
Perutku rasanya mual dan ingin muntah, tapi masih bisa Aku tahan. Tapi Sean sangat memperhatikan tingkah Ku.
"mbak kenapa? mual, atau mau muntah?"
Pertanyaan dari Sean membuat benar-benar ingin muntah, dan mas Fahar menggiring ku ke arah toilet di ruangannya yang mewah tersebut.
Tidak yang keluar saat aku muntah dan kemudian rasa mual itu sudah hilang, mas Fahar kemudian menuntunku untuk masuk ke ruangan nya dan aku duduk di sofa.
Untung aku membawa susu hamil yang biasa aku minum, dan kemudian susu tersebut aku keluarkan dari tas.
"pantry dimana mas?"
Seketika itu mas Fahar langsung menekan tombol hijau di meja dan tidak berapa lama kemudian Renta sekretaris nya masuk ke ruangan mewah ini bersamaan dengan Sean.
"iya pak, apa yang bisa aku bantu?"
Renta bertanya kepada mas Fahar dan kemudian Renta duduk disamping Ku dan memijat lengan ku.
"Renta bisa buat susu wanita hamil?"
"bisa pak, Renta sudah terbiasa membuat susu hamil untuk kakak ipar ku, karena kami satu rumah sampai sekarang. Mana susu nya bu, biar Renta yang buat?"
Setelah menerima susu dariKu, lalu Renta langsung beranjak dari samping Ku.
Mas Fahar dan Sean memperhatikan wajah Ku dan kini mas Fahar sudah duduk disamping kiriku.
Tidak berapa lama Renta sudah tiba dengan segelas susu dan susu dalam kotak yang diletakkan dalam nampan ada juga seperti cemilan yang dibawa nya. lalu duduk di samping kananku.
"ini susunya sudah Renta buat hangat, karena susu lebih enak saat hangat."
Susu tersebut langsung aku teguk dan terlihat Renta tersenyum ketika susu buatan aku teguk sampai habis.
Dengan memakai tissue, Renta membersihkan sisa susu yang menempel di area mulutku.
"uhmm, Persis seperti kakak ipar ku, suka belepotan kalau minum susu."
Ucap Renta seraya membersihkan sisa susu tersebut lalu mengambil gelas dari tanganku dan merapikan rambut ku dengan telaten.
"bumil yang cakep."
Ucap lagi dan memberikan sedikit air minum yang hangat.
__ADS_1
"ibu harus banyak minum, tapi dikit-dikit aja. jangan teguk ya. kalau susu ngak apa-apa langsung teguk."
Mas Fahar dan Sean hanya bengong akan perlakuan Renta yang masih duduk disamping dan merapikan pakaian Ku.
"anak ibu pasti laki-laki?"
Ujarnya tiba-tiba, lalu Fahar menolah Nya dengan raut wajah yang penasaran.
"kenapa kamu begitu yakin kalau anak kami berjenis kelamin laki-laki?"
"ini sih hanya perediksi pak, lihat perut ibu ini, lebih bulat dan kakinya jauh lebih bengkak. serta lebih jago makan.
Bapak liat tadi saat minum? langsung teguk kan pak. bagaimana dengan pola makan ibu?"
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Renta, memang selera makan ku akhir-akhir melonjak tinggi dari biasanya.
"tuh kan pak, ibu lebih jago makan. liat nih penampilan ibu yang semrawut. ibu pasti malas ya berdandan? tadi pagi mandi Bu?"
Lagi-lagi mas Fahar bengong saat mendengarkan pernyataan dan pertanyaan dari Renta.
"kalau mandi sih masih rajin, tapi untuk makeup rasanya ngak seperti dulu. lipstik itu seolah-olah bau. bahkan untuk menyisir rambut ini harus di bantu oleh mpok Nori atau Bu Ani."
Ucap Renta dan kemudian membuka pengikat rambut Ku dan menyisir rambut ku yang sepanjang bahu lalu kemudian mengingat nya dengan kuat dan rapi.
"tapi Bu, kakak kandung Ku baru aja melahirkan anak perempuan. dan sikap berbeda dengan kedua kakak ipar ku yang melahirkan anak laki-laki.
kakak itu sangat cantik dan rapi selalu, pokoknya sudah seperti mau ke undangan aja setiap hari dan itu berbanding terbalik dengan kedua kakak ipar ku itu.
Bu ini adalah manisan jahe dan ini bagus untuk wanita hamil, nanti ibu makan ya setelah tiga puluh menit dari sekarang"
mas Fahar dan Sean masih bengong akan semua penjelasan dari Renta.
"maaf pak, Renta sudah terlalu lancang memegang rambut istri bapak. itu karena Renta sudah terbiasa menghadapi kakak ipar dan kakak ku saat mereka hamil dan selalu membantu mereka berdandan.
saya minta Maaf ya pak, karena sudah terlalu lancang."
Ucap Renta karena merasa di perhatikan oleh mas Fahar dan Sean, dia seperti merasa bersalah karena telah merapikan rambut ku dan penampilan ku yang berantakan.
"ngak ada salah Renta, terimakasih ya sudah membantu Istriku. santai aja, kami berdua hanya kagum aja atas perhatian Renta ke istriku."
Barulah Renta tersenyum setelah mendengar ucapan dari mas Fahar.
__ADS_1
"mau minum apa pak?"
"nanti aja, tolong ambilkan file 07 dari lemari peninggalan Papi."
"tunggu sebentar ya pak."
Renta langsung keluar dengan membawa gelas dan nampan tersebut, kemudian mas Fahar menatapku dengan tatapan tajam.
"masih bisa lanjut atau kita pulang aja untuk istirahat di rumah?"
"lanjut aja mas, Marisa sudah jauh lebih baik setelah minum susu. bosan di rumah mas."
Mas Fahar hanya mengangguk dan tidak berapa lama kemudian Renta sudah tiba di ruangan mewah ini.
"seharusnya file itu ada empat, tapi satu sudah di ambil oleh nyonya besar. file yang berjudul the moon telah diambil tahun lalu. ini tanda terima pengambilan file nya pak."
"ngak apa-apa, lagian saya yang salah yang sempat mengiranya ada perempuan baik-baik."
Ucap mas Fahar yang terlihat agak kesal akan penuturan Renta.
"tapi pak, ke empat soft copy nya masih renta simpan di notebook ini, karena ini dulunya perintah Bu Vera sebelum pensiun.
Bu Vera berkata kalau ke empat karya yang memukau itu pasti akan dicari oleh anak dari almarhum Wijaya.
Ternyata benar, bapak mencarinya dan amanah dari Bu Vera sudah terlaksana."
"loh, bukan ke empat karya itu sudah terhapus dari server ya?"
Sean bertanya kepada Renta dengan raut wajahnya yang penasaran.
"benar pak Sean, nyonya besar yang menyuruh Nya. tapi nyata itu di jual oleh nyonya ke platform lain.
Bukti dari penjualan ke empat karya itu ada di map ini pak, dan ini dari Bu Vera yang diam-diam menyelidiki Nya."
Mas Fahar dan Sean membuka map yang diserahkan oleh Renta. lalu Renta kemudian keluar dari ruangan.
Tidak berapa lama Renta sudah tiba di ruangan ini dengan mendorong satu dus besar dengan alat dorong yang biasa di pakai orang menggangut barang berat.
Mas Fahar dan Sean begitu terkejut dengan tingkah dari Renta.
Renta membongkar kardus tersebut dengan wajahnya yang tegang dan sesekali melihat ke arah mas Fahar dengan raut wajah yang seperti ketakutan.
__ADS_1