AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 52 AWAL KEHANCURAN


__ADS_3

      Dengan hari penuh kegembiraan Anggie mengendarai mobilnya, terkadang Anggie ikut bersenandung kecil mengikuti lagu yang di dengarkan lewat radio. Setibanya di lokasi pengambilan gambar, Anggie segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang telah di sediakan.


    Seperti biasa Anggie melangkah kaki dengan gaya angkuhnya, dengan posisi dagu terangkat. Semua mata orang-orang yang berada di sana langsung terarah menatap Anggie. Dengan gaya sombongnya Anggie mengulum bibirnya memberikan sekilas senyum. Tapi senyum Anggie berubah seketika, tak kala dia menatapi setiap mata orang yang memandang dirinya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. 


     Biasanya ketika Anggie datang ke lokasi pemotretan Anggie langsung di sambut dengan sapaan akrab, kata-kata pujian untuk dirinya  ikut terlontar dari para model lainnya , tapi hari ini semuanya terasa berbeda. Jangankan pujian sapaan ramah yang biasa menyambutnya pun tak ada. Berganti dengan tatapan tak suka, bahkan ada yang menatap Anggie dengan tatapan "jijik..?" 


    Tapi Anggie tetaplah seorang Anggie. Meskipun dia menyadari perubahan itu, Anggie terus melangkah dengan angkuhnya. Anggie tidak peduli dengan tatapan mata tak suka dari model yang ada di situ.


      Anggie segera menuju ke ruang ganti, untuk mengganti kostumnya. Setibanya di dalam ruangan tersebut di dalamnya sudah ada tiga orang model yang sudah selesai di dandani lengkap dengan kostum sesuai dengan tema pemotretan hari itu. 


     Mereka bertiga setelah melihat siapa yang barusan masuk langsung berdiri dan melangkahkan ingin keluar dari ruangan tersebut.Hal itu membuat Anggie tak nyaman. Sebelum orang terakhir mencapai pintu keluar, dengan cepat Anggie meraih tangan model tersebut. Dengan tatapan mengintimidasi Anggie bertanya,


"Ada apa?" Tapi bukan jawaban yang di terima oleh Anggie, tapi justru tangannya dihempaskan dengan kasar oleh model tersebut, model itu balik menatap Anggie dengan tatapan sinis. 


      Setelah model itu pergi Anggie duduk sendirian di dalam ruangan tersebut.  Saat ini Anggie merasa binggung dengan perubahan keadaan yang dia alami. Anggie tak tahu harus berbuat apa, karena Anggie tidak tahu kostum yang mana yang akan dia kenakan saat itu.


     Setelah duduk beberapa saat dalam ruangan itu, tak ada seorang pun yang datang menghampiri Anggie.  Anggie pun memutuskan untuk mencari tahu kostum mana yang akan dia kenakan dan siapa yang akan meriasnya.


     Setelah keluar dari ruangan tersebut Anggie lebih dulu mencari fotografer yang bertugas saat itu. Setelah sampai di ruang pemotretan Anggie sedikit di kejutkan oleh apa yang di lihatnya. Pemotretan sudah di mulai tanpa dirinya.


     Fotografer yang melihat kehadiran Anggie menatapnya dengan tatapan binggung. Fotografer itupun langsung menghampiri Anggie dan berkata,


"Anggie kenapa kamu ada di sini?" tanya binggung. "Bukannya hari ini saya ada jadwal pemotretan?." Anggie balik bertanya. "Jadwal pemotretan mu sudah di batalkan, apakah kamu tidak mengetahuinya?" tukas fotografer tersebut. "Di batalkan?, tapi saya tidak mendapatkan informasi tersebut," jawab Anggie binggung.

__ADS_1


"Di mana asisten pribadi mu, apakah dia tidak memberitahu kan pada mu?" tutur fotografer. "Dia belum menghubungi ku," jawab Anggie. "Kalo begitu kapan jadwal pemotretan saya?" tanya Anggie percaya diri. "Jadwal apa,? semua jadwal mu sudah di batalkan semuanya.Itu yang saya tahu." Fotografer itu memberi tahukan apa yang dia tahu. "Ha,..apa,? Tapi kenapa?" tanya Anggie binggung.


"Sebaiknya kamu hubungi asisten pribadi mu dan tanyakan langsung padanya. Di sini saya hanya bertugas untuk pengambilan gambar," tutur fotografer tersebut.


     Semua model yang ada dalam ruangan tersebut menatap Anggie dengan tatapan tak suka. Mereka merasa kehadiran Anggie sudah mengganggu suasana tempat itu.


