AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Mimpi


__ADS_3

POV Fahar.*


"ah.....


Marisa........ Marisa .......


Marisa..... itu Anakku, sini aku gendong......


Marisa......."


Akhirnya Fahar terbangun, mimpinya barusan membuat air matanya mengalir dan keringat di keningnya yang bercucuran.


"hanya mimpi."


Ucap Fahar dan kemudian beranjak dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi, selesai mandi dan kemudian berpakaian.


"mas bos sudah siap?"


Dengan semangat Sean bertanya kepada Fahar, yang sudah menunggu nya di sofa ruang tamu untuk berangkat kerja.


"sudah, ayok."


jawab Fahar dengan lemas, lalu mereka berdua pun pergi. kali ini mereka disetir oleh uak Jarvis, dulu menjadi supir pribadi dari Marisa.


"kenapa mas bos? kok lemas gitu?"


Fahar menoleh Sean karena pertanyaan itu dan kemudian menatap lurus kedepannya.


"semalam aku mimpi dan mimpi itu, aku bertemu dengan Marisa di sebuah klinik yang kecil.


Marisa melahirkan seorang anak laki-laki dan anak itu sangat mirip dengan Ku, tapi Marisa membawa kabur anak itu."


"sampai segitunya rasa kerinduan mu mas bos, ternyata mbak Marisa mampu mengukir cinta di hati sang tuan muda yang angkuh ini.


Selamat kepada sang tuan muda, sekarang nikmati penderitaan mu yang tersiksa karena rindu yang mendalam."


"kampret, dasar sahabat biadab."


Sean tertawa karena berhasil mengolok-olok sahabat karibnya itu.


Raut wajah kesal dari Fahar membuat Sean terlihat puas melihat Nya.


Akhirnya mereka tiba di kantor, dan langsung masuk ke ruangan mewah Fahar.


Fahar dan Sean saling diam, mungkin Fahar masih kesal karena olok-olokan dari Sean.


tok.... tok...


Renta langsung masuk setelah dipersilahkan oleh Fahar.


"pak ada tamu, anak pak Burhan."


Ucap Renta, dan sang bos menyuruh nya untuk mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk.


'prok..... prok.... prok.... Prok.... Prok....'

__ADS_1


Suara tepuk tangan dari Agam, yang terlihat sok hebat dengan suara tepuk tangan nya tersebut.


"salut untuk mu pak Fahar, kamu mempu membuat papa Ku kewalahan seperti ini.


hebat.... hebat.....


Anda luar biasa, selamat ya karena sudah berhasil mengacaukan pikiran Papa ku."


Fahar menatap tamu nya itu dengan tatapan yang sayu.


"ngak usah basa-basi, apa mau Mu?"


Lirikan dari Agam yang menunjukkan ekspresi wajah yang aneh yang seolah-olah ada misi yang dibawa Nya.


"platform itu jadi milik mu, tapi cabut gugatan itu, pusing saya mengurus Nya.


Kamu tahu kan kalau sebagian aset Papa sudah dibekukan oleh pemerintah karena kasus pajak tersebut.


Ditambah lagi kasus penyerobotan lahan, itu membuatku semakin pusing. biarlah itu menjadi urusan Papa.


Papa sekarang sudah struk, demikian juga dengan mama.


kamu sudah menang, apalagi yang kamu inginkan?"


Fahar menatap nya dengan penuh kecurigaan, karena beranggapan kalau keduanya orang tuanya pura-pura struk.


Lalu Agam menunjukkan handphone Nya dan menampilkan sebuah video.


"ini adalah rekaman sisi TV dari rumah, dimana Papa dan mama di rawat oleh dokter pribadi serta dua perawat.


untuk ganti rugi ke masyarakat atas tanahnya yang diambil paksa oleh Papa."


"kenapa?"


Fahar menaikkan alisnya setelah bertanya, lalu Agam menatap Nya dengan tatapan tajam.


"saya ini seorang seniman yang berkarya di bidang komik dan juga seni suara.


Jika kamu mengambil seluruh saham yang merger, dan akan selisih dari sisa pembayaran pajak serta ganti rugi.


aku bisa memulai dengan mengambil platform itu dan melepaskan ke empat karya yang kalian gugat beserta dengan royaltinya.


