AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Hasil USG yang Di rekayasa.


__ADS_3

POV Fahar.**


Sean begitu terkejut melihat sikap dari Renta yang tidak biasanya, Sean berkali-kali menelan ludahnya sendiri karena tindakan dari Renta.


Berbeda dengan Fahar yang malah menangis setelah ucapan kasar dari Renta yang membuat terpojokkan.


"tapi benar juga kata Renta mas, kita harus bertanya lagi ke dokter itu. kita pastikan kalau sang nyonya tidak ikut campur tangan."


Ucapan dari Sean membuat Fahar menoleh ke arah mpok Nori.


"menurut mpok gimana?"


Tanya Fahar ke mpok Nori yang masih duduk di sofa, lalu si mpok menarik napasnya dan menghembuskan nya pelan-pelan.


"Mpok tiga kali melahirkan anak, dua laki-laki dan satu perempuan.


Mpok tidak pernah USG dan hanya konsultasi ke bidan aja, tapi mpok tahu apa jenis kelamin dari setiap anak yang mpok kandung.


ucapan non Renta benar adanya, prediksi dari fisik ibu hamil jauh lebih akurat dari USG."


Tutur mpok Nori dan kemudian berdiri, lalu bergerak ke arah lemari untuk mencari barang-barang peninggalan Marisa.


Fahar hanya bengong, tapi Sean mengeksplorasi isi dari flashdisk tersebut dan kemudian mengirimkannya ke pengacara pilihan dari Fahar.


Setelah itu lalu mengeluarkan flashdisk dari port laptopnya, dan mengecek Folder.


Ternyata sama aja, laptop tersebut sudah di install ulang. sehingga semua riwayat terhapus dan itu tidak bisa dikembalikan oleh Sean.


"sama aja mas, ngak bisa."


Ucap Sean dengan lemas, karena tidak bisa mengembalikan riwayat kedua komputer itu.


"Sean, kita harus ke klinik itu."


Pinta atau lebih tepatnya adalah perintah dari Fahar, tapi Sean langsung bersiap.


"tapi mas Fahar mandi dulu ya, biar cerah dan dapat berpikir dengan jernih."


Ujar Sean lalu keluar kamar seraya menarik tangan mpok Nori.


"percuma mpok nyarinya, itu tidak akan membantu. yuk kita keluar dari kamar ini."


Sena dan mpok Nori keluar dari kamar Fahar dan mereka berdua menuju dapur. kemudian Sean duduk di kursi dapur demikian juga dengan mpok Nori.


"apa mbak Marisa ngak pamit ke mpok?"


Mpok Nori malah menangis seraya menatap Sean.

__ADS_1


"ketika neng Marisa diperkosa, mpok dikurung di kamar, dan ketika si neng di usir mpok juga di kurung di kamar."


Akhirnya Sean hanya terdiam, dia tidak bertanya lagi kepada mpok Nori yang masih menangis.


Mereka berdua terdiam sejenak, beberapa saat kemudian Fahar menghampiri Sean yang berada di dapur bersama mpok Nori.


Fahar dan Sean akhirnya berangkat menuju klinik, dimana istrinya di USG.


Tidak berapa lama mereka berdua akhirnya sampai juga, dan langsung menemui dokter Nya. karena yang antri sudah habis.


Wajah dokter itu terlihat bingung dan juga terlihat cemas akan kedatangan Fahar yang sepertinya menahan amarahnya.


"saya minta dokter jujur soal hasil USG istriku, mungkin dokter belum tahu saya siapa. apa perlu kita kenalan."


Wajah dokter itu terlihat panik dan kemudian berusaha tenang, lalu menatap Fahar.


"saya sudah mengatakan kalau hasilnya dilihat setelah istri bapak melahirkan."


"bukan itu yang saya maksud Dok, berapa mami ku membayar dokter untuk berbohong?"


Sepertinya sang dokter tidak bisa mengelak lagi, dan dia kemudian berdiri lalu memalingkan tubuhnya.


ternyata dokter itu mengambil berkas dari lemari, yang berada dibelakangnya. kemudian mengambil dokumen dan memberikan nya kepada Fahar.


