AIR MATA MARISA

AIR MATA MARISA
Kegaduhan di Kantor Mas Fahar.


__ADS_3

Ruang rapat yang sebesar aula sekolah, dan suasana semakin panas. para kaki tangan maminya mas Fahar di pecat secara tidak terhormat dan di tuntut ganti rugi dua kali lipat.


itu sesuai dengan perjanjian di awal ketika selesai melaksanakan magang selama tiga bulan.


Beberapa diantara mereka mengatakan anak menggugat perusahaan, sementara yang lain pasrah.


Sebenarnya tidak ada gunanya untuk menggugat perusahaan, karena sudah jelas-jelas bukti korupsi yang mereka lakukan sehingga merugikan perusahaan.


Ditambah lagi penggelapan Anggara pajak, yang seharusnya disetor ke negara dan malah mengalir ke kantong mereka masing-masing.


Mereka para kaki tangan diberikan waktu selama dua pekan setelah rapat besar hari ini, dan terlihat kegaduhan suara semakin terdengar.


"Fahar, kamu tidak boleh memperlakukan seperti ini.


Mbak Rina saudara itu punya saham besar di perusahaan ini, dan berasal dari kedua orang tua kami."


"om Edo, silahkan buktikan jika saudari itu punya saham di sini."


"kurang ajar kamu, keponakan tidak tahu diri."


"hei jaga mulutmu parasit, kau dan keluarga mu yang menghisap Papi hingga tewas. dasar parasit."


Ucap mas Fahar dengan sangat lantang dan nada suara keras, dan hal itu membuat seluruh ruangan menjadi tenang.


"pak Fahar.....


saya dan tim ku hanya di suruh, kami tidak berdaya di bagian keuangan."


"mohon maaf ibu Parah, jika ibu dan tim hanya di suruh untuk melaksanakan perintah.


lalu kenapa Bu Parah dan tim masih berlanjut melakukan korupsi berjamaah? padahal sang nyonya sudah di tendang dari perusahaan ini."


Sanggah Sean dengan tegas kepada Bu Parah, yang berasal dari bagian keuangan perusahaan.


"kan masih ada pak Edo, beliau masih punya kuasa disini untuk menekan kami. tolong pertimbangan nasib kami pak, karena tidak semuanya salah kami."


"baik, tapi ibu dan tim harus membuktikannya. dan waktu nya saya berikan satu minggu terhitung dari sekarang.


demikian juga dengan departemen lainnya yang mengajukan keberatan. silahkan bawa buktinya Senin depan dan kita bertemu kembali di ruang rapat ini."


Ucap mas Fahar dengan begitu tegas dan lugas, lalu rapat diakhiri dengan ucapan syukur dari beberapa pegawai yang terlibat.


Mas Fahar mengajakku keluar yang di ikuti oleh Sean dan Renta, dan kami kembali menuju ruangan mas Fahar yang mewah itu.


Mereka bertiga terlihat berdiskusi, sementara aku hanya minum susu buatan Renta.


Selesai mereka berdiskusi, lalu mas Fahar mengajakku pulang ke rumah karena memang sudah waktu sudah sore.

__ADS_1


Sesampai di rumah, mas Fahar langsung mandi dan aku ke dapur mencari mpok Nori.


Makan malam sudah tersedia, lalu aku kembali ke kamar lalu mandi dan kemudian berpakaian.


"mas, yuk makan malam. jangan kerja terus, mas juga butuh tenaga dan istrihat yang cukup."


Mas Fahar langsung menerima ajakan Ku, dan berbeda dari hari-hari sebelumnya.


Lalu kami makan malam dan mpok Nori terlihat tersenyum yang masih duduk di kursi bersama kami.


"mpok ngak makan?"


"nanti aja tuan, kalau mpok gampang lah. Mpok sudah merasa kenyang ketika melihat tuan dan si neng makan berduaan seperti ini."


Mas Fahar hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mpok Nori, dan selesai kami makan lalu kembali lagi ke kamar.


"mas gosok gigi yuk?"


Lagi-lagi mas Fahar nurut dan melakukannya, kami berdua sama-sama gosok gigi di wastafel kamar mandi.


