AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Kejutan Dari Alex.


__ADS_3

Serangkaian perawatan kecantikan telah kami lakukan, kepala terasa lebih ringan dan rambut jauh lebih wangi dan rapi dan sehat.


"gimana Bu? puas dengan pelayanan salon Nya?"


"puas kok, sekarang cari makan yuk. lapar."


Renta langsung menggandeng tanganku dan kami kemudian naik eskalator untuk menuju lantai berikutnya.


Satu kafe terpilih karena menyajikan bebek panggang, dan Renta hanya nurut aja akan pilihan Ku.


"kenapa mbak Renta mau makan disini? suka sama bebek panggang?"


"kalau Renta gampang dalam hal memilih makanan, emang sih tidak terlalu suka bebek panggang. tapi ada menu yang lainnya."


Ucap Renta dengan santainya, lalu kami pun memesan makanan kepada pelayan.


Berhubungan tidak terlalu ramai, sehingga pesanan kami tersaji dengan cepat.


Selesai makan kami berdua langsung bergerak ke toko sepatu dan memilih beberapa pasang sepatu yang unik dan cocok untuk kami.


Pembayaran menggunakan kartu kredit yang diberikan oleh mas Fahar, lalu kami pergi ke toko kosmetik yang lumayan terkenal atau istilahnya branded.


"aduh.... aduh.....


enak benar shopping barang-barang mewah menggunakan kartu kredit suami yang kaya raya."


Dia adalah Alex yang datang bersama seorang pria yang lumayan cakep dan atletis.


Renta langsung berdiri di depanku, dan kini dia yang berhadapan langsung dengan saudara tiri mas Fahar itu.


"tolong mas jangan buat keributan, kami berdua ada disini untuk melepaskan kepenatan dengan berbelanja. kami berdua tidak meminta uang mu untuk membayar belanjaan kami."


"tenang, aku tidak akan menggangu kok. aku hanya salut dengan perempuan anak babu itu."


Ucap Alex dengan nada suara yang menyindir.


"lebih baik jadi anak babu dari menjadi kaum Luth seperti anda."


Sanggah Renta dengan suara yang jelas dan lantang, hingga kami menjadi perhatian orang-orang yang belanja.


'kaum Luth itu artinya sekong kan? alias pria penyuka sesama terong.'


'benar itu sis, ganteng-ganteng kok laga pedang ya.'


Ucap beberapa pengunjung lain yang berbelanja yang rata-rata adalah perempuan dari pengunjung toko ini.


'mas security, jauhi deh dua pria sekong itu. ntar naksir pula sama mas security.'

__ADS_1


Olokan dari seorang pengunjung kepada security yang datang menghampiri kami, dan terlihat wajah pria yang bersama Alex menjadi merah, mungkin karena malu.


Lalu Alex mendekati ku yang berada dibelakang Renta.


"ingat, urusan kita belum selesai."


Ucapnya lalu pergi meninggalkan kami berdua, dan kami pun lanjut untuk belanja. setelah membayar belanjaan, lalu kami berdua singgah ke toko pakaian.


Lagi-lagi kami harus bertemu dengan Alex dan pria yang bersamanya.


Tatapan Alex begitu tajam kepadaKu dan seolah-olah ingin menerkam, dan Renta langsung menggandeng tangan Ku.


"kita lebih baik pergi dari sini, takut kaum Luth ini akan berpengaruh buruk terhadap kandungan ibu."


Ujar Renta dan menaruh haedset di kedua telinga Ku yang di raihnya dari tas yang di sandang oleh Renta.


Lalu kami berdua pergi menuju ke arah kantor, tapi raut wajah Alex masih jelas terlihat geram melihat Ku.


Aku kira hanya aku yang mengetahui kalau Alex penyuka sesama jenis, tapi nyata Renta mengetahuinya.


Ternyata di gedung mewah ada Cafe kecil, dan Renta membawa ku ke sana. Renta meminta ku untuk duduk lalu dia pergi ke counter pemesanan.


