AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Memulai Hidup Baru.


__ADS_3

Ternyata itu hanya mimpi indah, dimana aku bisa bertemu dengan almarhumah mama. tapi setidaknya mama sudah tersenyum melihat ku yang bisa kuat dan tegar.


Kemudian aku tidur lagi dan berharap mimpi indah bisa terulang kembali.*


Seperti biasa bangun pagi setengah enam, lalu beres-beres kemudian masak dan setelah itu mandi.


Semua pekerjaan sudah selesai, dan saat nya beraktivitas.


hanya dengan naik angkutan umum untuk pergi ke pusat kota, dan begitu sampai langsung menuju toko elektronik yang menjual perlengkapan komputer.


Dua unit komputer yang sudah touchscreen dengan kapasitas penyimpanan yang besar dan satu laptop serta printer yang berkualitas tinggi dan alat WiFi.


Total belanjaan senilai empat puluh juta Rupiah, dan pihak toko akan mengantarkan nya berikut juga dengan Ku.


Disebelah nya ada toko peralatan rumah tangga yang menjual kulkas dan juga mesin cuci dan AC.


Uang tersebut dari penghasilan menjual komik dan juga hadiah dari almarhum tuan Wijaya.


Totalnya mencapai tiga ratus enam puluh juta Rupiah, itu sudah cukup untuk memulai hidup baru ditempat ini.


Sesampai di rumah peralatan tersebut langsung dipasang, satu Ac di kamar utama yang aku tempati dan satu Ac khusus untuk server komputer satu lagi untuk area kerja Ku.


Dengan bantuan tetangga Ku yang ramah dan baik untuk membuatkan lahan pertanian dibelakang rumah, untuk sekedar menanam sayuran dan kebutuhan bumbu.


Jika bosan menggambar, nantinya akan berkebun di belakang rumah.


Para tukang sudah selesai kerja dan semua sudah siap beroperasi, dan saatnya pergi ke bidan rekomendasi dari istri Bu RT.


Hanya perlu jalan kaki selama lima belas menit dan akhirnya sampai juga, kliniknya tidak terlalu besar tapi nyaman.


Sambutan yang ramah dan nama Bidan yang cantik itu adalah Salma, rupanya ada juga pasilitas USG nya tapi tidak secanggih USG yang ada di kota besar.


"usia kandungan ibu sudah dua puluh satu minggu yang artinya tujuh bulanan.


Perkembangan Nya sangat baik dan posisi bayi normal, pertahanan iya ibu."


"terimakasih Bu bidan, saran dari Bu bidan akan saya laksanakan.


Oh iya Bu bidan, apakah saya sudah bisa mengetahui jenis kelamin calon Anakku?"


"ini kan USG tiga dimensi, kurang akurat jika harus mengatakannya.

__ADS_1


Berdasarkan pengalaman saya ibu, melihat kehamilan ibu secara kasat mata. bahwa anak yang ibu kandung adalah laki-laki.


Dari ciri-ciri nya serta fisik ibu yang sekarang, dan hasil USG ini pun menunjukkan bahwa anak ibu laki-laki.


Tapi saya tidak pernah memakai rujukan dari USG ini Bu, saya hanya melihat dari kondisi fisik dari ibu hamil.


Perkiraan saya tidak pernah meleset selama ini, dan aku sangat yakin delapan puluh persen kalau anak ibu adalah laki-laki."


"begitu iya Bu bidan, tapi kenapa ya dokter yang dulu memeriksa kehamilan saya mengatakan kalau calon anakKu ini adalah perempuan?"


"mohon maaf ibu, mengenai itu saya tidak bisa berkomentar. tapi saya lebih yakin kalau anak adalah laki-laki.


Tapi semuanya itu jelas jika sudah lahir nanti, dua minggu lagi harus harus kontrol ya Bu.


Oh disini ada juga pelatihan untuk ibu hamil, mereka yang ikut latihan. rata-rata bisa melahirkan secara normal.


