AKU MASIH MENCINTAI MU

AKU MASIH MENCINTAI MU
Bab 13 MENYERAH


__ADS_3

Siska merasa tak puas dengan jawaban mbo Nem. "Coba sekarang mbo telpon Patria sekali lagi!" ujar Siska dengan nada mulai kesal. Mbo Nem pun mencoba menghubungi Patria sekali lagi. Tapi hasilnya sama.tidak ada jawaban. "Non telpon tuan Patria mati,nggak bisa di hubungi," ujar mbo, setelah mencoba menelpon Patria lagi.


"Haaaaah!"


Terdengar hembusan nafas dari mulut Siska, ingin sekali Siska memaki saat itu juga tapi di tahannya.


  Waktu berjalan terasa sangat lambat. Siska melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 20:30 malam.


"Mbo, ini sudah malam sebaiknya mbo pulang ya istirahat," usul Siska pada mbo Nem.


"Bagaimana deng non Agreta?" balas si mbo. "Tenang aja mbo di sini ada dokter dan perawat yang berjaga 24 jam..mbo ga usah khawatir ya." Freya ikut meyakinkan mbo Nem.


"Nanti mbo minum vitamin ya, nanti saya kasih ,biar mbo sehat terus buat jaga Agreta!," Freya menawarkan suplemen untuk mbo Nem.


"Mbo pulang nanti aku yang anterin." Siska mengusulkan. Sedangkan Freya pulang bersama dengan suaminya.


  Keesokan harinya pagi-pagi mbo nem  sudah kembali ke rumah sakit. Freya sudah juga berada di rumah sakit untuk bertugas pasien nya sudah mengantri.tapi sebelumnya sempat melihat keadaan Agreta dari  jendela kaca. Sedangkan Siska datang ke rumah sakit setelah melayani suaminya Dean sebelum berangkat kerja.


   Di dalam ruangan yang bercat serba putih itu Agreta kembali membuka matanya, tatapannya kosong.ia merasa sendirian.


"Aku pasrah,aku tak kuat lagi."


Inilah kalimat yang Agreta ucapkan dalam hatinya. Dan seketika itu tubuhnya langsung mengejang.


Suster yang melihat kondisi Agreta langsung memencet tombol darurat untuk memanggil dokter jaga. Tiga orang dokter sekaligus langsung berdatangan dalam ruangan Agreta.


Siska dan mbo Nem memandang binggung melihat kesibukan dokter dan perawat yang sudah bolak-balik dari ruangan Agreta. Dengan tak sabaran Siska menghadang perawat yang baru saja keluar dari ruang Agreta.


"Ada apa suster dengan pasien Agreta?" Siska langsung bertanya.


"Maaf nona siapanya pasien?"


Suster balik balik bertanya.


"Saya sahabat dekatnya," ujar Siska.


"Maaf nona,biar nanti dokter yang akan menjelaskan keadaan pasien,Saya permisi," suster itu pun langsung pergi dengan langkah kaki terburu-buru seolah mengejar waktu. Siska frustasi dengan keadaan saat ini.


Dalam ruangan. tempat Agreta.


"Kita butuh darah sekarang, pasien sudah mengeluarkan terlalu banyak darah," kata salah satu dokter.

__ADS_1


"Baik dok.Saya segera ke bank darah,"


suster itu pun dengan langkah setengah berlari meninggalkan ruangan dan kembali membawa sekantong darah.


  Agreta mengalami pendarahan hebat.dokter berjuang menghentikan pendarahannya.


Haaaaa....


Tarikan nafas para dokter merasa lega karena berhasil menghentikan pendarahan pasiennya.tapi mereka tidak merasa begitu puas setelah nya.


"Suster kita harus memantau perkembangan pasien selama dua kali dua puluh empat jam pantau terus perkembangan pasien!," ujar dokter Gilang.


Setelah Agreta tenang dokter dan perawat kembali ketempat masing-masing.


"Dokter Gilang!," seru Siska memanggil nama sahabat nya  Dokter Gilang langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaannya!." tanya Siska dengan raut cemas si mbo pun ikut berdiri di samping Siska menunggu jawaban.


"Ska.....dia....dia... " dokter Gilang terdunduk tak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Dia kenapa Gilang..Ada apa?" tanya Siska memaksa.airmatanya sudah jatuh dari pelupuk matanya


"Agreta koma Ska!." kalimat pendek tapi mampu membuat tubuh siska dan si mbo yang mendengar jawaban itu langsung bergetar shock.


Tapi dalam hitungan detik wajah Siska berubah sangar menatap mbo Nem.si mbo terkejut melihat tatapan Siska.


