
Matahari pagi mulai meyinari suara burung-burung berkicau terdengar saling bersahutan. Pagi ini sepasang pengantin baru masih menutup mata mereka, mungkin karna mereka terlalu kelelahan. Di luar orang sudah mulai ramai melakukan aktifitas pagi mereka.
Regan mulai membuka mata, sepertinya pemandangan pagi ini sangat indah di matanya. Saat matanya terbuka yang pertama kali di lihatnya adalah wajah cantik istrinya yang tidur terlelap di pelukannya. " Rasanya seperti mimpi aku menikah dengan ubur-ubur ini" Gumam Regan sambil mengecup kening istrinya. Sabira terlihat mengerjapkan matanya dan melihat ke arah suaminya.
"Pagi mas suami, kenapa liatin Bira, Bira jadi malu" dengan suara serak khas orang bangun tidur sambil menutup wajahnya dengan selimut tingkahnya itu membuat Regan gemas dan mencoba untuk menciumnya lagi. "Ihhh mas Regaaan, Bira malu belum mandi" Regan hanya terkekeh.
"Badan Bira sakit semua, mas" Keluh Sabira
"Sama tubuhku juga semua sakit karna ulahmu, lihat bekas cakaran dan gigitanmu, malam pertama aku malah di aniaya istriku" Sabira tertawa
"Habisnya Bira sakit banget, maaf ya"
"Tidak apa-apa aku juga merasa sangat bahagia, akhirnya ubur-ubur ini jadi istriku" Regan tersenyum membelai wajah Bira.
"Iya Raja Neptunus juga sekarang jadi suami Bira"
Mereka memutuskan untuk bangun, karna siang ini mereka harus pulang ke kota untuk mengadakan resepsi pernikahan mereka besok lusa. Sabira terlihat meringis membuat Regan khawatir karna seperti kesusahan untuk berjalan. Regan pun hendak menggendongnya namun Sabira menolaknya karna malu di lihat oleh orang tuanya.
"Benar tidak apa-apa ?" khawatir Regan
"Ngga pa pa Bira bisa jalan sendiri kok" Ucapnya sambil meringis dan mencoba untuk bangun.
Setelah mereka membersihkan diri, kini mereka sedang duduk di meja makan untuk sarapan bersama orang tua Sabira.
"Nak Gagan malem ga di apa-apain kan sama Bira, soalnya malem emak denger suara nak Gagan teriak" Mendengar itu wajah Regan langsung memerah.
"Ngga bu" Ucap Regan menahan malu, ini menjadi poin penting bahwa nanti setelah sampai ke kota dia harus membeli rumah, agar dia tidak menahan malu ketika hendak bangun pagi. Takut jika nanti istrinya bar-bar dan dia tidak bisa menahan suara jika sedang melakukannya.
"Ihh emak kok nanyanya gitu, yang di apa-apain itu anak emak bukan menantu emak." Ucapan Bira spontan membuat Regan tersedak.
uhuk
uhuk
uhuk
Wqjah Regan sudah sangat merah karna terus terbatuk. Sabira pun sigap memberi Regan air minum.
__ADS_1
"Ini mas minum dulu, makanya kalo makan itu berdoa dulu terus pelan-pelan jadi ga tersedak kaya gitu"
Regan langsung melihat ke arah Sabira" Ini semua karna mendengar ucapanmu ubur-ubur bikin botom" Tentu saja Regan mengucapkannya dalam hati karna di situ ada orang tua Sabira.
"Ini teh karna kamu Neng, dasar ya kamu mah" Ucap emak.
"Sama emak juga" Timpal abah
"Ehhh"
Setelah selesai sarapan, Bira dan Regan pun hendak bersiap-siap untuk kembali ke kota. " Emak sama abah mau berangkat bareng sama Bira sekarang ga ?"
"Abah mah besok saja sama emak, barengan sama keluarga yang lain" Jawab abah.
"Iya, emak juga mau beresin ini dulu sedikit lagi biar tenang pas berangkat teh"
"Oh ya udah atuh, nanti telpon Neng ya kalo mau berangkat"
"Iya nanti abah hubungin Neng kalo abah sama emak mau berangkat" Jawab abah.
