
Elfata memisahkan pelukan Ku dari Renta dan berusaha menjauhkan Ku dari Renta.
Terlihat kecemburuan dari Elfata, karena pelukan Renta.
"bunda punya anak lain juga? telus Elfata anak yang ke belapa bunda?"
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Renta yang tadinya menangis kini tertawa karena sikap dan ekspresi dari Elfata.
"kenalin, nama tante Renta. Tante bukan anak bunda mu sayang.
Tante ini adalah rekan kerja bunda mu, hanya Elfata yang menjadi anak bunda ya. jangan cemburu gitu dong."
"ngak cembulu, Elfata ngak suka aja kalau ada olang lain memeluk bunda Ku."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Renta tertawa lagi, demikian juga dengan Sean, asisten pribadinya Fahar, sementara sang tuan muda malah menangis.
"Elfata, yuk main sama Oma dan juga mas Bani yuk."
"ngak oma, nanti bunda disakiti oleh om itu?"
Jawab Elfata kepada bu Margono, dan ucapannya Elfata adalah pelipur lara hatiku.
"tenang anak bunda, Elfata ngak usah khawatir, bunda bisa jaga diri kok."
Akhirnya Elfata meninggalkan kami di sini, tapi sepertinya anakku itu malah mengintip dari arah dapur.
"ibu makin cantik dan lebih anggun, sepertinya kehadiran kami adalah gangguan buat ibu."
Aku hanya mengganguk dan Renta tersenyum menanggapinya.
"tuh kan pak Fahar, feeling saya benar. anak bapak laki-laki.
Insting seorang perempuan itu jauh lebih tajam dari laki-laki bahkan dari alat USG itu."
"iya.... iya.... insting kamu luar biasa, tadi aku melihat taman disamping itu. yuk kita ke sana."
Ucap Sean yang membawa paksa Renta ke arah taman samping rumah, kini tinggallah aku dan Fahar disini.
"Saya minta maaf Marisa, saya salah karena mudah terprovokasi.
Mari kita mulai lagi bersama anak kita, aku sayang dan cinta sama kamu."
"maaf, saya tidak bisa. bagiKu kamu sudah meninggal.
tolong tinggalkan saya dan anakku, aku sengaja tinggal di pulau ini, untuk pergi menjauhi mu.
__ADS_1
Elfata bukan anak mu, dia itu anakku. tolong tinggalkan kami."
"tidak Marisa, aku tidak akan meninggalkan kamu dan Elfata. karena aku sangat mencintaimu.
kembali lah kepada ku lagi, kita mulai hidup yang baru.
Pengacau hidup ku sudah pergi semuanya, mari kita mulai lagi "
"jangan ganggu hidupku lagi, saya mohon. tolong pergilah dari hidup Ku."
Setelah semua yang dia lakukan terhadap Ku, dan seenak itu dia memintaku dan Elfata untuk balik kepada Nya.
Tidak, itu tidak akan terjadi. cukup kepedihan dimasa lalu itu, jangan terulang lagi.
"Ibarat cermin yang retak, jika di perbaiki akan menimbulkan bekas retak yang bisa mempengaruhi keindahan dari cermin serta fungsi nya yang tidak maksimal."
"jangan diperbaiki Marisa, tapi dilebur kembali dan dibuat cermin yang baru.
Mari kita mulai hidup yang baru lagi, kita mulai dari awal lagi.
Sampai saat ini, aku masih menunggu mu Marisa. karena di hatiku hanya ada kamu."
Tidak tahu lagi harus berkata apa, dan harus bagaimana.
Pria yang ada dihadapan ku adalah manusia yang keras kepala, dan saya benar-benar bingung harus berbuat apa.
"jika saya menolak, apa yang kamu lakukan?"
"sesuai dengan perjanjian kita di awal, aku akan mengambil Elfata dari mu. karena anak itu adalah anakku.
Perjanjian kita sudah ditandatangani oleh kita berdua dihadapan notaris, ingat itu berkekuatan hukum."
