kemudian tertidur. Angin sepoi-sepoi nan sejuk membuat Bani tertidur, dan lagi-lagi kami bisa makan bersama.


Kami makan dengan nikmat, masakan ibu Margona begitu lezat, dan makanan itu mengingatkan akan masakan mama yang mengobati kerinduan terhadap almarhumah mama.


"semuanya sudah bersih, pakaian sudah ibu setrika dan sudah berada di lemari. nanti tinggalkan aja Bani disini bersama ibu ya.


Nanti biar ibu menjaga Bani sembari mencabut rumput-rumput liar itu."


"terserah ibu ajalah, yang penting ibu hepi."


Jawab mbak Nining, lalu bu Margona membawa sisa makanan serta piring kotor dengan bantuan meja yang beroda.


"iya juga ya, karena bosan juga di dalam ruangan itu. liat yang hijau gini mata jadi segar dan otak fresh.


bentar biar mbak ambil kan laptop mbak ya, tunggu sebentar."


Melihat wajah Bani yang tertidur pulas, ingin rasanya mencubit nya. tapi ngak ah, nanti terbangun.


Tidak berapa lama mbak Nining sudah tiba dengan membawa laptop dan juga dua botol minum yang lumayan besar.


"ibu nanti marah kalau kita ngak banyak minum."


Ucap mbak Nining seraya memberikan botol minum kepadaKu.


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mbak Nining, karena ibu Margona selalu ngomel-ngomel jika kami berdua tidak banyak minum.


"ini jamu buat nak Anisa, sangat bagus untuk ibu hamil. dan ini mu Ning, agar ASI mu lancar dan sehat."


Nining hanya tersenyum dan ibu Margona mengawasi kami dan akhirnya kami berdua minum jamu tersebut.


"uhmmm, enak kok, cocok di lidah ku."

__ADS_1


Jamu tersebut aku teguk hingga habis demikian juga dengan Nining, setelah memastikan jamu kami habis barulah ibu Margona pergi ke dapur dengan membawa gelas bekas minum jamu tadi.


Tidak berapa lama bu Margona datang dengan membawa gelas dan juga teko yang berisi air minum.


"minum yang banyak ya."


Ucapnya seraya meletakkan gelas dan teko yang berisi air minum itu.


Lalu beranjak ke arah tanaman Ku, dan mulai mencabut rumput liar diantara tanaman sayuran itu.


Sesekali bu Margona memeriksa kami untuk memastikan kalau kami berdua minum air dengan cukup dan juga Bani yang berada di ayunan.


"nak Anisa."


Bu Margona memanggilku, dan tanpa kami sadari si ibu sudah dihadapkan kami.


"ibu diberitahu oleh bidan Salma, katanya nak Anisa ikut senam ibu hamil.


Sudah setengah empat ini nak, sana siap-siap untuk senam. nanti biar ibu beresken semua ini."


"iya ampun, tanpa terasa waktu berjalan ya bu."


Aku di temani oleh bu Margona untuk pergi ke klinik bidan Salma, sementara Nining tetap di rumah.


Sebenarnya tidak perlu ditemani, tapi ibu Margona memaksa.


Setelah sampai di klinik, barulah ibu Margona pulang.


Senam satu jam dan bu Margona sudah tiba di klinik untuk menjemput ku lagi, benar-benar membuat ku terharu.


Sesampainya di rumah, Nining sudah mematikan semua peralatan komputer dan itu atas perintah ibu Margona.


Selesai mandi dan kami duduk di sofa ruang tamu, sembari minum teh.


"mbak, ibu. tidur disini ya, soal nya sepi. disini juga ada dua kamar kosong kok dan sudah lengkap dengan tempat tidur Nya dan AC di dalamnya."


Terlihat bu Margona dan menantunya itu berdiskusi, kemudian menatapku.


"iya juga ya, ngapain harus dua rumah. lebih hemat dan ibu tidak perlu kwatir malam Nya. baiklah, nanti pelan-pelan ibu bawa pakaian ke mari.


Serahkan semua sama ibu, toh juga ibu nyuci disini, dan perlahan nanti pakaian akan berpindah kemari."


Permintaan ku disetujui, alhasil kami tinggal satu rumah.

__ADS_1


Ibu Margono ke rumahnya yang tepat disamping rumah ini, untuk mengambil beberapa barang kebutuhan Bani dan juga untuk ibu Margona dan Nining.


__ADS_2