
POV Fahar.*
"Marisa....."
Fahar terbangun seraya memanggil nama Marisa, terlihat keringat bercucuran dari keningnya.
"hanya mimpi."
Ucapnya sembari duduk, tatapannya tertuju ke arah meja rias Marisa. dulu Marisa duduk di kursi itu sembari menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan oleh Fahar.
Kenangan indah itu hanyalah tinggal yang membuatnya semakin tersiksa atas kenangan indah dari Marisa.
Fahar menghela napas panjang dan kemudian menghembuskan nya dengan pelan-pelan dan melakukan nya beberapa kali. kemudian beranjak dari ranjang, lalu langsung menuju kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Fahar kemudian menuju ranjang.
"tuh kan ke ranjang lagi, Marisa..... Marisa....
Kenapa sih hanya kamu dalam pikiran Ku? apa kabar kamu Marisa? apa kabar anak kita? aku harap mimpiku tidak terwujud, aku ngak ikhlas kamu bersanding dengan pria lain."
Ujar Fahar lagi yang bicara sendiri, kemudian melangkah ke arah lemari dan mengambil pakaiannya.
Saat memakai pakaiannya, dia selalu melihat Marisa tersenyum. kenangan bersama Marisa yang selalu teringat di pikirannya.**
"tuan muda, ngak sarapan?"
Fahar menoleh sumber suara tersebut, dan melihat mpok Nori yang bertanya dengan tatapannya yang sayu.
"belum selera makan, oh iya mpok, tolong perhatikan bik Mimin ya. takutnya si bibik masih syok.
bujuk bibik makan bersama-sama dan tolong tenangkan ya."
"ya Nak, nanti jangan lupa makan ya. jaga kesehatan, agar nak Fahar ada kekuatan untuk mencari si neng."
Mendengar mpok Nori, memanggil nya dengan panggilan 'nak' Fahar tersenyum lalu mengganguk.
Fahar melaju dengan kecepatan sedang dan akhirnya sampai juga di kantor yang disambut oleh Sean.
Fahar dan Sean menunggu di pintu lift untuk menuju ruangan, pintu lift sudah terbuka dan akhirnya mereka masuk.
"pak... tunggu....."
Pintu lift di tahan oleh Sean, dan akhirnya pak Arman yang berteriak tadi bersama Indri editor nya, masuk ke dalam lift.
"saya ingin menyampaikan dua berita, satu berita baik dan satu tidak terlalu baik. berita mana yang harus saya sampaikan terlebih dahulu pak?"
Fahar menoleh pak Arman demikian juga dengan Sean, mereka berdua masih terlihat galau.
"berita yang tidak terlalu baik aja dulu, baru kemudian berita baik itu. supaya penghibur di kala kesedihan seperti ini."
__ADS_1
"baiklah kalau begitu pak."
Sanggah pak Arman ke Fahar, lalu memberikan kode berupa kedipan mata ke arah Indri.
"begini pak Fahar, ke empat karya bu Marisa, yang dulunya di publish atas perintah almarhum pak Wijaya. ternyata itu beralih ke platform milik Agam, anak dari pak Burhan.
Tim kami sudah menyiapkan berkas untuk merebut kembali ke empat karya itu beserta dengan royaltinya.
Karena itu adalah pelanggaran hak cipta pak, almarhum sudah terlebih dahulu mendaftarkan hak ciptanya ke ibu Marisa dan telah di kontrak dengan jenjang waktu dua puluh lima tahun.
Kami hanya perlu persetujuan bapak untuk melakukan tindakan, agar ke empat karya emas itu kembali kepada kita.
Kami juga sudah konsultasi ke doktor Jaiman, dan besar peluang kita untuk menang.
itulah kabar baik yang pertama pak, lalu yang ke-dua, bahwa karya ibu yang dikirimkan nya kepada Indri, dan itu sangat luar biasa pak.
Baik dari game maupun karya komiknya serta yang kami poles kembali untuk menjadi iklan produk.
Benar-benar luar biasa pak, para editor dan juga database sempat kewalahan untuk memenuhi permintaan konsumen pak.
Itu benar-benar menaikkan rating iklan yang membuat penjualan semakin meningkat, ibu Marisa memang luar biasa.