"satu jus alpukat gula nya dikit aja, dan satu capuccino dingin."


Terdengar jelas pesanan yang dia minta, tapi sebenarnya aku juga ingin capuccino dingin tapi kenapa cuman satu yang dipesan oleh Renta?


Jus alpukat diberikan kepadaku sementara cappucino dingin itu untuknya.


"aku mau capuccino dingin itu."


"tidak bisa, sampai anak itu lahir dan di susui selama minimal empat bulan."


"dikit aja."


Karena permintaan Ku, Renta mengambil sendok kecil dari kue tar yang dipesannya. lalu menuangkan sedikit di sendok teh itu kemudian di suapkan nya kepadaKu.


"sudah ya bu, jangan di ulangi lagi. tahan selera."


"dikit amat."


"cukup ya bu, ini demi ibu dan anak ibu bersama pak Fahar. tahan selera ya bu."


Dengan berat hati, aku mengangguk dan mematuhi perintah Nya.


"oh ya mbak kenal dengan si Alex?"


Dengan hati-hati aku bertanya, takutnya membuat persepsi yang berbeda yang membuatnya tersinggung.

__ADS_1


Benar aja, air mata Renta terurai di pipinya. hal membuat Ku merasa bersalah karena sudah menyinggung Nya.


"maaf ya mbak karena sudah membuat tersinggung, maaf mbak."


"calon bernama Damian, dia meninggal Ku tepat di hari pertunangan kami dan itu demi manusia penghuni neraka itu."


Ucap Renta yang tiba-tiba memotong pembicaraan, air mata yang mengalir di pipinya kini sudah di hapus nya menggunakan tissue yang tersedia di meja.


"Damian lebih memilih laki-laki ketimbang saya perempuan, si Alex penghuni neraka itu datang menggoda tunangan Ku.


ibu lihat kan pria yang bersamanya? dia itu Damian. sekarang menjadi pacar pria penghuni neraka itu."


"sabar mbak, Tuhan sudah menunjukkan yang terbaik dengan memperlihatkan wujud dari tunangan mbak itu. sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.


Lebih baik pahit di awal daripada pahit di akhir, mbak jauh lebih beruntung daripada aku.


Mbak langsung tahu nasib yang akan mbak jalani, mengetahui sikap dari mantan tunangan mbak itu."


Sepertinya Renta mengerti apa yang aku ucapkan, dan dia langsung memelukku.


"terlalu mahal air mata mbak untuk pria rusak mental seperti itu.


Diantara ribuan laki-laki yang ada di dunia ini, pasti ada satu laki-laki yang di takdir kan untuk mbak Renta."


Setelah mendengar ucapan dariKu, kini renta terlihat jauh lebih tenang.


Ternyata kami sudah tiga jam lebih berada di luar kantor, dan itu artinya Renta membolos untuk menaniku belanja dan bersenang-senang.


Kemudian kami kembali ke atas, dimana ruangan mas Fahar.


Aku tidak lupa membelikan kopi untuk mas Fahar dan Sean, dan mereka berdua belum selesai membaca dokumen yang diberikan oleh Renta.


"mau saya belikan makan pak?"


Tanya Renta kepada mas Fahar, dan mas Fahar langsung menolah Ku.


"kami berdua sudah makan, oh iya kalian berdua sudah makan?"


"sudah mas."


"baguslah kalau begitu, oh sayang masih sanggup untuk bertemu dengan tim pengembangan IT dan desain?"


"masih kok mas, selama Ririn tidak di suruh untuk mengangkat balok yang berat."


"hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


ternyata mbak Marisa bisa juga melawak ya, baiklah kalau begitu. sekarang ayok kita pergi ke ruangan tim pengembangan."

__ADS_1


Ujar Sean, lalu bersama Sean dan Renta kami naik lift menuju turun, dan tidak berapa lama akhirnya kami sampai di suatu ruangan yang begitu besar dan mewah.


__ADS_2