AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Keluarga yang Utuh.


__ADS_3

Mas Fahar menatap Elfata dengan tatapannya yang sayu dan kemudian meraih tangan yang mungil itu.


"Ayah mintak maaf karena telah egois dan tidak memperdulikan kamu dan bunda mu, ayah ingin kembali kepada kalian berdua.


Apa yang harus ayah lakukan supaya Elfata mau menerima ayah?"


Elfata menatap ayahnya, selama ini aku tidak pernah cerita siapa ayah kandungnya. kini ayah nya sudah ada dihadapannya.


"belikan semua halta ayah ke Elfata, dan jika ayah menyakiti bunda lagi, dan bunda mau mintak pisah.


Elfata halus belsama bunda, dan ayah hanya mengambil biaya hidup untuk beltahan."


Iya Tuhan, apa yang ada dalam pikiran Elfata. anak seusianya sudah paham hal seperti ini.


"mas....


sumpah demi apapun, aku ngak pernah mengajari Elfata demikian.


Jika tidak setuju dengan persyaratan dari Elfata, ngak apa-apa. maafkan Elfata ya mas."


Mas Fahar langsung menghapus air matanya, dan kemudian menatap Elfata dengan senyuman.


Renta yang duduk di dekat bu Margona langsung mengambil kursi dan duduk di samping Sean.


"ayah setuju, karena harta ayah itu adalah kamu dan bunda.


Jika memang ayah melakukan kesalahan lagi, ayah bersiap untuk melepaskan kalian berdua beserta harta ayah yang lainnya.


Ayah setuju dan sama sekali tidak keberatan, asal ayah bisa bersamamu dan juga bunda mu sayang."


Mendengar jawaban mas Fahar kepada anakku, Sean dan Renta terlihat tersenyum puas.


"mas Bani, bude dan oma halus ikut dengan Elfata ya."


Mas Fahar mengganguk setuju dan kemudian tersenyum, lalu menghapus air matanya.***


Sudah seminggu kami di rumah sakit ini, anak-anak sudah di ijinkan pulang.


Oma nya anak-anak memang luar biasa, beliau berhasil sembuh dan saat ini sudah berjalan normal setelah terapy beberapa kali.


Akhirnya kami pulang ke rumah dan tidak berapa lama kemudian Fahar, Sean dan Renta datang ke rumah bersama dua orang perempuan.


Ternyata Fahar membawa notaris, untuk menandatangani perjanjian yang telah kami sepakati.


Penandatanganan itu berjalan dengan lancar dan mas Fahar pun menagih janjinya.

__ADS_1


Aku mencoba untuk kedua kalinya bersama mas Fahar, seperti ucapannya. meleburkan semua permasalahan dan membuat lembaran yang baru.


Lalu aku membujuk mbak Nining, ibu dan Bani untuk tinggal di Jakarta bersama kami, seperti kata mas Fahar ada rumah kosong di belakang rumah mewah itu yang bisa ditempati oleh mereka.


Setelah drama yang panjang dan akhirnya mereka bertiga luluh juga dan bersedia ikut dengan kami.


Lalu kami menikah di rumah ini, nanti resepsi pernikahannya di Jakarta.


Sore harinya juga kami langsung berangkat ke Jakarta, menempuh perjalanan selama tiga jam lebih dan akhirnya kami sampai juga di Jakarta.***


Sinar matahari pagi menembus kaca jendela yang membangunkan tidur Ku, awal terkejut karena mas Fahar tidur tepat disamping Ku.


Dua tahun lebih tidak bersamanya dan sekarang tidur satu ranjang dengan ku, begitu canggung.


Perlahan beranjak dari ranjang dan berlalu ke kamar mandi, selesai mandi dan mengenakan kimono yang ada di lemari kamar mandi, karena pakaian kami belum aku susun dari koper.


Ternyata mas Fahar sudah bangun dan sikat gigi di wastafel, senyuman manis itu mewarnai pagi yang cerah ini.


"mas udah bangun?"


Pertanyaan ku tidak dijawabnya, malah memelukku dari belakang. pelukan yang hangat dari mas Fahar begitu terasa.