Tiga kali seminggu dan itu sore hari dari jam empat sampai jam lima.


Jika ibu berkenan dan ada waktu, saya sarankan untuk ikut Bu. karena ini bukan hanya untuk bayi tapi baik untuk ibu juga."


"saya mau Bu bidan, apapun akan aku lakukan demi calon bayi ku ini."


Hari sudah malam, sekarang sudah jam delapan malam. email baru dan juga handphone baru serta kartu SIM card yang baru.


Pertama-tama memasukkan kontak pak RT dan istrinya, tetangga rumah dan juga nomor Bu bidan.


Kemudian aku membuka karyaku yang sudah selesai ku buat, kemudian meng-upload karya yang baru.


Tidak berkarya selama beberapa bulan, ternyata para pembaca setia ku sudah banyak yang menanyakan kabar dariKu.


Tiba-tiba saja editor ku langsung menghubungi Ku, ternyata ada lima karyaku yang di adopsi menjadi serial film.


Nilai kontrak ngak main-main, jika di konversi ke rupiah total mencapai satu milyar lebih.


Ini adalah hadiah untuk anakku ini, dan empat karyaku yang baru saja aku upload langsung mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para fans setiaku.


Berkali-kali aku mengucap syukur atas semua rejeki yang aku terima ini, tidak menyangka akan mendapatkan hadiah sebesar ini.**


tok.... tok ..


"nak Anisa... nak Anisa...."

__ADS_1


Suara seseorang dari pintu luar yang membangunkan tidur Ku, jam dingding masih menunjukkan angka lima


Dengan bergegas aku langsung melangkah ke arah pintu, pertama aku intip dulu siapa yang datang dan ternyata itu adalah ibu margona.


"iya bu, kenapa bu? apa yang bisa Anisa bantu?"


Ibu margona langsung memegang kedua tanganKu seraya menangis.


"ibu butuh bantuan nak, menantuku mau melahirkan kan di rumah sakit. dan itu harus operasi karena anak sungsang."


"sini nomor telpon rumah sakitnya."


Pihak rumah sakit langsung aku telpon, dan saya berkata untuk siap menanggung semua biaya rumah sakit nya, asalkan Nining dan bayi selamat.


Kebetulan tetangga sebelah punya pickup, dengan naik pickup kami langsung ke rumah sakit.


Nining sudah di ruang operasi, dan saya serta bu Margona langsung ke administrasi.


Dengan menggesek kartu debit milikku, totalnya mencapai dua puluh lima juta rupiah dan itu sudah termasuk biaya inkubator untuk anaknya nanti.


Kemudian kami berdua ke ruang tunggu Operasi, dan tidak berapa lama terdengar suara bayi menangis dan suara itu begitu pelan.


Lalu keluar tiga orang perawat yang membawa bayi dalam tabung inkubator, lalu kemudian keluar ibu dari bayi tersebut dalam keadaan yang belum sadar.


"dokter, bagaimana menantu?"


"semuanya berjalan lancar ibu, tinggal menunggu masa pemulihan dan cucu ibu laki-laki, mudah-mudahan bisa secepatnya keluar dari inkubator."


Ucap dokter itu lalu pergi dan kami mengikuti, Nining yang dibawa oleh perawat ke ruangan rawat.


Tapi kami belum di ijin untuk melihat pasien dan kami memutuskan untuk melihat bayi aja.


Bayi itu begitu imut dan kecil, ada beberapa alat medis yang menempel di tubuh kecil itu.


"Papa nya meninggal tiga bulan yang lalu saat proyek, dan tinggal lah kami sendiri seperti ini.


Sebenarnya kami punya uang, tapi di pinjam oleh saudara ibu, katanya akan segera dikembalikan.


Tapi saudara ibu tidak punya uang, alhasil rumah yang di samping itu jadi milik kami."


Ucap ibu Margona dan kemudian menatapku dengan tatapan sedih.

__ADS_1


__ADS_2