
Agreta memutuskan untuk kembali pulang ke rumah saja.tapi ketika hendak melewati sebuah mall Agreta merubah pikirkan nya dan memutuskan untuk mampir sebentar di mall tersebut.
Setelah memarkir mobilnya di tempat parkir Agreta segera masuk kedalam mall. "Lumayan cuci mata bentar." ujar
Agreta dalam hatinya,dia pun berkeliling sebentar hingga Agreta melihat sebuah toko perhiasan dan itu menarik perhatiannya.
Ketika Agreta hendak memasuki kedalam toko perhiasan itu dia terdiam. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri dan sakit.di dalam toko itu Agreta melihat sang suami sedang memilih perhiasan tapi tidak sendirian ada wanita cantik di sampingnya, wanita yang sama ketika di dalam Carrefour dulu dan itu membuat hati Agreta hancur.
Agreta segera balik badan dan menjauh dari tempat itu.Agreta mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.
Agreta melangkahkan kakinya dengan cepat.pikirannya terasa kosong hingga di sadarkan bunyi handphonenya.
Agreta langsung menjawab panggilan itu setelah melihat nama Penelpon. "Halo ska." suaranya terdengar lirih menahan tangis. Siska yang mendengar suara sahabatnya itu langsung mengerti bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
"Geta kamu di mana biar aku samperin ya.Tunggu aku dan jangan kemana-mana!." Siska langsung bersiap untuk bertemu dengan Agreta Setelah mendengar jawaban Agreta Siska pun langsung menuju tempat Agreta.tapi sebelum itu Sika menghubungi Freya dan mengabarkan kondisi Agreta.mereka berdua janjian langsung bertemu di sana.
Siska dan Freya hampir bersamaan tiba di mall tersebut.mereka berdua langsung menuju ke tempat yang di sebutkan Agreta.di sebuah cafe coklat yang ada di dalam mall.
Setelah sampai di cafe coklat Siska dan Freya langsung melihat Agreta yang sedang duduk tertunduk sambil mengusap air matanya. Mereka berdua langsung menghampiri sahabatnya dan memeluknya erat.hati Siska dan Freya merasa sedih melihat kondisi sahabatnya.
Agreta menangis dengan isakkan yang tertahan,bahunya naik turun karena menagis. Setelah tangis Agreta redah mereka pun melepaskan pelukannya. "Geta ,kamu kenapa,? apa kamu bertengkar dengan Patria?" tanya Siska sambil menatap mata Agreta. Setelah Siska duduk di sampingnya Agreta. Hanya Anggukan kepala yang di berikan Sahabatnya tanda mengiyakan pertanyaan Siska.
"Ada masalah apa sampai kalian bertengkar?" tanya Siska sekali lagi kepada Agreta.
"Aku.,aku....di tuduh selingkuh sama Patria." dengan suara terbata-bata Agreta mengatakan duduk permasalahannya.
"APA..?"
Kedua sahabatnya sontak terkejut mendengar ucapan Agreta.
"Tuduhan macam apa itu? itu tidak mungkin." ujar Siska dengan agak emosi.Freya pun hanya bisa terdiam geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu,? apa alasannya Patria menuduh mu selingkuh, Geta apa dia punya buktinya?" Siska melanjutkan perjalanannya tiga sekaligus.
"Kata Patria dia punya bukt..."
Belum selesai kata-kata dari Agreta sosok yang di bicarakan lewat di hadapan mereka yang hanya di batasi dinding kaca. Freya dan Siska langsung ternganga diam memandangi Patria yang baru saja lewat di hadapan mereka tapi yang membuat mereka lebih terkejut lagi Patria tidak sendirian ada wanita di sampingnya sambil bergandengan tangan.
Kepala Agreta terdunduk sedih airmata kembali mengalir. Siska dengan sigap langsung berdiri hendak menghampiri Patria tapi langkahnya terhenti karena tangannya di tahan oleh Freya.
"Lepas!" ujar Siska meminta tangganya dilepas oleh Freya.
"Biar ku hajar pria brengsek itu!" sambung Siska dengan suara penuh emosi. Freya menggeleng kepalanya sambil memberi kode lewat matanya menunjuk Agreta.