"anak mu itu perempuan, sesuai hasil USG itu. saya masih menyimpan hasil USG itu tuan muda, dan Elfata anakku, begitulah yang tertulis di akta kelahiran Nya."
Tanpa terasa air mata ini mengalir di pipiku ini, harus aku berkorban lagi demi hak asuh Anakku.
"sampai kapanpun Elfata adalah anakku, untuk biaya pendidikannya sudah aku buatkan asuransinya dan tabungan untuk biaya hidupnya kelak nanti sebelum bisa bekerja.
Aku akan mempertahankan anakku, Elfata adalah penyemangat hidupku. tidak akan biarkan siapa yang mengambil Elfata dariKu."
"terserah kamu Marisa."
Sanggah Fahar kepada Ku dan Elfata kini sudah ada dihadapan kami, dan aku berusaha tegar dan menghapus air mataku.
"jika Elfata tidak belsama bunda, maka Olang yang melebut Elfata tidak akan mendapatkan apa-apa bunda."
Ucap Elfata dan air matanya sudah mengalir di pipinya.
Renta dan Sean juga menghampiri kami, dan terlihat tatapan Renta penuh dengan kekecewaan.
__ADS_1
"bapak yang membuang bu Marisa dan bayi Nya waktu itu, karena ke egois seorang pak Fahar, sekarang bapak mau menggugat hak Asuh anak.
itu egois pak Fahar, bu Marisa sendirian dalam hal mengandung, melahirkan sendiri tanpa pendampingan dari siapapun juga.
Selama ini bu Marisa sendiri merawat anaknya yang bapak anggap sebagai perempuan dan karena anaknya laki-laki lantas bapak menggugat hak asuhnya?"
Ucap Renta dan kemudian menyeka air matanya yang mengalir.
"ini urusan ku Renta, jangan ikut campur. Elfata anakku harus mendapatkan pendidikan yang layak dan hidup yang layak."
"hebat ya mas bos, kamu pikir mbak Marisa ngak punya daya untuk itu?
saya benar-benar kecewa melihat mu mas bos, sungguh saya benar-benar kecewa.
Setelah mas bos membuang mbak Marisa dan bayi dalam kandungannya, kini mas bos datang membawa luka yang baru.
Mbak Marisa juga ngak ingin seperti ini, dia punya cita-cita yang lain.
Tapi karena cintanya kepada anaknya dan mempertahankan hingga Elfata lahir, lalu kamu datang membuat luka yang baru.
Luar biasa mas bos, kamu berhati iblis yang pernah saya kenal."
Ungkap Sean asistennya itu dan menarik tangan Renta untuk pergi.
"mau kemana kalian berdua?"
Pertanyaan dari Fahar membuat keduanya menatap tajam ke arah sang tuan muda itu.
"ke hotel, capek mas bos. apalagi melihat dan mendengarkan keinginan mu yang luar nalar pemikiran Ku."
"baik, pergilah dan angkat kaki dari perusahaan saya juga."
"baik."
Ucap Sean dan Renta secara bersamaan dan mereka berdua tetap pergi meninggalkan Fahar.
Tatapan mata yang tajam dari Fahar kepada ku dan anakku Elfata, seakan-akan penuh dengan dendam dan amarah.
"sekalang om pulang, tuh teman-teman om sudah pada pulang. jangan pelnah datang lagi kemali".
Elfata mengusir nya, lalu Fahar berdiri seraya menatap kami berdua dengan tatapan mata yang tajam.
"Sampai ketemu di pengadilan?"
Ucap Fahar lalu pergi meninggalkan kami disini, Elfata langsung memelukku dan kemudian menghapus air mataku.
Aku menangis bukan karena ingatan dari masa lalu yang pedih, tapi karena takut kehilangan Elfata anakku.
Tidak tahu lagi apa yang terjadi kepadaku, jika harus berpisah dengan Elfata, yang menjadi penyemangat hidupku.
__ADS_1
Elfata adalah bagian dari hidup ku, dan tidak mungkin Elfata harus berpisah dariKu.