AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Penat


__ADS_3

Renta sudah selesai mengeluarkan map dalam kardus tersebut dan kemudian mengelompokkan map diatas meja sofa ruangan mas Fahar ini.


Akhirnya selesai Renta menyusun dan mengelompokkan map tersebut dan sudah tersusun rapi.


Kemudian Renta duduk disamping seperti tadi ketika menyisir dan merapikan rambut Ku tapi raut wajahnya masih sama.


"tenang Renta, jangan tegang gitu wajahnya."


Ucap mas Fahar, lalu Sean berdiri kemudian meraih minum air mineral kemasan botol dari meja mas Fahar lalu memberikan kepada Renta.


"minum dulu dan tenangkan dirimu."


Ujar Sean kepada Renta, botol minum air mineral itu di buka oleh Sean dan akhirnya di teguk oleh Renta.


Sesaat kemudian Sean menolah Renta seraya tersenyum ke arah gadis muda itu.


"giman sudah tenang?"


Sean bertanya dan Renta mengganguk dan kemudian menarik napas panjang.


"sebenarnya saya takut pak, berkas ini semua adalah bukti kecurangan Bu Rina, sang nyonya besar terhadap kantor ini dan bukti kecurangan nya terhadap kesetiaan dari almarhum pak Wijaya."


"maksud apa Renta?"


"pak Fahar silahkan baca sendiri, map kuning berupa bukti korupsi nyonya Rina dan map biru adalah bukti kongkalikong nyonya Rina terhadap beberapa pegawai di gedung untuk memuluskan penggelapan dana perusahaan."


Jawab Renta kepada mas Fahar, dan mereka berdua langsung membaca file-file tersebut.


Hampir satu jam kami menunggu mas Fahar dan Sean membaca file-file tersebut dan terakhir mas Fahar membanting dua map yang ada di tangannya.


"Renta......


kenapa baru sekarang semua ini kamu tunjukkan?"


"maaf pak saya takut, Bu Vera yang di hormati di kantor ini tewas karena mempertahankan berkas ini pak.


Bagiamana dengan saya yang hanya pegawai magang saat itu.


almarhumah Bu Vera berpesan, kalau pak Fahar sudah menikah dengan wanita yang di inginkan Nya, maka emosi pak Fahar kemungkinan akan stabil.


Ternyata ucapan almarhumah Bu Vera benar adanya, setelah bapak menikah dengan Bu Marisa.


Bapak berubah menjadi pribadi yang lebih baik, kebiasaan bapak yang suka membentak orang kini sudah berkurang.


Ketika ibu Marisa baik ke atas ini, dan seketika itu harapan ku untuk melaksanakan amanah almarhumah Bu Vera akan terlaksana.


Kemarahan bapak terkontrol karena ada ibu Marisa di dampingi bapak, biasa bapak langsung menghamburkan berkas jika ada bermasalah.

__ADS_1


Sekarang bapak bisa mengontrol nya, mohon maaf pak. Marisa hanya meneruskan amanah dari almarhumah Bu Vera."


Wajah mas Fahar berangsur berubah seperti sediakala saat di rumah, tatapannya tidak tajam lagi ke arah Renta.


"maafkan semua atas tindakan ku, dan terimakasih karena Renta masih menyimpan bukti-bukti ini dengan rapi."


"haaaaaaaa.....


Lega rasanya pak, tidak ada lagi beban untuk melaksanakan amanah dari almarhumah.


Map merah ada pertinggal berkas dari komputer dan laci almarhumah Bu Vera, dan itu semua berhubungan dengan map kuning dan map biru pak."


"baik dan terimakasih, untuk menenangkan pikiran Renta. tolong ajak Istriku jalan-jalan di pusat perbelanjaan di depan gedung ini.


ini kartu kredit dan gunakan serta belanja lah apapun yang kalian berdua inginkan."


"terimakasih pak, bisa kami ke salon pak?"


Sean tersenyum akan permintaan dari Renta yang masih sempat-sempatnya request ke salon menggunakan kartu kredit dari mas Fahar.


