
POV Fahar.*
Bi Mimin yang melihat majikannya gantung diri, seketika langsung lemas dan terduduk di lantai, lalu pingsan dan tergeletak di lantai.
Kemudian Fahar langsung meraih handphone dan menghubungi sahabat nya, yaitu Sean.
Selesai menelpon sahabatnya, lalu Fahar terduduk lemas di lantai di depan tubuh bi Mimin yang terletak karena pingsan.
Tidak berapa lama kemudian Sean datang dengan membawa bala bantuan, berupa tenaga medis dan juga Polisi.
Berselang beberapa waktu kemudian, Mpok Nori dan bu Ani. langsung membawa tubuh bi Mimin ke tempat tidur Nya.
Mpok Nori dan Bu Ani, yang akan menyiapkan segala untuk keperluan pemakaman jenazah sang nyonya Rina.
Sementara Fahar dan Sean, pergi ke kantor polisi.
Renta akhirnya datang untuk membantu mpok Nori dan bu Ani, dan tidak berapa lama Fahar dan Sean sudah tiba dengan iringan ambulans yang membawa jenazah maminya.
Hari sudah mulai sore dan terpaksa jenazah harus di kebumikan, dan akhirnya semua terlaksana dengan tepat.
Bi Mimin sudah sadar dari pingsan Nya, kini sudah berhadapan dengan Fahar dan juga Sean serta Renta.
"apa yang terjadi bi? kenapa mami tiba-tiba nekat gantung diri?"
Bi Minah masih terdiam, beliau hanya menatap Fahar yang bertanya kepadanya.
"mas bos, tadi Sean sempat mengambil gambar surat yang ada di meja rias sang nyonya, bentar biar Sean kirimkan."
Kemudian Sean mengirimkan file photo tersebut ke Fahar, dan mereka berdua bersama-sama membacanya.
"tadi pagi tuan meninggal karena digantung oleh aden Alex dan non Lisa.
bibik diseret ke dapur dan kemudian disekap dan di ikat, setelah selesai pemakaman almarhum tuan Damar.
Kemudian bibik menyuruh nyonya istrihat di kamar, dan demikian juga sebaliknya.
Nyonya terlihat baik-baik saja, itulah sebabnya bibik yakin untuk tidak menggangu nya, dan entah kenapa bibik bisa ketiduran dan tidak mendengarkan aktivitas nyonya di kamar ini."
Tutur bik Mimin, lalu Sean mendekati Nya kemudian memegang tangannya.
"wajarlah bibik ngak dengar, bibik itu syok lalu ketiduran, ini bukan salah bibi."
Ujar Sean kepada bik Mimin, lalu Fahar menatapnya dengan tatapan sayu.
"iya bik, benar kata Sean. ini bukan salah bibik, semua sudah terjadi dan itu bukan salah bibik.
__ADS_1
Nanti bibik kerja di rumah Ku aja ya, Mpok, tolong bantu bibik untuk beres-beres pakaiannya ya."
Mpok Nori dan bu Ani langsung bergegas ke kamar bik Mimin untuk beres-beres, sementara Renta masih berusaha untuk menenangkan bik Mimin.
Setelah semuanya beres, secara bersama-sama mereka berangkat ke rumah Fahar.
Begitu sampai di rumah, Fahar, Sean dan Renta langsung duduk di sofa ruang tamu.
"tadi pas dijalan, Renta di kirimkan link berita oleh kuasa hukum kita pak."
Renta menyodorkan notepad milik nya dimana link berita tersebut sudah terbuka, dan Fahar langsung membacanya.
Sejenak Fahar dan Sean membaca berita tersebut dan kemudian saling menolah satu sama lainnya.
Ternyata mayat Alex dan Lisa ditemukan gantung diri di rumah kontrakannya, pihak berwajib tidak menemukan pertanda kekerasan atau pembunuhan terhadap Alex dan Lisa.
Ada catatan bunuh diri yang tertinggal dan itu akhirnya di yakini bunuh diri.
Karena tidak ada keluarga yang datang, akhirnya pihak berwajib dengan bantuan kementerian terkait menguburkan keduanya.
