
POV Fahar.*
Pagi hari dan hari ini adalah hari Senin, Sean sudah menandatangani pengalihan saham dari Papinya Fika ke saham Fahar.
Kemudian Sean beralih ke ruangan Fahar untuk memberikan laporan.
tok.... tok....
Pintu ruangan di ketuk dan di persilahkan masuk ternyata itu adalah Arman kepala divisi pengembangan IT.
Wajahnya berseri-seri ketika berada di ruangan Fahar sembari meletakkan map dokumen di meja Fahar.
Tidak berapa lama kemudian Renta pun masuk, dan wajahnya tidak seceria seperti biasanya.
"luar biasa sekali ide dari bu Marisa, iklan animasi buatan bu Marisa begitu trending dan tentunya menaikkan penjualan produk.
Satu lagi pak, kemarin itu bu Marisa mengirimkan karya nya kepada kami, tim editor menilai dan langsung dibuat dua versi yaitu iklan dan juga game.
Ibu dimana pak, saya ingin meminta tandatangan Nya untuk kontrak baru ini."
Wajah pak Arman yang tadi cerita kini berubah menjadi cemberut karena Fahar menunduk setelah penuturan dariNya.
"bu Marisa sudah pergi dan entah kapan balik kemari, ada tuh orang yang gampang terprovokasi hingga membuat ibu Marisa kecewa dan pergi."
Ucap Renta dengan nada sinis, lalu Fahar menatapnya.
"Renta, saya jauh lebih sedih karena di tinggal oleh Marisa. tolong jangan pojok kan saya seperti ini.
saya memang salah, dan saya benar-benar menyesal. tolong bantu saya ya."
Renta kemudian menatap Fahar dengan tatapan kecewa, lalu meletakkan beberapa map dokumen di atas meja Fahar.
"jadi kesayangan editor ku sudah pergi ya? baru aja editor ku bahagia atas kedatangan the Marisa, mudah-mudahan the Marisa cepat kembali ke editor ku.
terus gimana dengan karya yang luar biasa ini pak?"
"terbitkan aja pak Arman, syukur-syukur ada yang komplain atau menggugat kita. jika itu terjadi itu artinya aku bisa bertemu dengan Marisa lagi."
"baiklah pak, kalau begitu tolong bapak tandatangani sebagai pertanggungjawaban terhadap karya yang luar biasa itu."
Jawab pak Arman dengan lemas, setelah mendapatkan apa yang dia kehendaki akhirnya di keluar ruangan dengan lemas.
"emas yang dilemparkan ke lumpur akan tetap menjadi emas, begitu lah mbak Marisa. Sean yakin bahwa mbak Marisa jauh lebih sukses dengan animasi nya.
Tapi ya sudahlah, sekarang kita fokus dulu ke bagian permasalahan kantor dan juga sang nyonya.
__ADS_1
Tadi pagi Sean sudah ngomong sama Renta, beliau janji akan mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari mbak Marisa, dan semoga itu berhasil."
"amin, gimana perkembangannya?"
"sejauh ini masih aman mas bos, tadi saya melihat Damar berada di mobil Papinya Fika.
Benar dugaan Ku, kalau Papinya Fika akan bekerja sama dengan Damar untuk menghancurkan kita mas.
Damar......
kamu lihat aja, sekarang kamu masih bisa menikmati apa yang telah kamu peroleh dengan kelicikan mu itu."
Brak.... prak....
Pintu dibanting, dan sang nyonya yang marah-marah datang dan Renta berusaha menghalang-halangi nya.
Lalu Fahar memberikan isyarat kepada Renta untuk meninggalkan ruangannya, karena selebihnya adalah urusan Fahar.
"eh kampret keluar loh."
Ucap mami nya Mahar kepada Sean, tapi Fahar menahan Sean dengan cara memegang tangannya.
"Sean adikku, sahabatku dan sekaligus rekan kerjaku. mami ngak ada hak untuk mengusir Sean."
"Fahar, kamu keterlaluan nak. kedua gedung itu hasil kerja keras mami."
"apa? hasil kerja keras? oh iya lupa, hasil kerja keras mami untuk menguras papi.
