AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 38 KEGUSARAN PATRIA


__ADS_3

     Patria mendekati Anggie yang masih terduduk di lantai. Dan sekali lagi patria mencengkram dagu Anggie.


"Dengarkan aku baik-baik,aku Patria TIDAK pernah bermain-main dengan ancaman ku,! jika kamu masih menyayangi hidup mu maka lupakan aku.Mulai detik ini anggap kita tidak saling mengenal kau mengerti ANGGIE," ucap Patria panjang lebar sambil menatap lekat kearah wajah Anggie.Setelahnya Patria melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


"Tapi Patria aku mencintaimu." ungkap Anggie.Anggie ingin menarik simpati Patria. "Mencintai ku?_ Patria bertanya sambil tersenyum sinis.


"Apakah kamu berharap bahwa aku juga bisa mencintaimu?" tanya Patria sambil memicingkan kedua matanya.


   Anggie yang mendengarkan perkataan Patria ada secercah harapan dalam hatinya. Anggie berharap dengan mengungkapkan perasaannya Patria akan luluh hatinya.Dengan penuh kepercayaan diri anggie memberikan jawabannya. "Iya Patria aku mencintaimu,dan aku menginginkan mu." Patria pun langsung tertawa dengan nada sinis mendengar pengakuan Anggie. Patria menatap Anggie dengan tatapan merendahkan.


"Hei, segera bangun dari mimpi mu..! jangan pernah berpikir aku akan jatuh cinta padamu, bercermin lah.Lihat dirimu, istri ku jauh lebih sempurna dibandingkan dengan dirimu.Hanya ISTRI ku, wanita  satu-satunya yang mampu menyentuh hati ku. Sedangkan kamu," Patria menujuk langsung wajah Anggie sebelum melanjutkan kalimat berikutnya. "Kamu, TIDAK akan pernah bisa menggantikan posisinya di hatiku." Kalimat panjang yang di ucapkan oleh patria penuh dengan kata-kata hinaan buat Anggie. Membuat Anggie merasa buruk. "Aku jauh lebih baik di bandingkan dengan istri mu itu!!" ucap Anggie.Anggie tak terima jika dirinya di sebut kalah jika dibandingkan dengan Agreta. "Wanita murahan itu  dia tak pantas untukmu patria!" sambung Anggie lagi dengan nada percaya diri. Patria yang mendengarkan bahwa Anggie menghina Agreta istrinya, kembali murka.


Plakk....


Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi mulus Anggie dan berhasil meninggalkan jejak gambar  berwarna merah dengan tanda lima jari.


"Bukankah aku sudah pernah  mengatakan padamu, jangan pernah menyebut istri ku dengan kata-kata yang koto.,Apa lagi kata-kata itu keluar dari mulutmu, kamu jauh lebih TIDAK pantas berada disisi ku!" Patria kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya kepada Anggie. "Dan satu lagi jangan pernah kau coba menyentuh istri ku, sedikit saja kamu menyentuhnya akan ku buat hidup mu seperti di neraka ." Kembali Patria memberikan peringatan kepada Anggie.


    Anggie yang mendengarkan ucapan Patria membuat hatinya sakit, benar-benar sakit. selama ini belum pernah ada satupun laki-laki yang menolaknya.Apa lagi sampai menghinanya.


   Hati Anggie benar-benar terluka.harga dirinya di hancurkan oleh Patria, sehancur-hancurnya.Kebencian Anggie terhadap Agreta semakin dalam.Anggie tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia di kalahkan oleh seorang yang bernama Agreta.Tekatnya semakin bulat untuk menghancurkan Agreta.Anggie masih yakin akan rencananya untuk terus memfitnah Agreta.


  Anggie berusaha menggenggam tangan Patria, mencobah menahan Patria agar tidak pergi meninggalkan dirinya. Tapi Patria yang sadar tangganya di sentuh oleh Anggie langsung  menepisnya dengan kasar  membuat Anggie kembali meringis kesakitan.


"Ahhggg...


"Sakit Patria." Anggie mengusap tangannya yang barusan di tepis oleh Patria.

__ADS_1


   Setelah selesai menumpahkan amarahnya Patria langsung pergi meninggalkan Anggie. Patria tidak menghiraukan teriakan panggilan Anggie pada dirinya.pikiran Patria saat ini adalah secepatnya pergi dari apartemen milik Anggie dan kembali ke rumah sakit bertemu dengan istrinya.


   Anggie menangis bukan karena sakitnya  tamparan Patria,tapi hatinya benar-benar merasakan sakit karena hinaan yang dia terima dari Patria.


    Sesudahnya Patria kembali ke rumah sakit.sebelum sampai di rumah sakit patria sempat mampir ke toko buah membelikan buah kesukaan istrinya.


  Setibanya di rumah sakit  dengan senyuman Patria menujuh ruang tempat Agreta di rawat.Tapi sebelum mencapai ruangan tersebut Patria melihat Siska dan seorang laki-laki baru saja keluar dari ruangan Agreta.


"Siapa laki-laki itu?" Patria bertanya dalam hatinya.Belum lagi pertanyaannya terjawab.Siska sudah langsung menyapanya.


