AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Musibah


__ADS_3

Esok pagi hari Nya, Fahar datang dengan membawa empat pria yang berpakaian rapi. seperti biasa bu Margona menyajikan kopi untuk tamu.


"tentunya ibu sudah mengetahui maksud kedatangan kami kemari, yaitu untuk melakukan negosiasi."


Ucap salah seorang dari pria yang berpakaian rapi tersebut, sebelumnya mereka sudah memperkenalkan dirinya. tapi aku tidak ingin mengingat namanya.


"saya rasa clien bapak benar-benar tidak punya hati dan urat malunya sudah putus. clien anda yang membuang kami, dan sekarang menginginkan nya.


ibarat menjilat kembali air ludahnya, saya hanya ingin hidup tenang bersama anak Ku, tanpa adanya gangguan dari clien anda.


Orang yang sudah dibuang dari kehidupannya, kemudian datang lagi dengan membawa luka.


Apapun yang kalian katakan tidak akan menggoyahkan pendirian Ku, saya tidak mau lagi menjadi istri klien anda dan anak saya tetap bersama saya."


"jangan egois ibu, pikirkan baik-baik tentang anak ibu.


Anak ibu hidup di pulau ini, yang jauh dari jangkauan pendidikan yang luas. anak itu perlu eksploitasi terhadap hidupnya yang lebih baik tentunya."


Tanpa terasa air mataku kembali mengalir, itu karena aku tidak ingin kehilangan Elfata dariKu.


"pulau ini sudah lebih dari cukup, disini juga ada yayasan pendidikan yang bertaraf internasional.


Elfata anakku, sudah aku daftarkan ke sana. saya tahu apa yang harus aku untuk anakku, sebaiknya suruh clien anda mencari wanita lain yang bisa memproduksi anak untuknya.


Kenapa harus saya dan anakku pak?


Masih ada perempuan lain yang bisa klien anda perkosa.


Tolonglah jangan ganggu aku lagi, saya sudah cukup menderita, trauma karena diperkosa oleh klien anda."


Berusaha tegar dan kemudian menghapus air mata yang mengalir dengan tiba-tiba.


"sesuai dengan permintaan clien kami, yang menginginkan ibu untuk menjadi istrinya lagi, jika tidak maka clien kami menggugat hak asuh anak.


Alangkah lebih baiknya jika ibu berkenan menjadi istri clien kami lagi."


"mohon maaf pak, bisa kami bicara berdua aja dengan klien anda?"


Akhirnya pengacaranya Fahar pulang terlebih dahulu, dan kini tinggal aku bersama sang tuan muda ini.


Lalu kami berpindah duduk ke arah samping rumah, dimana tanaman sayuran ku sudah panen berkali-kali.


"saya tidak tahu caranya agar bisa menjadikan mu istriku lagi, dan ini adalah cara satu-satunya agar kamu bisa menjaga istriku."


"apa yang kamu harapkan dariKu? Elfata atau kepuasan mu?"


Brak.... pram.......


Pintu di banting dan mbak Nining menghadap kami berdua dengan wajahnya yang penuh kepanikan.


"anak-anak Anisa?"


Ujar mbak Nining dengan berderai air matanya, dan nada bicaranya tidak jelas karena suara tangisannya.

__ADS_1


"anak-anak kenapa?"


Berusaha untuk tenang dan akhirnya mbak Nining menatap mataku.


"anak-anak dan ibu ditabrak seseorang, sekarang sedang di rumah sakit."


Fahar langsung aku tarik keluar, karena dia kemari membawa mobil dan kami secara bersama-sama menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, kami langsung menuju meja informasi.


"anak-anak dan ibu mertuaku dirawat diruang mana? yang barusan di tabrak."


Mbak Nining yang duluan bertanya, lalu perawat yang menjaga ruang informasi tersebut memanggil dokter laki-laki yang kebetulan lewat.


"salah satu pasien membutuhkan darah O dan kebetulan stok darah tersebut habis, apakah ibu atau ayahnya yang memiliki golongan darah yang sama?"


Elfata lah yang memiliki golongan darah O dan seketika itu aku langsung menarik tangan Fahar.


