
POV Fahar.*
Tubuh Fahar yang lebih besar dari tubuh Sean membuat nya kewalahan membopong tubuh Fahar kedalam apertemen nya.
Akhirnya Fahar sampai di ranjang, dan Sean akhirnya bisa bernapas lega, kemudian membuka sepatu Fahar serta pakaian yang dikenakan Fahar yang basah karena kopi yang tertumpah waktu di kopi shop.
"berat amat ni sang bos, untung loh bos sekaligus sahabat gue. kalau ngak dah ku tinggal di parit sana.
Ucapnya dan kemudian berbaring disamping Fahar.***
Pagi seperti biasanya Fahar bangun tidur, dirinya yang terbiasa bangun pagi karena selalu dibangunkan oleh Marisa.
Sepertinya ada beda, Fahar melihat sekeliling dan semua itu berbeda. kemudian memperhatikan dirinya sendiri, dia melihat dirinya yang terbangun yang hanya mengenakan ****** *****.
Lalu dia melihat ke samping nya, Sean yang masih tertidur dan hanya mengenakan ****** ***** juga.
Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, dan semakin di ingat dengan jelas.
"ha..... haaaaaaaa...... haaaaaaaa..... haaaaa...."
Karena teriakan dari Fahar akhirnya Sean terbangun, karena bos nya itu masih berteriak lalu Sean melemparkan bantal nya tepat di wajah Fahar.
"apaan sih bos, bising tau."
Fahar meraih cover bad, lalu menariknya ke arah tubuhnya sendiri dan melotot ke arah Sean.
"kau.... kau.... "
Sean menaikkan alisnya, karena sang bos itu menunjukkan ekspresi wajah yang aneh.
"kenapa bos?"
Tanya Sean, lalu Fahar agak menjauh dari sahabat nya itu dengan sorot matanya yang curiga.
"Lo.... ngak memakai gue kan kampret?"
"eh bos, emangnya saya cowok apaan? gila kali ya."
"siapa tahu aja, kamu semalam kan main sama cowok yang bersama Fika itu. terus kenapa saya telanjang seperti ini? nah kau ngapain telanjang gitu juga?"
Sean menarik napas panjang dan menghembuskannya, kemudian bangkit berdiri dan meraih kimono yang tergantung di tempat Nya.
Kemudian melempar satu untuk Fahar, setelah mengenakan kimono tersebut lalu Sean duduk di kursi belajar yang di kamarnya.
"tipe pria seperti yang bersama Fika akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, itulah sebabnya aku mengajaknya ke kamar mandi.
Saya bukan pria seperti yang bos pikir, saya belum menikah sampai sekarang karena menunggu pacar Ku selesai Koas. karena calon ku itu adalah calon dokter.
__ADS_1
Aku terbiasa tidur hanya mengenakan ****** ***** aja.
Semalam itu seluruh pakaian bos tertumpah kopi dan muntah bos sendiri, baju mu bos, Sean taru di keranjang laundry."
Setelah mengatakan demikian lalu Sean, berjalan arah keluar kamar dan kemudian diikuti oleh Fahar.
Ternyata Sean ke dapur, kemudian memasak. Sean kemudian menyajikan kopi untuk sang bos tersebut.
Lalu lanjut masak, selama Sean masak. Fahar hanya terdiam.
Tidak berapa lama kemudian Sean sudah selesai masak kemudian menyajikan makanan itu di meja.
"bos kita makan dulu ya."
Ucap Sean, dan akhirnya mereka makan bersama.
Selesai makan lalu Sean membersihkan piring kotor dan kemudian duduk santai bersama Fahar.
"Fika itu penderita HIV mas, itulah kenapa Sean nanya semalam, tentang apakah mas pernah berhubungan badan dengan Fika.
Semua yang dikatakan Renta waktu itu, benar adanya. perempuan itu benar-benar luar biasa dan liar."
"kamu ada bukti nya?"
Tanya Fahar kepada asistennya itu, dan Sean langsung meraih handphone nya dan mengirimkan apa yang diperolehnya semalam.
"iya... iya...."
Jawab Fahar, lalu Sean tersenyum sumringah karena uangnya akan segera balik dan itu dua kali lipat.
