
Seperti biasanya bangun pagi dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh mas Fahar.
Selesai berpakaian, lalu membangunkan mas Fahar.
Mas Fahar sudah keluar dari kamar mandi, lalu membantu nya untuk berpakaian.
"Senin depan kita harus ke klinik, USG anak kita. supaya kita bisa melihat perkembangan anak kita."
"bukannya bulan depan ya mas?"
"ini hanya kontrol rutin, kita tetap melakukan untuk melihat perkembangan anak kita."
"baik mas, sekaligus supaya mengetahui jenis kelaminnya."
"apa harapan mu?"
"perempuan mas, aku ingin anak perempuan mas."
mas Fahar menatapku dengan tatapan tajam, terlihat sorot matanya yang sulit aku mengerti.
"kamu ingin menghindari Ku ya? apa karena Fika?"
"ngak mas, hanya ingin aja anak ini perempuan. Fika itu ngak ada pengaruh bagi Marisa mas.
Bukan Marisa yang berusaha menghindar, karena cepat atau lambat kita akan berpisah. tidak satupun perempuan di dunia ini yang mau di madu mas.
Marisa juga sadar akan posisi Ku sebagai istri siri mu mas, anak perempuan kelak nantinya bisa teman curhat Ku."
Mas Fahar keluar kamar dan membanting pintu kamar.
Sebenarnya saya menerima apapun jenis kelamin dari anak yang aku kandung ini, yang penting sehat dan tanpa kekurangan apapun ketika lahir nantinya.
Tapi sikap mas Fahar yang tidak bisa membuat ku berdamai dengan hatiku ini, sulit rasanya untuk menerima mas Fahar.
Awal yang buruk kemungkinan besar akan berakhir dengan buruk, bahkan kita mulai dengan yang baik, terkadang berakhir dengan buruk.
'Marisa.... Marisa.....'
Suara Fika lagi, ngapain sih itu perempuan datang?
Suasana hati yang panas, di tambah lagi suara dari Fika.
"Apa yang bisa saya bantu non?"
Fika tidak langsung menjawab pertanyaan Ku, dia malah menarik tanganku dan menyuruh duduk disampingnya.
"kamu kenal dengan Renta?"
"kenal di kantor mas Fahar, emangnya kenapa ya non?"
"ngak usah kamu dengar dia ya, dia itu perempuan yang ngak beres."
Dalam hati ini, siapa yang perduli. toh juga ngak ada ngaruhnya untukku. tapi kehadiran Fika membuat mood sangat tidak baik.
__ADS_1
"saya ngak perduli dengan semua itu non, apapun yang di ucapkan oleh Renta. itu tidak membuat ku kaya raya.
Sekarang saya mau tanya, non kemari ada urusan apa?"
"mas Fahar dimana?"
"non lihat sendiri kalau mobilnya tidak ada di garasi mobil, itu artinya mas Fahar tidak ada di rumah.
non tinggal telpon aja, ngapain nanya sama saya?"
"sensi amat, lagi menstruasi ya?"
Sebenarnya ingin aku robek mulut si Fika ini, jelas-jelas dilihat lagi hamil besar gini, tapi masih ditanya apakah lagi menstruasi.
"kalau non ngak ada urusan lagi, saya tinggal ke dalam ya non."
"tunggu dulu, buru-buru amat sih. saya mau tanya deh sama kamu.
Kamu ikhlas ngak sih melepaskan Fahar? atau kamu ingin tetap bersama Fahar dengan alasan kehamilan mu ini?"
Sepertinya perempuan yang bernama Fika bukan lulusan Harvard deh, ngomong nya kok selalu berulang-ulang. atau memang disengaja?
"non maunya gimana? dan apa yang harus saya lakukan?"
Terlihat Fika menghela napas panjang Nya dan kemudian melirikku dengan tajam.
"kamu pergi aja dari sini sekarang, beres urusan. ini itu jadi milk mu untuk selamanya, jadi kami nantinya ngak repot untuk mengurus anak itu."
