
Setelah selesai membuat susu Regan langsung memberikannya kepada Bira " ini sayang susumu minumlah dan habiskan " Bira langsung mengambil susu dari tangan Regan dan meminumnya " makasih mas " Bira pun menghabiskan susu buatan suaminya dengan cepat
Sampai malam tiba Bira masih merasakan sesuatu yang tidak nyaman di perut dan pinggangnya. Sejak usia kandungan Bira tujuh bulan dia sudah sering merasakan sakit seperti ini, namun yang di rasakannya waktu itu tidaklah lama hanya beberapa menit saja.
Berbeda dengan apa yang ia rasakan sekarang, sakitnya terasa lebih sering dan rasa sakit yang lebih dari yang ia rasakan waktu itu. Regan melihat istrinya mondar-mandir di kamar dengan wajah yang terlihat cemas . "Bira ayo kita ke rumah sakit sayang " ajak Regan.
"Nanti dulu mas, mungkin ini kontraksi yang sering Bira rasain, soalnya ini sakitnya gak terus-terusan kadang ada kadang engga " Regan menarik istrinya kedalam pangkuannya secara pelan dan mengusap perutnya. Saat Regan mengusap perut Bira , Regan merasa perut Bira terasa lebih keras dan kencang. Regan yang melihat Bira meringis serta pegangan tangannya yang terasa erat di pundaknya tanpa bertanya dulu kepada istrinya dia langsung saja menggendong Bira dan akan membawanya ke rumah sakit.
Di bawah papa Anton dan mamah Rita serta Revan dan juga Yura sedang duduk menunggu, karena mendengar apa yang di ceritakan oleh Regan kepada mereka. Namun mereka bersikap tenang agar Bira tidk merasa panik dan takut menghaadapi persalinan pertamanya.
"Regan...." panggil mamah Rita
"Regan minta tolong mah tolong persiapakan keperluan Bira dan juga bayi kami, Regan tidak sempat menyiapkannya "ucap Regan minta tolong kepada mamah Rita.
"kamu jangan pikirkan itu , biar mamah yang menyiapkannya, sekarang cepatlah bawa Bira ke rumah sakit itu yang penting"
"Revan tolong antar aku, aku tidak bisa bisa menyetir sendiri "
"Baiklah ayo... " Revan langsung berdiri
"Yura Ikut om "
"Baiklah ayo cepat "
Kini mereka berempat sudah berada di dalam mobil, Revan dan Yura berada di depan sedangkan Regan dan Bira di kursi belakang .
__ADS_1
Bira terlihat meringis dan memegang erat tangan Regan, Regan hanya bisa mengusap perutnya dan mencium kening Bira dengan lembut. Berharap usapan tangannya di perut Bira mampu mengurangi rasa sakitnya, walau itu sebenarnya tidak mungkin.
"Revan apa kau tidak bisa lebih cepat lagi " ucap Regan yang panik melihat Bira kesakitan.
"Aku sudah cepat Regan, tenanglah karena keselamatan kita semua juga penting " jawab Revan berusaha tenang.
Regan hanya bisa mengembuskan nafas kasar, dia merasa ketakutan da dia juga merasa tidak tega melihat istrinya yang sedang kesakitan.
Kini mereka sudah sampai di rumah sakit, suster dan dokter sudah menunggu kedatangan Regan dan Bira karena perintah papa Anton yang sudah menghubungi mereka sebelumnya agar bersiap untuk kedatangan anak dan dan menantunya .
Bira langsung di baringkan dan kemudian di dorong ke ruang bersalin . Bira yang merasa ketakutan langsung memegang tangan Regan "jangan tinggalin Bira mas " ucapnya lemah
Regan langsung memegang erat tangan Bira " aku akan tidak akan meninggalkanmu sayang, tenang saja"
Revan dan Yura menunggu di luar ruangan namun Regan ikut masuk ke dalam. dokter bersiap untuk mengecek apa sudah pembukaan atau belum langsung mendapat teriakan dari Regan.
"Ma-maaf tuan Regan kami akan mengecek sudah pembukaan berapa nona Bira " ucap dokter. Usapan halus terasa di tangan Regan, Regan langsung melihat ke arah Bira yang menggelengkan kepalanya, agar tidak memarahi dokter dan suster di sana.