"Hai Pat,kita pulang dulu ya.Titip Geta," ujar Siska setelah berpapasan dengan Patria. Patria hanya tersenyum kaku.


Patria terus melangkah tapi pikirannya sibuk menebak siapa pria tadi yang bersama siska,apa urusannya, kenapa pria itu menemui istrinya?" Pertanyaan ini membuat patria sakit kepala.


    Setelah sampai di ruangan Agreta patria langsung menyapa istrinya dengan  berusaha memasang senyum di wajahnya. "Hai sayang,gimana keadaan mu saat ini, apa ada yang sakit?" tanya Patria.membuka obrolan dengan istrinya. "Aku baik Pat kamu baru pulang?" tanya Agreta setelah melihat jam. "Meetingnya gimana berjalan lancar?" Sekali lagi Agreta bertanya. Patria tidak menjawab pertanyaan istrinya tapi meminta ijin untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah membersikan diri dan mengganti pakaiannya Patria segera duduk di kursi samping istrinya. "Geta kamu nggak istirahat sayang? tadi aku sempat ketemu sama Siska di jalan" ujar Patria. "Oh sempat ketemu Siska, Siska tadi datang bersama Gio.Gio itu seorang pengacara," ucap Agreta. "Jadi nama nya Gio," Patria berucap dalam hatinya.tapi,


Deegg...


"Pengacara? Apakah Geta yang meminta pengacara itu datang untuk mengurus perceraian?" Patria membatin. 


   Patria hanya tersenyum kecut mendengar ucapan istrinya, hatinya kini sedang berperang dengan pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu apa jawabannya. "Geta, sekarang kamu istirahat dulu ya pasti cape habis ngobrol dengan Siska," Patria pinta pada istrinya. Agreta pun menuruti permintaan Patria.dalam sekejap Agreta tertidur.


     Bukannya Patria ikut beristirahat,tapi justru sibuk memikirkan cara bagaimana membujuk istrinya untuk membatalkan niatnya bercerai dari Patria.


    Hati dan pikirannya Patria sungguh sangat gelisa.duduk tak tenang tidur pun tak bisa.yang Patria lakukan saat ini hanya mondar-mandir di dalam ruangan dan mbo Nem memperhatikannya.tapi meskipun mbo Nem tahu kalau tuan sedang gelisah mbo Nem tidak berani bertanya.karena takut di bilang ikut campur urusan  tuannya.

__ADS_1


   Malam pun tiba, kegelisahan Patria pun belum hilang.sikap Patria yang berubah menjadi lebih diam mengusik ketenangan Agreta.


"Patria, kamu kenapa,? Ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Agreta.


"Ha..


Kata ini yang pertama keluar dari mulut Patria.jujur Patria terkejut mendengar pertanyaan istrinya. "Aku baik-baik saja," jawab Patria asal. "Patria bukan itu pertanyaan aku," Ucap Agreta.Agreta sadar bahwa Patria suaminya kini sedang tidak fokus "Pat,kamu kenapa,ada apa? apa yang sedang kamu pikirkan?" Pertanyaan beruntun langsung di lontarkan oleh Agreta,membuat Patria semakin binggung menjawabnya. "Aku baik-baik saja sayang,aku hanya lagi pusing dengan urusan kantor."Ujar Patria berbohong. "Kamu yakin?" Sekali lagi Agreta bertanya.pasalnya Agreta ragu dengan jawaban yang di berikan Patria.


"Iya Geta aku hanya lagi mikirin urusan kantor." Dengan tersenyum palsu patria berusaha meyakinkan Agreta.


"Pat kamu sudah makan belum,ini sudah hampir lewat jam makan malam?" Agreta mengingatkan Patria.Pasalnya sedari tadi Agreta tidak melihat suaminya menyentuh makanan.


"Aku nggak lapar sayang.Tadi pas pulang aku sempat mampir dulu untuk makan soalnya pas di jalan perut ku tiba-tiba merasa lapar." Sekali lagi patria berbohong. "Sekarang tidur ya,kamu istirahat," ucap Patria,dia tidak ingin istrinya terus melihat kegusarannya.


"Kamu juga istirahat besok harus kekantor kan?" kata Agreta. Patria pun menghampiri istrinya dan memberikan ciuman pengantar tidur di kening Agreta.


Patria akhirnya tertidur setelah kelelahan dengan kegelisahannya.


  Hari ini Agreta cukup panjang berbicara dengan patria suaminya,dan hari ini Agreta menunjukkan kekhawatirannya pada suaminya.


   Agreta sedang belajar berdamai dengan dirinya,belajar menerima bahwa bayinya tidak akan kembali.


Setelah mendengarkan cerita dari siska dan Freya berkali-kali Agreta mencoba untuk memaafkan Patria. Agreta menerima bahwa Patria dan dirinya adalah korban dari fitnah.Meskipun dirinyalah yang paling merasakan sakit atas fitnah tersebut.Secara perlahan Agreta mencoba menyingkirkan rasa kecewanya pada Patria.dan mencoba menyebutkan luka hatinya.


 Bersambung....


    

__ADS_1


__ADS_2