
"Bagaimana kau berpikir kau akan menikahinya !!!" Regan menahan marah
"Saya juga tidak mau menikah dengan orang yang tidak saya kenal" Rintih Bagas mencoba untuk bersikap seperti biasa.
"Ya, Bira mah takut nanti itu nya ga bisa bangun lagi terus ga ada lagi perempuan yang mau sama si Aa ini,makanya sebagai orang yang baik Bira mau tanggung jawab, ga papa Bira ikhlas ganteng da orang nya," Ucapnya tanpa dosa
Regan memijit keningnya merasa pusing,melihat wajah Bagas yang pucat dan melihat Bira dengan wajah polosnya,dia mencoba menetralkan emosinya
"Bagas, kau sudah tidak apa-apa kan ?" tanya Regan
"Tidak pak" Sebaiknya berkata tidak apa-apa daripada melihat Regan marah,karna sejak Sabira mengatakan ingin bertanggung jawab dengan menikahinya,kemarahan Regan seakan mau meledak ."S-saya ya permisi pak" Ucapnya tergagap
"Hemm"
"Terus Bira gimana ini?" tanya Bira merasa bingung
"Bagaimana apanya ?" Regan mengerutkan kening
"Itu tadi katanya berkasnya kosong, masa Bira harus balik lagi ?"
"Tidak usah, makanya kalo di suruh itu yang benar" pura-pura menyalahkan Bira padahal Regan hanya beralasan saja meminta Bira membawa berkas kosong hanya untuk Bira menemuinya di kantor.
"Tadi mah Bira di suruhnya ngambil map warna hijau yang warna hijau cuman yang itu ga ada lagi, mas Regan lupa kali bukan nyimpen berkasnya di map hijau tapi di map yang lain" jawab Bira
"I-itu i iyaa, saya lupa, saya lupa nyimpennya di map yang mana" mengusap tengkuk merasa gugup karna mengambil map hanya alasan Regan saja untuk bertemu Sabira,tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.
"Bira pulang lagi ini teh?"
"Jangan... !!! maksud saya nanti dulu kamu kan baru sampai, istirahat dulu saja di sini"
"Oke kalo gitu mah, jarang-jarang Bira naik gedung setinggi dan sebagus ini, kalo emak tau pasti pengen ngikut da"
"Ya sudah saya mau lanjutin dulu kerja, kamu duduk aja di sana" Sabira hanya menganggukan kepala dan duduk di sofa yang ada di ruangan Regan.
Akhirnya Regan meneruskan pekerjaannya, entah kenapa dia merasa senang Sabira ada di dekatnya, Regan melihat Sabira tengah selfie dengan banyak pose,Regan hanya geleng-geleng kepala.
"Ada apa denganku kenapa aku ingin selalu melihatnya" Regan berkata dalam hati
"Ya, ampun Bira teh meni cantik pisan" pujinya kepada diri sendiri
"Percaya diri sekali kamu" ucap Regan
"Memang Bira mah cantik, kenyataan itu mah,
coba liatin Bira mas Regan ada yang beda ga dari penampilan Bira" sambil senyum-senyum
__ADS_1
"Tidak ada" berkata tanpa melihat Sabira
"Iihh.... kalo di tanya itu liatin atuh Bira nya bukan liatin laptopnya, tersungging Bira jadinya"
"Tersinggung bukan tersungging,kenapa kau selalu merubah kosa kata"
"Cepet atuh liatin Bira,pegel ini senyum dari tadi"
Regan melihat Sabira sambil mencoba bepikir, terus dan terus melihat Bira.Entah mengapa dia jadi suka melihat terus ke wajah Sabira
"Eh, malah bengong...mas Regan !!!"
"Ehhmm... " Regan mencoba menetralkan hati nya
"Tidak ada yang berbeda sama saja" jawabnya pura-pura ketus
"Iiihh padahal tadi rambut Bira teh udah di kriwil-kriwil dan Bira merasa cantik banget, tapi mas Regan malah bilang biasa aja" mengerucutkan bibirnya merasa kesal
"Lalu aku harus bilang apa" seperti biasa berucap dengan wajah datar tanpa ekspresi
"Coba bilang gini Neng Bira kok Neng Bira cantik banget sihh mas Regan jadi naksir Neng Bira " ucapnya sambil tertawa.
"Terus saja bermimpi"
****
Waktu terus berjalan tapi Regan belum mengijinkan Sabira pulang.
"Mas Regan, ini kenapa Bira teh ga pulang-pulang kasian atuh si ua ga ada yang bantuin"
"Aku sudah menghubungi rumah katanya tidak masalah"
"Kalo ibu sama bapak marah mas Regan tanggung jawab ya"
"Hemm"
"Kenapa Bira ga pulang sama pak Iwan lagi, kan kesininya juga sama pak Iwan"
"Pak Iwan sibuk mengantar papa ada meeting di luar"
"Ckk Bira jenuh, bosen"
"kau bisa main ponsel, bukankah dari tadi tadi ku lihat kau senang memainkan ponsel"Regan bicara tanpa melihat ke arah Sabira"
"Abis batre ponselnya" setelah terus bicara sepertinya Sabira merasa lelah
__ADS_1
Karna merasa tidak mendengar suara akhirnya Regan melihat ke arah Sabira,ternyata gadis cerewet itu sedang tidur.Regan menghampirinya dan membuka jas blazernya untuk di jadikan selimut,sambil terus menatap gadis di depannya.
"Ada apa denganku sebenarnya".
Setelah beberapa waktu akhirnya Sabira bangun,dan melihat dia memakai jas nya Regan sebagai selimut.Sabira malah cekikikan
"kenapa kau tertawa sendiri" Sebenarnya sedari tadi Regan tengah melihat Sabira.
"Ngga apa-apa, pantesan Bira teh tidurnya nyenyak da pake jas nya mas Regan jadi serasa di peluk mas Regan jadinya teh hehe..."
"Ehmm..." merasa gugup mendengar apa yang Sabira katakan
"Baru di selimut pake bajunya mas Regan aja Bira nyenyak tidurnya, gimana kalo di peluk beneran pingsan kaya nya"
"Kenapa pingsan ?"
"Karna terlalu bahagia, jiaahhhh....." Sambil menutup muka
"Kau sedang menggodaku ?"
"Mana ada menggoda kalo menggombal iya..." jawabnya sambil tertawa
"Ckk, dasar"
"Mas Regan pulang yukk Bira lapar" berbicara sambil memelas.
"Baiklah kita pulang,kita makan di luar saja karna makan malam masih lama"
"Traktirnya " dengan mata berbinar
"Tentu saja uangku banyak"
"Makannya jangan yang aneh-aneh Bira mah lidahnya lidah kampung ga cocok makan makanan yang aneh-aneh"
"Makanan aneh apa"
"Kan kalo di novel-novel yang Bira baca,Kalo perempuannya di ajak makan sama orang kaya selalu di bawa ke tempat yang romantis,restoran mahal gitu, yang makanannya sedikit tapi harganya mahal"
"Terus saja berkhayal,aku tidak akan membawamu ke tempat seperti itu"
"Bukan berkhayal tapi bermimpi masss, maksudnya mimpiin mas Regan jadi suami Bira...."
"Ckkk " Regan berdecak sambil tersenyum tipis
__ADS_1