Ketika kami keluar dari kamar mandi, mas Fahar hendak menuju meja kerjanya yang ada di kamar ini.


"sudah dong mas, harus jaga kesehatan juga. mas butuh istirahat.


Sini biar Marisa pijit lagi, agar mas rileks dan bisa menghadapi semuanya dengan kepala yang dingin dan tenang."


Mas Fahar nurut lagi, dan kini dia langsung tengkurap dihadapan Ku setelah membuka koas yang dikenakan Nya.


"ngak mas, tadi Marisa dan mbak Renta sudah rileks dari salon langganan Nya. sekarang giliran mas yang harus rileks ya."


Mas Fahar kemudian diam, karena kaki dan betis nya sudah mulai ku pijat. perlahan ke pahanya yang hanya menggunakan celana pendek berbahan kain.


Lalu beranjak ke bokong, terdengar sudah suara ngorok dari mas Fahar.


Lanjut ke pinggang lalu punggung dan terakhir pundaknya, mungkin tiga puluh menit aku memijat mas Fahar.


lalu tubuhnya aku balikkan dengan perlahan, dan aku selimuti tubuhnya tanpa memakai Koas itu.


Kepalanya ku angkat ke pahaku yang sudah bersila, lalu dengan pelan kepalanya aku pijat. suara ngoroknya semakin merdu.


Dan terakhir ke tangan, karena mas Fahar seperti nya sudah rileks. lalu aku tidur di sampingnya.**


tok..... tok..... tok....


"neng.... neng Marisa.... neng.....


Samar-samar terdengar suara mpok Nori yang memanggil dari balik pintu kamar, dan akhirnya aku terbangun.

__ADS_1


"iya mpok."


Aku jawab panggilan mpok Nori dan melangkah keluar dari ranjang, setelah membuka pintu. terlihat wajah cemas dari Mpok Nori.


"kenapa mpok? kok cemas gitu wajahnya?"


"neng dan tuan baik-baik aja kan?"


"iya mpok, ini baru bangun tidur. emangnya kenapa Mpok?"


"Mpok kwatir, kalau neng dan tuan sakit. karena lama bangunannya. tidak seperti biasanya."


"mangnya sudah jam berapa ini?"


"jam sembilan neng."


Pantasan mpok khatir, tidak pernah aku bangun kesiangan seperti ini.


"iya dah Mpok, biar neng bangun mas Fahar dulu. nanti kami ke meja makan."


Barulah mpok Nori terlihat tenang lalu pergi, dan aku menutup pintu dan kemudian menghampiri mas Fahar.


"mas.... bangun mas, sudah siang ini."


Perlahan mas Fahar membuka kedua matanya, lalu dia tersenyum.


"maaf mas, Marisa kesiangan bangun Nya karena terlelap tidur setelah rileks dari salon."


"ngak apa-apa, lagian mas merasa rileks dan tidur lelap."


Sepertinya aku halusinasi lagi, mas Fahar seperti mencium kening ini lagi dan pergi ke arah kamar mandi.


Selesai mas Fahar mandi dan aku membantunya untuk merapikan pakaian dan kami sama-sama ke ruang makan.


"hari ini di rumah aja ya, mungkin nanti baru malam mas pulang ke rumah."


Hanya mengganguk untuk menjawab mas Fahar lalu berangkat ke kantor.


Setelah selesai makan, lalu aku kembali ke kamar dan kemudian mandi.


Berpakaian dan tiba-tiba saja aku teringat dengan flashdisk yang aku ambil dari tas Lisa saat itu.


Baru saja hendak mengambil laptop, terdengar suara kegaduhan dari arah ruang tamu.


Langsung buru-buru keluar, dan ternyata itu nyonya Rina bersama Lisa datang dengan marah-marah.


Amarah mereka berdua terlihat begitu memuncak, Mpok Nori dan Bu Ani berdiri dihadapan Ku.

__ADS_1


Dua security rumah tetap mendampingi sang nyonya dan Putri nya itu.


Tidak berapa lama kemudian datanglah uak Jarvis, dan langsung membawa ku untuk masuk kembali ke dalam kamar.


__ADS_2