    Sebelum pergi Anggie menyempatkan diri untuk bertanya di mana Yuke sahabatnya dan Furre musuhnya.


"Di mana Yuke dan Furre, dari tadi saya tidak melihat mereka ada di sini?" tanya Anggie. "Mereka berdua sedang melakukan pemotretan khusus, jadi mereka tidak ada di sini," jawab fotografer tersebut dengan nada mulai ogah-ogahan.


"Maksudnya?" tanya Anggie penasaran.


"Furre dan Yuke sedang melakukan pemotretan edisi khusus, dan itu tentang prodak berlian," jawab fotografer tersebut dengan nada mulai jutek. "Bukannya itu harusnya aku yang menjadi modelnya!" ucap Anggie tak percaya. "Aduh Anggie, sebaiknya kamu hubungi asisten pribadi mu ya, dia bisa memberikan penjelasan atas pertanyaan mu.Sebaiknya kamu pergi ya, kamu sudah membuat mood model lainnya terganggu," jawab fotografer tersebut dengan tampang mulai tak suka. Pasalnya pekerjaannya jadi tertunda karena Anggie masih saja mengganggu dengan pertanyaan yang bukan kapasitasnya untuk menjawab.


    Marah!, Jelas Anggie sangatlah marah. Dia di usir dari tempat itu di hadapan banyak orang, harga dirinya terluka. Anggie mengepalkan kedua tangannya erat di samping tubuhnya. Dalam hatinya berjanji akan membalas perlakuan fotografer tersebut suatu saat nanti. 


    Anggie pergi setelah mendengar kalimat pengusiran itu. Anggie sadar jika saat ini dia berbuat kegaduhan akan fatal akibatnya. Namanya akan tercoreng dan Anggie tidak menginginkan hal itu terjadi. 


    Anggie segera keluar dari lokasi pemotretan, namun sebelumnya Anggie menghubungi asisten pribadinya lewat benda pipih miliknya.


Tut....tut...


Bunyi nada tersambung.

__ADS_1


"Halo Anggie," jawab asistennya Anggie.


KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKAN PADA KU KALAU JADWAL PEMOTRETAN KU DI BATALKAN?" teriak Anggie menggila setelah panggilan teleponnya di jawab. 


   Asisten pribadinya langsung menjauhkan handphone miliknya dari telinganya. Dia tidak ingin menjadi tuli karena teriakan Anggie.


"Sial," ungkap asisten pribadi Anggie dalam hati. "Anggie, tadi pagi sampai siang aku sudah mencoba menghubungi mu. Aku bahkan sudah mengirimkan beberapa kali pesan padamu," jawab asistennya Anggie.


"Hei..... harusnya itu bukan menjadi alasan untuk mu. Kamu aku bayar untuk menjadi jongos ku, seharusnya kamu lebih berusaha lagi untuk mengingatkan ku PAHAM!," teriak Anggie di akhir kalimatnya.


    Asisten Anggie menarik nafas dalam mencoba untuk bersabar. Bukan kali ini dirinya di caci-maki oleh Anggie.


"Aku sudah berkali-kali menghubungi mu, tapi handphone mu selalu sibuk. Aku sudah mengirimkan pesan padamu, apakah kamu tidak membacanya?" tutur asisten dengan nada suara di buat senatural mungkin, meskipun saat ini dirinya sedang mengepalkan tangannya erat.


"Hei jogos tak tahu diri, kamu menyalakan ku Ha!, Tanpa aku kamu tidak bisa makan tahu!" balas Anggie dengan kata-kata yang lebih tajam menghina asistennya. Jelas Anggie kembali berteriak.


  Mendengar ucapan Anggie yang kembali menghinanya, sang asisten sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Dirinya merasa sudah cukup dia menerima perlakuan Anggie selama ini. Cukup sudah penghinaan dan caci maki yang dirinya terima. 


"HEI...! nona Anggie yang terhormat, dengar baik-baik ya. Kamu pikir kamu bisa mendapatkan kemewahan mu itu hanya hasil kerja mu saja!, di sana ada juga kerja keras ku. Kamu pikir semua orang bersikap baik padamu karena keberhasilan mu,? kamu salah. Akulah yang meminta mereka untuk memperlakukan mu dengan baik. Dan saat ini nona Anggie dengarkan baik-baik sekali lagi. Mulai saat ini, detik ini saya bukan asisten pribadi mu. Aku mengundurkan diri.Jangan pernah menghubungi ku lagi DENGAR..!" balas sang asisten tak kalah sengit dan tajam.


      


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2