"akhirnya mas bisa memelukmu lagi sayang."


Ujar mas Fahar seraya menciumi leher ku dari belakang.


Secara perlahan mas Fahar membuka tali pengikat kimono yang aku kenakan.


Entah berapa kali aku puncak kepuasan, karena permainan mas Fahar yang lembut dan memuaskan dan akhirnya terasa semprotan lahar dari mas Fahar di dalam dan kepuasan terlihat dari wajahnya.


Bersandar di dada nya yang bidang yang berbulu halus, terdengar detak jantungnya yang berirama.


Seperti ini rasanya bersuami, tenang dan cukup damai. kecupan manis di keningku dari mas Fahar yang membuat ku semakin tenang.


"Terimakasih ya sayang karena sudah menerima mas kembali menjadi suami Mu.


Mas ingin bertanya satu hal, apakah karena perjanjian itu makanya kamu menerima ku lagi?"


Cukup menarik pertanyaan dari mas Fahar, bergeser sedikit untuk menatap wajahnya.


"setelah berpikir selama beberapa tahun, tidak bisa aku pungkiri. kalau nyata aku tidak bisa melupakan mu mas.


Banyak pria yang lain yang mencoba mendekati Ku selama ini, tapi namamu masih selalu di hatiku.


Aku juga tidak mau kehilangan Elfata, dia adalah penyemangat ku.

__ADS_1


Terkadang aku kesal melihat wajah Elfata yang mirip sama Mu mas, tapi semakin kesal melihatnya malah aku semakin sayang.


Ocehannya yang kadangkala sulit untuk aku jawab, caranya bicara dan segalanya pertanyaan nya yang membuat ku terkadang mati kutu.


Tapi Elfata tidak pernah bertanya siapa ayah kandungnya.


kalau untuk nafkah, saya bisa menanggungnya. karena hasil dari penjualan komik serta iklan animasi sudah lebih dari cukup.


Asuransi pendidikan dan kesehatan Elfata sudah ada, dan biaya untuk masa tua juga sudah tersisihkan.


Tanpa harta mu, kami berdua bisa hidup. tapi karena hatiku tidak bisa aku bohongi akan perasaan cintaku serta Elfata yang membutuhkan sosok seorang ayah di sisinya."


Kecupan di keningku mendarat lagi, terasa hangat dan membuat ku semakin nyaman.


"lalu bagaimana dengan Mu mas?"


Mas Fahar kini sudah bersandar di ranjang, dan kemudian menarik ku secara perlahan. lalu aku merebahkan kepala ku di dadanya.


"dulu waktu kamu diantar oleh si kunyuk itu, mas sangat cemburu.


Tapi kamu terlihat nyaman bersamanya, lagi pula rasa takut mu sangat berlebihan kepadaKu.


Semakin kamu semakin dekat kepadanya, putus sudah harapanku untuk memiliki Mu, dan jalan terakhir adalah dengan cara seperti itu dan memaksa mu untuk menjadi istriku.


Mas ngak pernah pacaran sama sekali, karena selalu kamu di hatiku.


Selama ini mas bertindak kasar, karena kamu tidak bisa menerima Ku.


Sementara yang lainnya hanya karena urusan bisnis.


Mas sangat mencintaimu dan tidak mau kehilangan mu."


Tok.... tok.....


"bunda .... bunda...."


Suara ketukan pintu dan panggilan Elfata menghentikan pembicaraan dari mas Fahar, setalah menyahut Elfata, kami berdua langsung buru-buru mengenakan kimono.


"selamat pagi bunda, yuk salapan."


Elfata hanya mengajakku untuk sarapan, dan terlihat mas Fahar cemburut karena tidak di ajak oleh anak kami.


Setelah Elfata menarik tangan ayahnya, barulah raut wajah yang cemburut itu hilang.


Elfata menunggu di luar pintu kamar, saat kami berdua memakai pakaian.

__ADS_1


Lalu kami bertiga bergandengan tangan menuju ruang makan, terlihat senyuman hangat dari Mpok Nori menyambut kami di meja makan.


__ADS_2