Maaf mi, Fahar hanya berusaha menjaga dan mempertahankan apa yang telah Papi perjuangkan."
"kamu ingin benar-benar melawan Mami? durhaka kamu nak."
"mami yang lebih durhaka, mami sengaja melukai papi dan kemudian membunuh nya. mami juga sudah menghancurkan keluarga kecil Fahar.
Hanya karena ambisi mami untuk bermain gila sama brondong."
Sepertinya mami nya Fahar kalah telak, dan langsung pergi dengan amarahnya.
"ayo kita ke aula, karena beberapa pegawai yang terlibat sudah berhasil membawa bukti, seperti yang sepakati waktu itu."
Fahar dan Sean lalu pergi ke Aula, sesampai disana tim ibu Parah dan juga beberapa tim Om Edo sudah ada di sana.
Tidak berapa lama kemudian, tim investigasi kantor yang dibentuk oleh Fahar Sean sudah tiba bersama Renta.
"baik bapak-ibu, sekarang berikan bukti-bukti yang berhasil kalian kumpulkan kepada tim investigasi."
__ADS_1
Pinta Sean kepada hadirin yang ada di Aula, dan satu persatu mereka memberikan bukti-bukti yang mereka punya dan menjelaskan nya dihadapan tim investigasi dan dihadapan Fahar dan Sean.
Beberapa saat kemudian, para investasi berdiskusi. setelah itu kepala tim investigasi ngobrol dengan Fahar, Sean dan Renta.
Lalu Sean naik ke podium dengan membawa map dokumen hasil dari investasi.
"baik bapak-ibu, hasil sudah keluar. bukti-bukti yang telah bapak ibu berikan dinyatakan valid."
ha..........
terdengar suara kelegaan dari para hadirin, yang akhirnya bisa merasa lega karena bukti dari mereka ternyata valid.
"akan tetapi kami tidak bisa memperkerjakan bapak-ibu lagi, dan itu sesuai surat perjanjian kerja kita.
dimana pasal ke dua belas pain A, menyatakan. apabila pegawai terlibat penyelewengan dana perusahaan dan kebijakan.
Maka pegawai akan dipecat secara tidak terhormat, tanpa pesangon dan tanpa gaji terakhir."
Terlihat bu Parah angkat tangan, lalu tersenyum puas ke arah Sean.
"saya dan tim yang terlibat sudah ikhlas nak Sean, ini juga salah kami.
Perusahaan ini sudah memberikan nafkah kepada kami semua dan juga keluarga kami, almarhum pak Wijaya memberikan kesempatan emas dan berharga.
Tapi kami mengkhianati kepercayaannya, inilah kesalahan terbesar kami nak Sean.
Memang pak Wijaya sudah almarhum, tapi kebaikan bagi kami akan selalu hidup di hati kami.
Saya dan tim yang terlibat, berterima kepada pak Fahar yang sudah memberikan kami kesempatan untuk memberikan sanggahan.
Terimakasih karena sudah memberikan kami kesempatan, dan terimakasih kepada almarhum pak Wijaya dan keluarga."
Ucap ibu parah dan kemudian tersenyum, kemudian bu Parah dan tim Nya membungkuk untuk memberikan penghormatan kepada Fahar.
Mereka akhirnya bubar, kini tinggallah tim dari om Edo. mereka memberikan bukti-bukti keterlibatan mereka dan mengakui perbuatan tersebut.
Mereka juga minta maaf karena telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh almarhum pak Wijaya kepada mereka.
Kepercayaan yang diberikan dan menghidupi keluarga mereka dengan layak, hanya karena godaan sesaat mereka menjadi sesat.
Mereka kehilangan mata pencaharian yang bisa menafkahi keluarganya masing-masing, dan mereka juga kehilangan kepercayaan dari almarhum pak Wijaya sang pendiri perusahaan.
Nasi sudah jadi bubur, tinggal mereka untuk mencari cara agar bubur tersebut layak untuk di konsumsi.
Kemudian mereka bubar setelah membungkuk untuk memberikan rasa hormat, dan ucapan terimakasih karena masih diberikan kesempatan untuk menyanggah kepentingan mereka sendiri.
__ADS_1