"oh....
ini sudah lebih dari cukup, untuk membuat orang tua Fika membayar denda berkali-kali lipat.
Mereka akan membayar kompensasi atas kebohongan mereka, dan mami akan bertanggungjawab penuh atas semua ini."
"itulah mas bos, kenapa Sean mengajak pria brengsek itu ke kamar mandi.
bapak sudah menyelamatkan diri Ku dari keterpurukan, dan mas bos adalah sahabatku sekaligus saudara bagiku.
Selama ini Sean ngak pernah kecewa terhadap mas, tapi kali ini Sean benar-benar kecewa terhadap mu mas."
Fahar menatap Sean dengan tatapan sayu, terlihat jelas rasa penyesalan dari sorot matanya yang layu.
"Almarhum Papi, sangat menyayangi Marisa, gadis kecil yang cantik dan pintar.
Kata papi, almarhum ayah Marisa adalah sahabat Nya. itulah kenapa Marisa diperhatikan khusus oleh Papi.
__ADS_1
Jujur, dari dulu. aku sudah menyukai Marisa, semakin beranjak remaja, Marisa semakin cantik.
Sampai lah Marisa beranjak dewasa, dan kecantikannya semakin maksimal.
Saya berusaha untuk mendekati Marisa, tapi dia selalu menghindar.
Singkat cerita, pada suatu hari. aku melihat Marisa diantar oleh teman laki-lakinya yang lumayan tampan.
Hatiku rasanya sakit, suatu ketika Marisa menerima panggilan video call dari teman prianya itu.
Mereka seperti orang pacaran dan itu membakar amarah serta kecemburuan Ku, esoknya mamanya Marisa saya perintahkan untuk belanja bulanan.
Ketika mamanya pergi, mpok Nori aku kurung di kamar dan para asisten lainnya saya usir.
Lalu aku masuk ke kamar Marisa yang sedang belajar, ketika melihatnya rasa cemburuku berubah menjadi nafsu.
Rambutnya yang terurai rapi dan wangi membuat nafsuku di ubun-ubun, akhirnya aku memperkosanya dua kali saat itu.
Sebenarnya saya menyesal, tapi sekaligus puas.
Marisa yang masih perawan sudah aku nikmati dan itu bukan lagi menjadi milik pria yang bersamanya tempo itu."
"kalau memang mas Fahar mencintai mbak Marisa, tapi kenapa mas memperlakukan Maria seperti budak?"
"Karena Marisa tidak bisa menerima cintaku, tubuh Marisa memang milikku tapi tidak dengan cintanya."
"kamu salah mas, mbak Marisa seperti menghindar karena Ia merasa ngak pantas untuk mas Fahar.
mbak Marisa merasa berhutang Budi kepada almarhum bapak Wijaya, kurang etis rasanya jika mbak Marisa menjadi istri mu mas.
Anak babu seperti yang sering di ucapkan sang nyonya, yang mengibaratkan pungut merindukan bulan.
arti lebih sederhana nya adalah tidak tahu diri. ibarat seorang wanita sangat sederhana yang berharap menikah dengan putra mahkota kerajaan.
Renta pernah cerita, tatapan mata mbak Marisa ketika mas perhatian kepada mbak Marisa, dan tatapan itu seperti tatapan seorang istri yang bahagia karena cinta suami nya yang luar biasa.
Artinya adalah bahwa mbak Marisa juga menyukai dan mencintai mas Fahar, hanya mas Fahar yang tidak bisa merasakan Nya."
Tutur Sean dengan sangat jelas, terlihat Fahar semakin lesu.
Kemudian Fahar menarik napas panjang lalu menatap Sean dengan sayu.
Sean membalas tatapan itu dengan senyuman kecut, karena sejujurnya asistennya itu sangat kecewa terhadap Fahar.
"terlepas apapun cara yang dilakukan oleh mas, untuk menjadikan mbak Marisa sebagai istri, jujur Sean bahagia mas. semenjak mas menikah dengan mbak Marisa, mas Fahar jauh lebih baik."
Sean kemudian tersenyum ke arah Fahar, dan Fahar menanggapinya dengan senyuman kecut.
__ADS_1