
Waktu terus berjalan tak terasa kandungan Bira sudah menginjak tujuh bulan, Regan semakin posesif dan over protektif kepada Bira. Bira tidak boleh melakukan apa-apa dan harus menunggu Regan jika ingin keluar rumah. Keputusan Regan sudah mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat. Bahkan rengekan ratu ubur-ubur tidak pernah ia dengar, jika ia sedang bosan dan ingin bermain bersama dengan si tayo.
Semakin besar kehamilan Bira membuatnya menjadi sering merasa lapar, dan rasa laparnya itu datang di saat Regan merasa mengantuk, sungguh ujian yang luar biasa untuk si calon ayah. bagaimana pun caranya Regan pasti akan memberikan keinginan Bira walau itu tengah malam sekali pun.
Setiap malam Regan selalu waspada dia takut istrinya akan meminta sesuatu malam-malam seperti malam kemarin dia meminta membeli makanan ringan di sebuah mini market dua puluh empat jam. Dengan terpaksa Regan membelinya karena takut tidak bisa menengok anaknya. Namun setelah sampai ke rumah sang istri tercinta malah tertidur dengan nyenyak. Sungguh Regan merasa merana dan ingin mengunyah istrinya itu.
Jam sudah menunjukan jam delapan malam, seperti biasa Regan akan membuatkan susu untuk istrinya berharap istri dan anaknya tidak merasa lapar malam ini. "Bira minumlah susu nya dulu sebelum kamu tidur" Sambil menyodorkan segelas susu kepada Bira.
Bira pun langsung mengambil susu di tangan Regan dan langsung meminumnya
"Makasih mas, padahal Bira bisa bikin sendiri " ucap Bira
"Selama ada aku kamu cukup diam saja " Regan mencium kening Bira dan mengusap perutnya, satu tendangan terasa saat Regan menyentuhnya.
"Hey, dia menendangku apa dia sedang main bola di sana " Regan tersenyum bahagia
"Ga mungkin si dede main bola, orang Bira belum pernah beliin dia bola " jawab Bira
"Itu hanya ungkapan dasar kau...atau mungkin ?" Regan terlihat berpikir.
"Kenapa? " tanya Bira penasaran
"Di pasti ingin di jenguk oleh ku, dia pasti merindukan papanya " jawab Regan dengan wajah serius membuat Bira menjadi gemas kepada suaminya.
"Dikit-dikit minta di tengok ,si jeki di tendang sama si dedenya baru tau rasa " jawab Bira
"Dia tidak akan menendangnya, malah nanti di sana si jeki akan di ajak bermain olehnya " Bira hanya mencebikan bibir
"Boleh kan aku menengoknya " bujuk Regan
"Minggu kemarin kan udah ?" jawab Bira cuek
"Kamu sangat tega pada suamimu ini, sudah enam hari dia hanya terkurung tanpa bisa bermain-main" sambil melihat ke bawah, Bira menjadi tertawa melihat wajah suaminya yang merana. Itu karena dokter kandungan mereka membatasi tentang hubungan badan pasca hamil yang tidak boleh terlalu sering, karena itu bisa menimbulkan kontraksi palsu pada ibu hamil. Untuk itu sudah enam hari Regan tidak mendapat jatah dari sang istri.
"Kemarilah tuan kanebo kering " ucap Bira merentangkan tangannya kepada sang suami. Mendapat sinyal bagus Regan tidak membuang waktu dan langsung memeluk istrinya kecupan lembut mendarat di kening Bira. "Boleh aku melakukannya " ucap Regan dengam kening mereka sedang menempel kemudian hidung mereka bersentuhan dan bibirnya yang saling memagut. Ciuman yang penuh kehangatan dan rasa cinta dari Regan untuk Bira, Bira membalas ciuman suaminya dengan lembut. Setelah puas mereka melepaskan pagutan mereka. Dan malam panas pun mereka lalui malam itu, akhirnya malam Ini Regan dapat menjenguk anaknya dan si jek pun bisa bermain di sana.
Kini mereka berdua tidur terlelap karena kelelahan. Malam pun semakin larut dan semakin sunyi, penghuni rumah itu semuanya sudah terlelap di alam mimpinya. Regan yang hendak memeluk istrinya di tempat tidur merasa tempat yang biasa di tempati Bira kosong. Dia meraba -raba sisi tempat tidur dengan mata terpejam karena sangat mengantuk.
__ADS_1
Menyadari istrinya tidak ada di sampingnya Regan terbangun dan mencari istrinya, mungkin dia sedang di kamar mandi karena kandungannya yang semakin besar membuatnya menjadi sering ingin buang air kecil. Regan memeriksa kamar mandi namun Bira tidak ada di sana. Regan panik dan kemudian mencari Bira keluar kamar, saat turun ke bawah ruangan yang dia tuju adalah dapur namun belum sampai ke dapur Regan melihat Bira sedang makan buah-buahan di meja makan .