Kabar baik yang ketiga adalah, iklan animasi yang dibuat ibu benar-benar bisa meningkatkan penjualan produk yang luar biasa.
Ibu Marisa memang is the best, hadeh.....
Tutur Indri dengan begitu semangat, lalu Indri terdiam dan kemudian tertunduk.
"maaf mbak Indri, berita yang kurang baiknya mana?"
Indri menatap tajam ke arah Sean, karena dirinya bertanya secara tiba-tiba.
"ngak tau, tanya aja sama pak Arman."
Sean yang awalnya cemburut kini tersenyum karena jawaban garing dari Indri serta ekspresi wajah Indri yang berbeda dari yang sebelumnya bersemangat saat menuturkan kabar baik tersebut.
Fahar dan Sean sama-sama menoleh ke arah pak Arman, dengan raut wajahnya yang lemas. pak Arman pak Fahar.
"brand meminta untuk pembuatan iklan yang baru dan yang bertema animasi pak, kami belum mendapatkan karya sebagus karya bu Marisa.
Takutnya pihak brand kecewa, karena dua iklan mereka begitu fantastis. kedua iklan itu merupakan karya emas milik bu Marisa.
Ekspektasi mereka sudah tinggi karena kedua iklan karya bu Marisa."
Pak Arman kemudian menunduk, sementara Indri sudah memalingkan wajahnya menghadap dinding lift.
"ah.....
Mbak Marisa pernah memberikan flashdisk nya kepadaKu, katanya itu adalah hasil karya semasa mengikuti ujian praktek Nya.
__ADS_1
Nanti kita pilih-pilih ya, siapa tahu aja bisa membantu kita."
Ucap Sean seraya menunjuk flashdisk yang diambilnya dari tasnya, Indri langsung berbalik dan menoleh ke arah Sean dan langsung meraih flashdisk tersebut.
"tapi, apa ibu Marisa nanti ngak menggugat kita?"
"saya tanggung jawab, bahkan saya berharap Marisa menggugat kita."
Ucap Fahar dengan pasti dan ucapan tersebut langsung disambut oleh senyuman oleh Indri.
Pintu lift terbuka, Indri dan pak Arman keluar, sementara Fahar dan Sean masih tetep berada di dalam lift.
Akhirnya sampai juga di ruangan Fahar yang masih di ikuti oleh Sean.
"kapan Marisa memberikan flashdisk itu kepadamu?"
Terlihat ada kecurigaan dari raut wajahnya Fahar.
"saat itu ketika almarhumah mama nya di kemubumikan, Sean dan mpok Nori yang menjemput mbak dari makam.
Lalu kamar yang mereka tempati kan di bongkar, dan saat itu juga mbak Marisa memberikan flashdisk itu.
Dulunya hendak diberikannya kepada almarhum bapak, cuman ngak kesampaian. karena keadaan rumah yang tidak kondusif."
"kenapa ya bukan kepadaKu diberikannya?"
"hadehhh.....
nanya lagi, nanya lagi. jenazah almarhumah aja, mas bos larang ke rumah, mas itu kejam, sadis.
Siapa yang mau ngobrol sama mas bos, apalagi memberikan flashdisk itu?"
Sadar bos, sadar. perlakuan mas bos itu ke mbak Marisa keterlaluan."
Seketika air mata Fahar langsung mengalir di pipinya, entah kenapa juga. Sean ikut menangis.
Seolah-olah dua pria itu adalah korban percintaan.
"pak Fahar, pak Sean. ngapain? lomba nangis?"
Ucap Renta yang tiba-tiba masuk dengan membawa dokumen untuk diperiksa oleh Fahar.
"ngak, tadi kelilipan."
Jawab Fahar seraya menghapus air matanya, demikian juga dengan Sean yang berpura-pura tegar.
"maaf pak Fahar, besok akan saya tinjau langsung bagian cleaning servis Nya. agar lebih memperhatikan ruangan bapak ini."
Ujar Renta, tapi sebenarnya dia tahu penyebab bos itu dan Sean menangis. akan tetapi Renta berpura-pura tidak mengetahuinya.
__ADS_1