Hanya itu yang bisa saya lakukan, dari bukti-bukti yang sudah ada. Papa ku dan orang-orang nya dinyatakan syah membunuh papa mu.


Sebagian dari mereka sudah ditangkap, tinggal yang ada di badan pemerintah yang belum terjamah.


Papa dan mama ku sudah membayar nya, lebih baik mati dari harus struk dan lumpuh seperti itu.


Itu sudah lebih dari hukuman penjara, Papa dan Mama sudah mendapatkan ganjaran dari perbuatan."


Seketika itu Fahar menatap Sean, dan Fahar mendapatkan kedipan mata dari Sean.


"baik kalau begitu, saya akan membeli saham merger itu dengan harga normal, serta ke empat karya itu tetap menjadi milik platform kamu, tapi saya mengajukan syarat.


Pertama, kamu harus melakukan konprensi pers dan mengakui semuanya termasuk pembunuhan terhadap Papa Ku yang diperbuat oleh kedua orang tua mu.

__ADS_1


Jelaskan juga orang-orang yang yang terlibat dari pemerintah itu, dan kerugian negara yang mereka sebabkan.


Termasuk om Edo, yang masih aman atas bekapan dari para tikus negara itu.


Sampaikan kepada masyarakat untuk mengembalikan tanah mereka dan juga kebun almarhum Kakek Ku.


Syarat yang kedua, tinggalkan Jesika dan berikan dia pelajaran."


"baik, saya terima tantangan Mu. tapi kita harus membuat perjanjian, kalau kamu akan menepati janji mu ini."


Jawab Agam, lalu Fahar menghardiknya dengan tatapannya yang terlihat curiga.


"kenapa kamu melakukan ini?"


Agam tersenyum mendengar pertanyaan dari Fahar yang masih mencurigainya.


"saya dan almarhum kakek sudah berulangkali menasehati Papa, mama dan mbak Fika.


tapi mereka tetap pada pendiriannya, alhasil kami membiarkannya. karena suatu saat pasti papa, mama dan Fika akan mendapatkan ganjaran nya.


itu sudah terbukti, dan mereka bertiga yang mendengar nasihat orang tua. kini membayar lunas akan perbuatan mereka.


Untuk Jesika, dia benar-benar perempuan liar. berpendidikan tapi otak jongkok.


Ternyata bukan hanya saya dan Sean, pria yang dikencani oleh Jesika. tapi ada beberapa pria lainnya.


Dia layak mendapatkan pelajaran, agar tidak mempermainkan cinta pria yang tulus.


Memang aku pernah tidur dengan nya, dan aku melakukan itu karena cinta dan akan bertanggungjawab.


saya sudah berulangkali mengajaknya menikah, tapi berbagai alasan untuk menundanya.


Kita lakukan sekarang dan terlebih dahulu kita membuat kesepakatan."


Setelah mendengarkan penuturan dari Agam, Fahar langsung memanggil sekretaris nya yaitu Renta.


Anggota Renta langsung membuat perjanjian kesepakatan tersebut, dan akhirnya Fahar menandatangani kesepakatan tersebut.


Lalu Sean memanggil doktor Jaiman, dan juga beberapa media untuk hadir di aula.


Tidak berapa lama, doktor Jaiman dan dua rekannya sudah tiba di aula.


Begitu dengan para awak media, para awak media yang datang melebihi perkiraan Sean.


Segala peralatan sudah tersedia dan terpasang dengan sempurna.


Lalu Fahar bersama agam memasuki aula, yang disambut sinar flash dari kamera para awak media.


Fahar dan Agam duduk terpisah, Agam didampingi oleh pengacara demikian juga dengan Fahar yang didampingi oleh doktor Jaiman dan rekannya.


Renta standby dibelakang Fahar bermasa satu rekannya, sementara Sean sudah berdiri diatas podium.


Beberapa security sudah melakukan pengamanan yang maksimal untuk menghindari hal-hal yang di inginkan.


Sinar flash kamera dari para awak media yang mengarah ke arah Agam.

__ADS_1


__ADS_2