"Bu Rina yang punya bangunan klinik pak. ini adalah bukti kepemilikan atas gedung ini, kami disini menyewa gedung.


Permintaan untuk manipulasi atau merekayasa hasil USG istri bapak."


Seketika Fahar langsung terdiam dan matanya berkaca-kaca.


"apa pendapat dokter tentang istriku?"


Dokter itu kemudian menatap Fahar dengan rasa simpatik dan iba.


"saya hanya memeriksa denyut jantung janin yang sudah terdengar sempurna, dan USG itu adalah rekayasa, dan itu milik dari pasien ku yang lain, tapi dari pengalaman saya praktek. hanya melihat kondisi fisik dari istri bapak.


saya yakin sembilan puluh persen, kalau calon anak bapak dan ibu adalah laki-laki. tapi bu Rina menginginkan saya untuk mengatakan calon anak tersebut sebagai perempuan.


Saya minta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat dengan sengaja, suami dari ibu Rina memiliki koneksi preman di kota ini, yang bisa memaksa kami keluar dari gedung ini."


Fahar terlihat lemas dan menoleh Sean dengan tatapan sayu.


"dokter, saya minta copy dari dokumen kepemilikan gedung, nantinya saya mengurus sisanya.


Terimakasih Dok, karena sudah jujur. saya harap ini terakhir kalinya dokter berbohong kepada pasien."


Dokter tersebut memberikan dokumen tentang kepemilikan gedung dan dokumen perjanjian sewa menyewa gedung.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang di inginkan Fahar dan Sean, lalu mereka berdua keluar dari rumah sakit tersebut.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, yang disetir oleh Sean.


"nanti kita bagi tugas mas, Diana bersama tim pengembangan IT akan saya mintak untuk menelusuri jejak digital dari mbak Marisa.


Sementara orang-orang kepercayaannya kita di lapangan akan terus mencari keberadaan mbak Marisa di kota ini.


Lalu mas Fahar fokus untuk mengurus yang berkaitan dengan flashdisk tersebut, saya akan mendampingi mu mas sampai akhir."


"terimakasih."


hanya itu yang diucapkan oleh Fahar, dan mereka berdua kembali diam.


Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai di rumah, waktu terus bergerak dan tanpa terasa sudah pukul lima sore.


Fahar dan Sean yang duduk di sofa ruang tamu, lalu didatangi oleh mpok Nori.


"maaf tuan muda, Mpok sudah mengeledah semua kamar tuan dan tidak menemukan apapun yang bisa menjadi petunjuk dimana keberadaan si Neng.


hanya pakaian lamanya yang dibawa oleh si neng, sementara buku-buku pelajaran si neng sudah di bakar tuan.


Si neng benar-benar ingin menghilangkan jejaknya.


Neng.... neng.... segitu sakit hatimu sehingga kamu tidak menyisahkan apapun dan berusaha menghapus jejak."


ujar mpok Nori kemudian pergi ke arah dapur, sementara Fahar dan Sean hanya menghela napas panjang.


"Sean harus pulang ya mas."


Ucap Sean ke Fahar, tapi Fahar malah menatap tajam ke arah Sean.


"tolong bawa aku kemana aja, asal pikiran bisa tenang walaupun hanya sesaat."


Pinta Fahar ke Sean, lalu Sean berdiri dan melangkahkan kakinya yang di ikuti oleh Fahar.


Sean yang menyetir mobil dan mereka menuju pusat kota, tempat dunia malam yang gemerlapan.


Ternyata Sean membawa Fahar ke klub malam, untuk menghilangkan stres.


Mereka berdua duduk dibar sembari menikmati dua gelas bir Frozen berikut dengan cemilan.


"mas Fahar, itu arwah Harvard kan?"


Ujar Sean sambil menunjuk seorang wanita bersama seorang laki-laki, mereka berdua terlihat begitu mesra.


Arwah Harvard yang dimaksud adalah Renta, dan Fahar langsung meraih handphone miliknya dari saku sweater yang dikenakan.

__ADS_1


__ADS_2