"pernyataan mu hari ini berbeda dengan pernyataan mbak kemarin, plinplan tidak mencerminkan seorang wanita yang berpendidikan tinggi. konon katanya lulusan Harvard."
saya dan mas Fahar saling mencintai, jadi duri percintaan kami seperti kamu ini hendaknya jangan ada.
Takutnya kamu akan jadi parasit di kehidupan rumah tangga kami, dan asal kamu tahu kalau mas Fahar itu hanya untuk Ku.
Mas Fahar rela menunggu untuk menyelesaikan kuliah di Harvard, dan pernikahan kami ini juga adalah kesepakatan bisnis.
Mas Fahar akan menjadi pria yang paling idiot jika memilih menjadi istrinya selama Nya, karena pernikahan kami sudah direncanakan sejak awal."
"non bicara aja sama tuan muda Fahar Wijaya, saya siap dengan semua perkataan tuan muda Fahar.
Non tidak perlu kwatir, yang perlu non kwatir kan adalah sikap tuan muda Fahar terhadap non sendiri.
Seperti yang non sampaikan, kalau seseorang itu bisa berubah."
"memang seseorang bisa berubah, tapi cinta mas Fahar kepadaku tidak akan berubah."
Mual rasanya mendengar ocehan lulusan Harvard ini.
"mau kemana?"
"kamar mandi non, maklum wanita hamil."
Sebenarnya itu hanya alasan saja, supaya aku tidak mendengarkan ocehan dari Fika.
__ADS_1
"mau kemana anak babu?"
Belum juga berlalu sang nyonya Rina, yaitu mami nya mas Fahar tiba di rumah ini. panggilan terhadap ku selalu anak babu.
Akhirnya langkah Ku berhenti, dan aku menoleh sang nyonya Rina yang bermulut pedas.
"besok kita USG untuk memeriksa kandungan mu."
"loh, mas Fahar bilang Senin depan."
"ngak usah membantah anak babu, turuti aja kemauan Ku."
Kemudian aku melangkah kaki Ku, dan melangkah pelan menuju arah kamar.
"sakit nyonya...."
Tangan Ku ditariknya dengan begitu kuat dan ku coba untuk menghempaskan nya.
"ah.... dasar anak babu."
"Tante....."
Teriak Fika dan membantu sang nyonya Rina untuk bangkit berdiri.
"ternyata kamu itu kejam ya, kamu sama aja dengan Renta. perempuan bar-bar itu, dasar preman pasar."
plak....
Entah apa yang terjadi dan tiba-tiba saja mas Fahar sudah di rumah ini dan menamparku Pipiku dengan begitu kuat.
Pipiku yang perih karena ditampar oleh telapak tangan mas Fahar yang besar, dan air mata Ku tiba-tiba saja mengalir membasahi pipi yang panas ini.
"kurang ajar kamu sama mami Ku ya, bisa-bisanya kamu berbuat kasar sama mami. hargai mami Ku, paham kamu ?"
Aku hanya bisa mengangguk dan menahan rasa sakit yang luar biasa ini, rasanya perih banget di hati ini.
"cepat buatkan kami minuman."
"baik tuan muda."
Air mata aku lap dengan kedua tangan ini, lalu berusaha untuk tenang.
Melangkah ke arah dapur, dan kulihat Mpok Nori dengan mata yang berkaca-kaca saat menatap Ku.
Tanpa bicara mpok Nori membuat dua teh dan satu kopi, kemudian meletakkan dalam nampan berikut dengan cemilan.
Lalu nampan itu aku bawa ke arah ruang tamu dan menyajikannya kepada mereka bertiga.
"duduk di bawah."
Ucap mas Fahar dan perintah itu aku laksanakan di hadapan mami nya dan juga calon istrinya itu.
"Marisa, saya ingin segera menikahi Fika. karena begitu menikah dengan Fika , maka perusahaan akan merger."
__ADS_1
"Fahar, ngapain harus minta izin sama anak babu ini? toh juga dia ngak akan paham."
Sanggah mami nya dengan begitu gamblang, tapi aku hanya bisa menahan air mata ini untuk tidak menetes di pipi.