Mas Fahar hanya mengganguk, dan seketika itu juga Renta langsung menuntut ku untuk berdiri, dengan menggandeng tanganKu. kami keluar ruangan yang di ikuti oleh dua bodyguard.


Pusat perbelanjaan dan gedung mewah kantor mas Fahar ini terhubung langsung dengan menggunakan jembatan penghubung yang di desain dengan mewah.


"kita ke salon dulu ya Bu, keramas, medi pedi dan sebagainya. setelah itu kita makan dan belanja."


Sepertinya salon ini sering dikunjungi oleh Renta, karena pegawai nya langsung menyambut dengan ramah.


"tolong ya girls, yang aku bawa ini adalah istri pak Fahar. tolong layani dengan pelayanan VVIP ( Very-Very Important Person)."


Pinta Renta kepada para pegawai dan langsung orang pegawai perempuan yang menangani ku.


Lalu datang seorang pria yang terlihat kemayu, dan kemudian mendekati Ku.


"terimakasih mbak Renta karena telah membawa tamu istimewa untuk kami."


"sama-sama cinta."


Jawab Renta kepada pria kemayu itu, dan kemudian tersenyum lebar ke arahku.


"terimakasih nyonya Fahar, karena sudah bersedia datang ke salon saya. ibu mau paket apa?"


"Samakan aja dengan paket yang di pilih renta."


"uhmmm......"


Ujar pria kemayu itu, dan salah satu pegawai yang melayani Renta mendekati dengan membawa buku seperti buku menu yang terdapat di restoran atau cafe.

__ADS_1


"baik Bu, paket yang di pilih mbak Renta lumayan lengkap. saya setuju, tapi tidak untuk potong rambut nya ya.


Kata mami Ku, pamali kalau wanita hamil potong rambut. ntar habis lahiran ibu datang ke sini lagi untuk mengambil paket penuh ya Bu."


"iya juga, aku sering mendengar nya walaupun ngak percaya dengan tahayul itu, tapi apa salahnya menghormati."


"sama Bu, tapi hanya sekedar menghormati nasihat dari orang tua aja.


kalau begitu kita mulai ya, sista.....


go sayang, berikan pelayanan terbaik dari tamu kehormatan kita. nyonya Fahar Wijaya, pemilik gedung ini."


Dengan jari yang kritis dan melambai, pria kemayu itu duduk disamping Ku untuk mengawasi tiga pegawai nya yang melayaniku.


Satu bagian kaki, satu lagi bangan tangan dan satu orang lagi bagian kepala.


Pijatan di bagian kepala membuat ku begitu rileks, enak banget rasanya demikian juga di bagian kaki dan tangan.


"Nenci....


ingat iya, wanita cantik yang menjadi tamu kehormatan kita sekarang menjadi wanita yang sempurna, perlakukan dengan sempurna."


"siap bos."


Itulah yang saya dengar dari percakapan pria kemayu itu dengan pegawai Nya.


"ibu rileks ya, ibu ngak boleh banyak pikiran. karena itu saya menugaskan Neny yang ahli memijat kepala wanita sempurna nan cantik seperti ibu agar lebih rileks."


Ucap pria kemayu itu yang sok di buat-buat manja dan ramah.


Tapi aku akui rasanya rileks banget dan pelayanan membuat tenang saat ini.


"ibu cantik, kita ke ruang sebelah ya untuk keramas."


Ujar pegawai yang memegang kepalaku, dan mereka bertiga membantu Ku berdiri, dan kemudian menuntun masuk ke ruang sebelah lah dan menuntunKu ke tempat keramas itu.


Tangan dan kaki ku di lulur oleh dua pegawai yang lain, dan pegawai yang Neni itu menguyur kepada ku dengan air hangat.


"Neni pakai air hangat kan?"


"iya Bos."


Jawab pegawai yang bernama Neni itu kepada pria kemayu tersebut.


"ibu kita creambath ya Bu, agar rambut ibu semakin berkilau dan ibu semakin cantik."


Aku menggeleng kepala untuk menjawabnya dan tidak lama kemudian suara pria kemayu itu tidak terdengar lagi.

__ADS_1


__ADS_2