Regan mengatur nafasnya agar tidak emosi, bagaimana dia tidak emosi saat dokter itu memasukan tangannya kepada jalan lahir Bira hingga membuat Bira meringis kesakitan.
Dokter pun melakukan tugasnya dan mengatakan kalau Bira sudah memasuki pembukaan lima .
"pembukaan lima ? " tanya Regan
"Iya tuan, nona Bira masih harus menunggu "
__ADS_1
"Menunggu katamu, istriku sedang kesakitan dan kau bilang harus menunggu ....!!! " ucap Regan masih marah
"Iya tuan proses melahirkan normal memang seperti itu " ucap dokter merasa takut
Revan yang mendengar keributan langsung masuk dan mencoba menenangkan Regan. Revan tau bagaimana cemasnya Regan namun dia juga tidak boleh membuat dokter dan suster ketakutan agar mereka bekerja dengan baik .
"Regan sudahlah biarkan dokter bekerja dengan baik kau jangan memperkeruh keadaan, biarkan mereka bekerja dengan tenang sebaiknya kau temani Bira kasihan dia " bujuk Revan
"Mas...." panggil Bira, mendengar istrinya memanggil Regan langsung menghampirinya. Dokter di sana bisa sedikit tenang setelah ada Revan di sana, karena Revan bisa sedikit mengontrol emosi Regan.
"Ada apa sayang , bagian mana yang sakit " tanya Regan dengan wajah cemas.
"Semuanya sakit, tapi mas suami jangan marahin mereka kasian..." ucap Bira lemah, kini rasa sakitnya agak mulai berkurang jadi Bira bisa bicara .
"Maafkan aku sayang aku tidak bisa menolongmu dari rasa sakit ini, maafkan aku " Regan tertunduk sambil memegang tangan Bira yang mungil dan menciuminya. Namun rasa sakit itu datang lagi hingga Bira memekik " aaaakkkhhhh......" Bira langsung memegang erat tangan Regan . Melihat istrinya kesakitan Regan sangat frustasi. Dia tidak bisa berbuat banyak.
Hingga dua jam lamanya Bira masih belum melahirkan, tubuhnya sudah sangat lemas cairan infus sudah di pasang di tubuhnya bahkan dia sudah tidak sanggup bicara karena lemas. Bira baru memasuki pembukaan delapan. Air mata pun meleleh di pipi Bira dan Regan mengusapnya dengan lembut. "Sayang bertahanlah, demi aku dan anak kita, aku sangat mencintai mu aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. "Regan menghujani wajah Bira dengan ciuman. Seandainya Bisa biarlah dia yang merasakan sakit ini, jangan istrinya .
Tubuh kecil itu terbaring tidak berdaya tidak ada kata yang terucap dari mulutnya kecuali untaian doa yang Regan lihat dari gerakan bibirnya. Air mata Bira semakin derasa mengalir dari matanya yang indah hingga membuat Regan pun meneteskan air matanya melihat istrinya yang sudah sangat kesakitan. Hingga Bira sudah tidak bisa menahan kesakitannya lagi dan ia menangis dengan kencang.
Dokter pun memeriksa kembali dan ternyata pembukannya sudaah lengkap . Dokter langsung memposisikan kaki Bira para suster pun sudah bersiap dan memberikan aba-aba pada Bira untuk mengejan.
Regan semakin panik saja di buatnya, nafas Bira sudah terengah . "Ayo sedikit lagi nona, anda pasti bisa, sedikit lagi putra anda kan melihat dunia ini dan ada dalam pelukan anda, nona pasti ingin segera memeluknya kan " dokter itu memberikan semangat untuk Bira.
Hingga tarikan nafas terakhir Bira bayi itu keluar dengan selamat. Tangisan bayi memecah ruangan itu. Bira tersenyum mendengar suara bayinya begitupun Regan . Dia langsung memeluk dan mencium Bira. tangis dan haru pecah di hati Regan bagaimana perjuangan istrinya untuk melahirkan putra mereka ke dunia.
__ADS_1
Alhamdulillah neng Bira udah lahiran dengan selamat ya.....aku nulis ini sambil ngebayangin berada di posisi Bira yang berpikir akan mampu atau engga untuk melahirkan. I love you para mommy πππ ......
Yang udah berjuang melahirkan bua hatinya lahir ke duniaππ