"Bira...." panggil Regan, mendengar ada yang memanggil Bira langsung menengok.
"Bira kamu sedang apa ?" tanya Regan
"Bira laper makanya Bira nyari makanan " jawab Bira
"Kenapa tidak membangunkanku "
"Bira kasian sama mas suami kayanya tidurnya nyenyak banget, ga tega banguninnya juga "
"Tidak masalah, justru aku khawatir kamu keluar dari kamar sendiri seperti ini " sambil mengelus kepala Bira
"Mas, Bira mau makan mie instan boleh ya pake rawit kayanya enak banget " rengek Bira
"Tidak.... " tegas Regan
"Dari sejak hamil Bira ga pernah makan mie instan lagi, Bira pengen udah kangen makan mie instan pake rawit "
"Baiklah kali ini saja, aku akan membuatkannya untukmu " Regan bangun dan hendak menuju dapur
"Biar Bira aja yang bikin "
"Duduk dan diamlah " perintah Regan Bira pun mengangguk dari pada suaminya nanti akan berubah pikiran dan tidak memberikan ijin makan mie instan yang dia idam-idamkan. Bayangan mie berkuah panas dengan taburan rawit merah sudah terbayang-bayang di benak Bira membuat air liurnya hampir menetes. Hingga aroma mie panas mulai tercium oleh Bira membuatnya tidak sabar ingin segera memakannya.
"Ini makanlah " Regan memberikan satu mangkok mie panas di meja makan dan Bira menyambutnya dengan senang.
"Makasih mas.... " Bira pun dengan senang menerimanya namun sedetik kemudian pandangannya berubah ke arah Regan. Regan yang melihat perubahan wajah istrinya langsung bertanya.
"Kenapa, apa ada yang salah? " tanya Regan
"Rawitnya mana? Bira balik bertanya
"Itu kamu tidak melihatnya "Regan menunjukan sepotong kecil rawit merah di atas mie
"Cuman sepotong ?" Tanya Bira heran
__ADS_1
"Iya...." jawabnya cuek
"Mana kerasa atuh...." Bira mulai kesal keinginannya tidak sesuai ekspektasi.
"Jangan terlalu pedas kasihan anak kita nanti kepedasan di dalam, bagaimana kalau dia mau minum" jawaban yang sangat aneh menurut Bira.
"Tambahin ya, satu aja " rengek Bira
"TIdak..... " ucap tegas si kanebo kering. Akhirnya Bira terpaksa memakan mie nya walau tidak sesuai dengan keinginannya.
Pagi pun telah tiba namun sepertinya ratu ubur-ubur masih kesal dengan mie instannya semalam, membuatnya irit sekali bicara membuat si tuan kanebo menjadi serba salah berbagai bujukan tidak mempan. Sampai akhirnya Regan mengajak Bira untuk belanja keperluan anaknya baru Bira menyahuti dan mulai tersenyum.
Kini mereka sudah berada di pusat perbelanjaan terbesar di sana. Bira dengan bahagia menggandeng tangan Regan, begitupun sebaliknya Regan bahagia istrinya sudah tidak marah lagi. Saat akan masuk ke toko perlengkapan bayi mereka di kejutkan dengan keberadaan Rama. Bira yang takut langsung bersembunyi di belakang punggung Regan.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" tanya Regan dengam wajah yang tidak bersahabat
"Tentu saja sedang mencari sesuatu untuk ku beli kau pikir sedang apa...." Pandangannya pun beralih kepada Bira. "Bira kau tidak perlu takut aku tidak akan pernah menganggumu lagi " ucap Rama
"Baguslah harusnya memang seperti itu " jawab Regan
"Aku minta maaf pada kalian terutama padamu Bira, maaf sudah membuatmu sampai masuk ke rumah sakit " ucap Rama tulus Bira pun mengangguk
"Aku akan menikah minggu depan aku harap kalian datang " ucap Rama membuat Bira dan Regan menatap Rama dengan tatapan terkejut.
"Memangnya kau mau menikah dengan siapa patrick, dengan nyonya kepiting atau dengan ikan buntal " ledek Regan
"Bicara apa kau aku tidak mengerti " jawab Rama, karena Rama memang tidak mengerti dengan ucapan Regan, tentu saja karena yang tau hanyalah Bira dan Regan saja tentang julukan si patrick yang di tujukan padanya.
"Sudahlah.... " ucap Rama tidak mau tau
"Kak liat bagusan yang mana yang kuning atau yang pink " ucap seorang gadis yang suaranya familiar di telinga Regan dan Bira.
"Timmy...... " ucap Regan dan Bira bersamaan
"Kalian mengenalnya.....? " tanya Rama heran
"Ku kira kau akan menikah dengan anak kepiting ternyata kau akan menikah dengan anak kam-bing " ledek Regan sambil tertawa
__ADS_1