"Jadi istri yang baik ya Neng, jangan malu-maluin emak sama abah, harus berbakti sama suami jangan cerewet jangan joged-joged tuk-tuk lagi sekarang mah malu udah punya suami ya dengerin nasihat emak" Ucap emak sebelum Bira pergi
"Iya pokoknya itu" Timpal emak.
"Jangan manja lagi ya Neng sekarang mah udah punya suami, nak Regan tolong jaga Sabira ya abah titip anak abah satu-satunya sama nak Regan, cintai dan sayangi anak abah."
"Neng jadi sedih ninggalin emak sama abah" Ucap Bira hendak menangis.
"Jangan nangis atuh anak abah teh gimana udah punya suami teh masih cengeng" Sambil memeluk Bira dan mengusap kepalanya.
"Jaga diri baik-baik ya Neng" emak pun ikut sedih.Setelah berpamitan Regan dan Bira pun berangkat. Mobil pun kini berjalan meninggalkan rumah Bira. Bira terus melihat ke belakang melihat kedua orangtuanya. Sedih pastinya yang dia rasakan, dia harus meninggalkan orangtuanya dan sekarang dia harus menjalani rumah tangganya sendiri.
"Nanti Bira boleh ga kalo sering main kesini" Ucap Bira sedih.
"Tentu saja" Sambil membelai rambut istrinya dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
****
__ADS_1
Di sebuah rumah mewah di perumahan elite rumah keluarga Wijaya. Rama tampak mengepalkan tangannya meremas undangan yang di kirimkannya dari keluarga Maheswara.
"Sabira, ternyata benar kamu menikah dengan Regan" Lirihnya.
"Di saat aku ingin sekali mengenalmu kamu malah menikah dengan orang lain" Rama bicara sendiri
"Siapa yang menikah dengan orang lain" Ucap papanya Rama datang tiba-tiba.
"Bukan siapa-siapa" Balas Rama dingin Papanya Rama langsung melihat undangan keluarga Maheswara. "Jadi Regan Maheswara menikah, ternyata pemuda dingin itu menikah ini sangat lucu, gadis mana yang membuatnya ingin menikah" Ucap papa Rama bertanya.
"Gadis yang sudah membuat putramu ini jatuh cinta dan patah hati di saat bersamaan" Papanya Rama hanya tertawa.
"Ternyata anakku juga bisa jatuh cinta, dengan istri orang maksudmu, jangan bercanda Rama ini tidak lucu"
"Aku tidak bercanda yang aku rasakan ini nyata pah"
"Hahhh, lalu kamu mau apa dia sudah menjadi istri orang, apa kamu ingin merebutnya begitu?" Papa nya bertanya mengangkat alis
"Kenapa tidak, kalau aku bisa merebutnya akan aku lakukan" Ucap Rama serius.
"Terserah kamu saja, papa tidak akan ikut campur" Papanya Rama meninggalkan Rama sendirian. Terbiasa selalu mendapatkan apa yang ia inginkan,membuat Rama merasa tidak terima jika gadis yang di inginkannya di miliki orang lain.
"Akan ku selidiki dulu, Regan Maheswara" Mengepalkan tangannya marah.
***
Hari menjelang sore Regan dan Bira pun sudah sampai di kediaman Maheswara "Bira cape banget mas, kok rumah sepi pada kemana?"
"Mamah lagi di hotel ngurusin resepsi besok, papa sama Revan mungkin masih di kantor, kita istirahat saja dulu" Bira pun menganggukan kepala dan langsung pergi ke kamar.
"Hey ubur-ubur kamu mau kemana?" Tanya Regan heran
"Bira mau tidur, Bira cape "
Regan langsung menghampiri Bira kemudian menggendongnya. "Sekarang kamarmu bukan di sana tapi di atas bersamaku " Tersenyum sambil menggendong Sabira ke kamarnya.
"Bira jalan aja atuh jangan di gendong malu"
__ADS_1
"Tidak apa-apa tidak ada orang" Jawab Regan sambil terus menggendong Bira ke kamarnya, Regan tidak tega melihat Sabira berjalan tertatih seperti kesakitan
Jangan lupa terus dukung ya biar semangat updatenya 😊😘 dapat amanat juga dari Neng Bira katanya minta like, komen vote dan hadiah ya. Hitung- hitung buat kado pernikahanNeng Bira dan maa Regan