Siska kembali duduk di kursinya dengan menahan amarah.
"Geta apakah kamu tahu soal ini?" akhirnya Freya bertanya.
"Iya,aku sudah pernah melihat mereka berdua." Agreta memberikan jawaban nya . "Dia yang selingkuh tapi menuduh kamu yang berkhianat,? astaga!" Siska berujar dengan frustasi. "Sekarang kamu tenang dulu ya,kita cari jalan keluarnya sama-sama.Kami akan selalu bersamamu,ingat itu." ujar Siska mengingat Agreta bahwa dia tidak sendirian.
Perkantoran yang megah di dalam ruangan yang didesain minimalis Patria Sigara masih di sibukkan dengan kerjaannya yang menumpuk setelah beberapa hari tidak kekantor.
Tok...tok tok...
Pintu ruangan Patria di ketuk oleh seseorang orang.
"Permisi pak."Jeje sekretaris Patria masuk setelah mendapat perintah dari bossnya.
"Ini pak ada paket buat bapak tapi seperti yang kemarin nggak ada nama pengirimnya" ujar Jeje menjelaskan.
"Baiklah, letakan di atas meja aja.Kamu boleh keluar." jawab Patria. Jeje langsung meletakan amplop coklat besar yang di bawah nya di atas meja Patria. dan langsung keluar dari ruangan bossnya.
Patria langsung meraih amplop coklat yang baru saja diberikan oleh sekretaris nya. Patria mengeluarkan isi amplop tersebut di dalamnya terdapat lembaran-lembaran foto sang isteri bersama pria lain.dan kali ini foto prianya berganti wajah pria lainnya.
__ADS_1
Patria merasa geram hingga mengepalkan tangannya sangat kuat rahangnya tertutup rapat dan ekspresi wajahnya sangat menyeramkan.
Patria langsung berdiri dan keluarga dari ruangan nya sambil membanting pintu dengan keras.
Baaanggg.....
Pintu tertutup dengan kencang karena di banting Patria membuat sekretaris Jeje terperanjat sangking terkejutnya.Jeje melihat wajah bossnya tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelan sampai di depan meja sekretarisnya Patria memerintahkan kepada Jeje untuk membatalkan semua meeting hari ini dan Paria segera berlalu setelah memberikan perintah tersebut.
Patria langsung menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung kantor nya.dengan terburu-buru Patria mengendarai mobil.di tengah jalan Patria beberapa kali melewati lampu merah.pengendara yang lain sempat memaki nya tapi Patria tidak memperdulikannya. Patria hanya fokus agar bisa sampai di rumah.yaa..Patria pulang ke rumah dengan emosi yang tinggi ada kemarahan dan sakit di hatinya.
Sementara itu di rumah Agreta masih berdiam diri didalam kamarnya.pikirannya melayang binggung harus berbuat Agreta memegangi perutnya yang rata.beberapa kali Agreta menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan kasar.ada butiran bening mengalir di sudut matanya.
Beberapa saat kemudian Agreta mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah.Agreta langsung bangkit dari tempat tidur menuju jendela kamarnya melihat' siapa yang datang.
Ada rasa senang dalam hatinya akhirnya suaminya pulang ke rumah juga.buru-buru Agreta keluar kamar menuju tangga hendak turun kebawa ingin menyambut suaminya.
Tapi setibanya di tangga Agreta melihat ekspresi wajah suaminya hatinya menciut.ada rasa takut tiba-tiba masuk di jiwanya.Agreta merasa ada yang salah disini pasti terjadi sesuatu.
Dan benar saja baru sampai di lantai dasar Patria langsung meraih tangganya dengan kasar.menyeretnya sampai keruang tengah.
"Apa masih kurang kah selingkuhan mu,?apa tidak cukup satu orang saja!" ujar Patria sambil berteriak.
"Apa dua orang tidak cukup memuaskan mu ranjang hingga kamu menambah koleksi selingkuhan mu AGRETA SINOVAS?" Patria semakin meninggikan nada suaranya.
Bersambung
__ADS_1