"ini ayah kandungnya, tolong diperiksa Dok."


Dua perawat perempuan langsung membawa Fahar ke suatu ruangan, sementara aku dan Nining mengikuti perawat itu.


Tidak berapa lama kemudian perawat itu membawa satu kantong darah dan langsung menuju ruang IGD.


Lalu dokter melakukan tindakan selanjutnya, Elfata, Bani dan bu Margona sudah mendapatkan transpusi darah dan penanganan medis.


"kedua anak-anak ibu hanya cidera di bagian jidatnya tapi itu mengeluarkan darah segar yang banyak.


Setelah mendapatkan transpusi darah, mudah-mudahan bisa langsung siuman.


"mertuaku gimana dok?"


Mbak Nining yang bertanya kepada dokter itu dan terlihat dokter itu menghela nafasnya.


"mertua ibu menggunakan tubuhnya untuk melindungi kedua cucunya, sehingga kakinya serta tangan kirinya cedera hebat.


Kami sudah melakukan tindakan pertama, nantinya setelah selesai transpusi darah. kami akan melakukan ronsen keseluruhan tubuhnya."


Ungkap dokter tersebut, lalu kembali bertugas ke arah bu Margona.


Terlihat perawat yang didampingi oleh dokter, berusaha menekan kantong darah tersebut agar cepat di transpusi ke tubuh bu Margona.


'dok.... dokter....'


'pompa terus darahnya, oksigen cepat.'


Ujar dokter tersebut, dan kemudian memompa dadanya bu Margona.


Dokter tersebut melakukan upaya dengan memompa dada bu Margona.


tit..... tit.......


Baru terlihat dokter dan perawat tersebut bernapas lega karena tampilan layar itu berbunyi lagi.

__ADS_1


Kantong darah Nya sudah habis dan kemudian mencek dada serta nadi bu Margona.


'stabil dok'


Ucap perawat tersebut dan senyuman dokter itu terlihat lega.


'Siapkan ruang ronsen dan bawa pasien ini.'


Perintah dokter itu kepada perawat, dan bu Margona langsung dibawa ke ruang lain.


"ibu dibawa kemana?"


Fahar bertanya kepada kami yang sudah hadir diantara kami.


"ngak tahu mas."


"ya sudah, kalian ikuti perawat dan dokter itu. biar saya yang menjaga anak-anak disini."


Pinta Fahar dan kami berdua berlari mengikuti dokter tersebut.


"Bu tunggu bu, administrasi dulu bu."


Ujar perawat dari meja administrasi, dan Fahar langsung menghampiri nya. lalu Fahar memberikan kode kepada kami berdua untuk terus mengikuti dokter dan perawat itu.


Setelah beberapa saat kemudian bu Margona keluar dari suatu ruangan beserta dokter dan perawat.


Perawat membawa bu Margona sementara dokter tersebut menghampiri kami.


"dari hasil ronsen, kami harus tindakan operasi di betis dan tangannya."


"lakukan apa yang terbaik dok, tolong selamatkan ibu Ku."


"baik ibu, kalau begitu tolong ke administrasi untuk menandatangani persetujuan operasi."


Kemudian kami berdua berlari ke arah administrasi, setelah membaca isi dari dokumen tersebut, mbak Nining langsung menandatanganinya.


"anak-anak sudah stabil dan sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP, kalian berdua lihat ibu aja, biar saya yang menjaga anak-anak.


Tempat ibu sudah disiapkan, jadi kita bagi tugas aja ya."


Ujar Fahar yang lagi-lagi mengagetkan kami berdua, setalah itu kami berlari lagi menuju ruang operasi.


Setelah didepan ruang operasi, kami berjam-jam duduk lalu berdiri, berjalan lalu duduk lagi.


"bu Marisa...."


Renta yang datang dan langsung memelukku, kemudian memberikan kami air mineral.


"sabar ya bu, anak-anak sudah stabil kok. tadi sudah ronsen juga.


tidak ada hal yang fatal, sekarang tinggal menunggu siuman aja.


Tetap tenang dan berdoa lah agar ibu Margona bisa bertahan."

__ADS_1


Ucapnya dan menarik kami berdua agar duduk di kursi.


__ADS_2