"Non Siska ada apa?!" tanya mbo setelah di tatap seperti itu oleh Siska.


"Di mana suaminya, Patria,.apa dia belum datang juga?" tanya Siska dengan suara penuh emosi.


Si mbo hanya memberikan jawaban


"Mbo nggak bisa menghubungi tuan sampai sekarang."


"Pria brengsek,awas aja kalau ketemu, akan ku cakar wajahnya sampai hancur," ujar Siska penuh penekanan dalam setiap kata yang terucap.  Freya yang mendapatkan kabar tentang Agreta terpaku diam dalam ruangan nya. Freya pun menangis.


"Geta bertahan dan berjuang lah untuk sembuh, aku ada untuk kamu, jangan menyerah." Freya berkata dalam hatinya.


  Setelah kejadian itu Agreta segera di pindahkan keruang Iccu.hanya dokter dan perawat yang bertugas yang bisa masuk.sedangkan Siska dan mbo Nem hanya bisa melihat Agreta dari jendela. kaca.


Tentang Patria..

__ADS_1


 Flashback ON


     Setelah pertengkaran itu Patria pergi lagi meninggalkan rumah.di dalam mobilnya Patria menagis, berkali-kali memukul stir mobil bahkan tanpa sadar Patria memukul klakson mobilnya membuat pengendara lain yang berada  dekat dengan mobil Patria sewot karena terkejut.


    Patria berkendara dengan perasaan kalut.dia terus menyetir tanpa arah.di kepalanya sempat terngiang kata-kata Agreta


"Patri aku mencintaimu.,aku tidak pernah berselingkuh." kata-kata ini terus berputar di kepalanya.terakhir adalah ketika Patria mendengar rintihan rasa sakit oleh Agreta.


  Di sisi lain Patria ingin mempercayai bahwa Agreta tidak berselingkuh tapi di sisi lainnya Patria memiliki bukti perselingkuhan sang istri.Patria benar-benar dalam dilema.


  Tanpa sadar haru menjelang sore Patria sudah berkendara sampai di pinggiran kota Jakarta.Patria berhenti di tepi jalan.Dan disisi  jalan itu terdapat pematang sawah.sawah yang di tanami padi yang sudah mulai menguning.tanda sebentar lagi petani akan memasuki musim panen.


   Patria turun dari mobil dan berdiri di samping mobilnya.Patria menghirup udara sebanyak-banyaknya, seolah-olah baru saja hampir kehilangan nafas.Patria merasakan damai sejenak.


Dia duduk termenung di pinggiran jalan entah apa yang ada dalam pikirannya.


    Tak jauh dari tempat Patria ada seorang laki-laki tua sedang duduk dalam Gasebo kecilnya sambil menyeruput kopi yang baru diantarkan oleh istrinya.


   Pria tua itu terus memandang dan mengawasi Patria dari jauh.hatinya tersentuh setelah melihat gerakan tangan Patria yang sedang mengusap wajahnya seolah baru saja menangis.


Pria tua itu tanpa ragu menghampiri Patria.


"Den,.maaf mengganggu." ujarnya menyapa Patria yang kepalanya tertunduk. Patria mengangkat kepalanya mencari sumber suara itu.


"Ya pak," jawab Patria.


"Den...Ayo duduk di tempat saya saja di sana,jangan duduk di sini bahaya!," ajak pria itu. Patria pun setuju dengan usulan itu, dia masih betah berlama-lama di tempat itu.


   Setelah sampai di gasebo pria itu mempersilahkan Patria untuk duduk.


"Maaf den tempatnya sederhana," ujar pria itu.


"Sepertinya aden bukan orang sekitaran sini.dari penampilan dan mobil yang aden bawah," ujarnya lagi.


"Iya pak saya bukan orang sini, saya hanya mengendara asal setelah sadar saya sudah ada di tempat ini," jawab Patria menjelaskan.


"Sekali lagi maaf ya den,seperti nya aden lagi punya masalah ya?" tanya pria itu. "Oh iya kenalkan saya pak Mun," pak Mun memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya.


"Saya Patria pak," jawab Patria sambil menyambut uluran tangan pak Mun.


"Minum kopi Den, tapi kopi kampung ya," pak mun menawarkan kopi sambil menuangkan secangkir lagi untuk Patria. "Makasih pak jadi ngerepotin nih." Patria sedikit sungkan akan keramahan pak Mun. "Ngga kok,tuh ada pisang goreng temen ngopi-ngopi," ujar pak Mun sambil terkekeh. Patria ikut tersenyum melihat tingkah pria yang baru saja dikenalinya itu.

__ADS_1


Bersambung  


__ADS_2