Fahar dan Sean menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan Nya, lalu mereka saling bertatapan satu sama lainnya.
"mas bos, barusan doktor Jaiman menelpon. untuk bertanya mengenai kelanjutan dari laporan kita."
"lanjut aja, kita tidak bisa mundur. berhubung dua orang sudah meninggal, sekarang kita fokus ke Burhan."
"oke mas bos, pak doktor akan lanjut."
Ucap Sean setelah selesai menelpon, Renta yang juga baru selesai nelpon langsung menoleh ke arah Fahar lalu berhenti ke arah Sean.
"pak Sean, sebelumnya saya mintak maaf terlebih dahulu.
Renta bukan mau ikut campur urusan pribadi pak Sean."
Lalu Renta berhenti bicara, dan Sean terlihat akan tingkah Renta yang agak aneh tersebut.
"ngomong aja Renta, jika nantinya saya emosi kan ada mas bos."
Ujar Sean seraya tersenyum, kemudian Renta menyodorkan handphone miliknya ke Sean.
"Renta pernah melihat photo pak Sean bersama gadis cantik itu di ruangan pak Sean.
Tim pak doktor Jaiman mencurigai keterlibatan Agam, anak laki-laki nya pak Burhan. dalam kasus kita ini.
Tim dari pak doktor mengawasi Agam, dan segala aktivitas nya.
__ADS_1
Agam beberapa kali bersama gadis cantik keluar dari hotel, saya tidak pernah dan ada niat untuk memantau masalah pribadi pak Sean.
Photo yang dikirim itu diambil tadi pagi dan juga sore hari tadi."
"sudah kuduga."
Sanggah Sean tiba-tiba, dan kemudian mengembalikan handphone Renta.
"maksudnya gimana pak Sean?"
Sean menatap Renta dengan tatapan yang sayu, lalu menarik napas dalam-dalam dan kemudian menurunkan pandangan Nya.
"saya sudah curiga kalau Jesika punya pria lain, dia selalu beralasan ketika aku ajak nikah dan selalu berasalan yang jelas ketika aku ajak jalan-jalan."
Renta dan Fahar menarik napas panjang setelah penjelasan dari Sean yang lemas.
"bisa saya minta photo ini?"
Pinta Sean, lalu Renta langsung mengirim kan photo tersebut serta beberapa photo lainnya di kesempatan yang berbeda.
Karena sudah larut malam, Renta diantar pulang oleh bodyguard Fahar serta Sean yang masih galau.**
Fahar masuk ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi, setelah keluar dari kamar mandi Fahar langsung menuju kasur.
"Marisa, kenapa aku selalu membayangkan wajahmu.
bahkan aku selalu melihat ranjang untuk mengambil pakaian yang sudah kamu siapkan untukku."
Fahar berbicara sendiri dan kemudian tertawa, menertawakan nasib dirinya setelah ditinggal Marisa.
Membuka lemari lalu mengambil pakaian dan mengenakan pakaian tersebut, lalu duduk di kursi yang biasa di pakai oleh Marisa.
"semua karena salahku Marisa, kamu adalah wanita hebat, lembut, cantik dan baik hati.
tapi kenapa kamu tidak bisa melihat dan merasakan cintaku."
Lagi-lagi Fahar berbicara sendiri sembari melihat cincin pernikahan yang ada atas meja rias tersebut, yang diletakkan diatas set perhiasan yang pernah diberikannya kepada Marisa dengan cara yang menghina.
"jika aku memberikan set perhiasan ini untuk mu dengan layak, apakah kamu akan membawa perhiasan ini?
Marisa, kamu benar-benar keras kepala. saya tahu kamu itu hebat, tapi setidaknya bawalah uang itu dan juga set perhiasan ini.
kalau kamu ngak mau memakainya, setidaknya berikan nanti untuk anak kita. kalaupun itu untuk biaya anak kita Marisa.
kamu memang berbeda, beda dari gadis yang pernah aku kenal."
__ADS_1
Ujar Fahar yang berbicara dengan dirinya sendiri, setelah Fahar beranjak ke ranjang dan mencoba untuk menenangkan pikiran Nya dengan cara istrihat.